Top 6 Emerging Trends in Medical Devices 1. Internet-of-things: According to MarketResearch.com, the healthcare IoT market is slated to be at $117 billion by 2020. As a disruptive technology, IoT facilitates real time capture of data through smart sensors and wearable devices, exchanges the captured information on Cloud and with BI/Analytical tools, analyzes the information streams much rapidly than conventional means. The massive use of embedded systems is ushering in a "connect everywhere - every time" culture along with parallel trends of home and industrial automation, and smart cities where GPS functionalities are weaved into every movement. The consequences are numerous: from remote monitoring to ATM-like machines which can dispense drugs after a check-up from providers thousands of miles away. 2. Increasing Use of BI and Analytics: Healthcare BI and analytics, a market projected to cross US$18.7 Billion by 2020, is undergoing a silent transformation as there is greater demand for tools and solutions which can plug the missing gap in visualizing real business challenges and solutions through existing healthcare data. According to a PwC survey, it was found that over 95% of CEOs in healthcare companies are looking for ways to harness data in a better way. Medical devices of tomorrow will be rendered incomplete if they cannot use historical data for predictive analysis and other data for solving existing challenges faced by providers. Tableau has risen to the fore as a very intuitive tool to visualize randomized data to see for patterns and anomalies. 3. Mobility: Increasing smartphone usage and dependence is fostering a condition where physicians and patients would require access to information on their mobile devices and tablets - the key focus is engagement. Many medical supply stores are focusing on delivering mobile healthcare solutions and apps which will continue to become more creative in future. In the long run, mobile devices in association with telemedicine, will facilitate complex operation procedures and medicine dispensing, allowing care providers to look after their patients from remote locations. The dispensation of 24-hour emergency care would become easier. 4. Increasing focus on security and surveillance: Considering the huge number of web-connected and Cloud-connected devices, secured access to data points would become a challenge in future. Medical devices should be equipped with affordable chips and sensors with ability to read biometric information, for instance, features which would allow greater security in access. 5. 3D printing: 3D printing technologies are increasingly becoming mainstream and even affordable. They have immense scope in medical devices industry as they can be used for everything from preclinical testing to new lab innovation (reducing verification time), improvised training and for sales demo. 6. Emergence of Multipurpose medical devices: Increasingly, medical devices will be expected to play multiple roles. For example, ambulance care units will have access to gadgets that combine defibrillators with suction kits, blood pressure cuff and pulse oximeters in one inflatable unit which can save time and space for administering emergency care. From a consumer point of view, the increasing availability of latest trends as discussed above would translate into less frequent visits to the doctor, transferring the responsibility of effective healthcare directly to patients (although this, by no means, would mean patients should not access their providers directly). Article Source: https://EzineArticles.com/expert/Loren_V_Vargas/2231850 Article Source: http://EzineArticles.com/9336750
Sosok orang tua sangatlah prinsip dalam ajaran Islam. Dalam sebuah riwayat, Nabi Saw bersabda,

”Didiklah anakmu, karena mereka akan menghadapi zaman yang bukan zamanmu.”

Dalam sabda lain yang muttafaq ‘alaih, Rasulullah juga menjelaskan

”Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang akan menjadi penentu, apakah si anak (nantinya) akan menjadi Yahudi, Nasrani, ataukah Majusi.”

Sampai di sini jelas bahwa sosok orang tua dipertaruhkan, karena peran mereka sangat besar dalam menentukan masa depan anak-anak mereka.

Al-Quran, setidaknya, menamsilkan empat macam tipe orang tua yang akan berpengaruh ikut menentukan cetak-biru (blue-print) anak-anak di kemudian hari.

Pertama, tipe (pasangan) Nuh dan istrinya. Pada tipe ini, sang ayah adalah seorang yang saleh, sedangkan sang ibu merupakan manusia jahat dan kafir.

Yang terjadi, sang anak lebih cenderung mengikuti sang ibu. Kan’an, sebagaimana kita tahu, justru berada di barisan orang-orang kafir (penentang nubuwwah Nuh) bersama ibunya.

Kedua, tipe (pasangan) Firaun dan istrinya. Berkebalikan dari tipe pertama, kali ini sang ayah yang kafir dan pendosa, sementara sang ibu sangat salehah dan mukminah.

Rupanya anak-anak Firaun lebih condong meneladani perilaku sang ayah, sehingga dari generasi ke generasi, raja-raja setelah Firaun tidak berbeda jauh akhlaknya dengan sang ayah: kafir dan menentang nubuwwah (kenabian).

Ketiga, tipe (pasangan) Ibrahim dan istrinya (baik Hajar maupun Sarah). Kali ini, baik sang ayah maupun sang ibu sama-sama saleh dan salehah, mukmin sejati, pembakti Allah paling utama.

Dus, bagi anak-anak mereka, mengikuti ayah ataupun ibu adalah sama saja. Walhasil, dari pasangan inilah lahir manusia-manusia mulia mutiara peradaban, Ishak, juga Ismail, yang garis darahnya merupakan muasal Sayyidul Anam, Rasulullah Saw.

Keempat, tipe (pasangan) Abu Lahab dan istrinya. Berkebalikan dengan tipe yang ketiga, kali ini baik si ayah maupun si ibu sama-sama kafir, durjana, dan pendosa.

Keduanya sama-sama pembenci dakwah menuju Allah, sehingga Allah mengutuk keduanya sebagai orang-orang yang celaka dan kelak akan masuk neraka bersama-sama.

Anak-anak mereka pun tak jauh berbeda sosoknya: menjadi penentang nubuwwah Rasulullah Saw, sehingga sangat tidak layak menjadi teladan tipologis bagi sosok orang tua di dunia manapun

Sumber: republika.co.id

4 Tipe Orang Tua Menurut Kisah al-Qur’an, Anda Termasuk Mana?

Sejarah Hari Toleransi Internasional 2019

Kronologi Terjadinya Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya - Peristiwa di Surabaya itu merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan Sekutu dengan bendera AFNEI di Jawa Timur. Khusus untuk Surabaya, Sekutu menempatkan Brigade 49, yaitu bagian dari divisi ke-23 Sekutu. Brigade 49 dipimpin Brigjen A.W.S. Mallaby yang mendarat 25 Oktober 1945.


Pada mulanya pemerintah Jawa Timur enggan menerima kedatangan Sekutu. Kemudian dibuat kesepakatan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo dengan Brigjen A.W.S. Mallaby. Kesepakatan itu adalah sebagai berikut:

Inggris berjanji tidak mengikutsertakan angkatan perang Belanda

menjalin kerja sama kedua pihak untuk menciptakan kemanan dan ketentraman

akan dibentuk kontrak biro

Inggris akan melucuti senjata Jepang


Dengan kesepakatan itu, Inggris diperkenankan memasuki kota Surabaya. Ternyata pihak Inggris ingkar janji. Itu terlihat dari penyerbuan penjara Kalisosok 26 Oktober 1945. Inggris menduduki pangkalan udara Tanjung Perak tanggal 27 Oktober 1945, serta menyebarkan pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjatasenjata mereka.


Kontak senjata antara Sekutu dan rakyat Surabaya sudah terjadi sejak 27 Oktober 1945. Karena terjadi kontak senjata yang dikhawatirkan meluas, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan sebagai berikut:

Baca Juga:30+ Kata Ucapan Selamat Hari Pahlawan 2019


1.Surat-surat selebaran/pamflet dianggap tidak berlaku

2.Serikat mengakui keberadaan TKR dan Polisi Indonesia

3.Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh Serikat, sedangkan kampk-amp tawanan dijaga bersama-sama Serikat dan TKR

4.Tanjung Perak dijaga bersama TKR, Serikat, dan Polisi Indonesia


Walaupun sudah terjadi perundingan, akan tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya tetap terjadi bentrok senjata antara Serikat dan rakyat Surabaya yang bersenjata. Pertempuran seru terjadi di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Gedung itu dikepung oleh para pemuda yang menuntut agar pasukan A.W.S. Mallaby menyerah. Tuntutan para pemuda itu ditolak pasukan Serikat.

Karena begitu gencarnya pertempuran di sana, akibatnya terjadi kejadian fatal, yaitu meninggalnya A.W.S. Mallany tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa ini terjadi tanggal 30 Oktober 1945.

Dengan meninggalnya A.W.S. Mallaby, pihak Inggris memperingatkan rakyat Surabaya dan meminta pertanggungjawaban. Mereka mengancam agar rakyat Surabaya menyerah dan akan dihancurkan apabila tidak mengindahkan seruan itu. Ultimatum Inggris bermakna ancaman balas dendam atas pembunuhan A.W.S. Mallaby disertai perintah melapor ke tempat-tempat yang ditentukan.

Di samping itu, pemuda bersenjata harus menyerahkan senjatanya. Ultimatum Inggris itu secara resmi ditolak rakyat Surabaya melalui pernyataan Gubernur Soerjo. Karena penolakan itu, pertempuran tidak terhindarkan lagi, maka pecahlah pertempuran pada tanggal 10 November 1945.

Sekutu mengerahkan pasukan infantri dengan senjata-senjata berat. Peristiwa heroik ini berlangsung hampir tiga minggu. Dalam pertempuran tersebut, melalui siaran radio, Bung Tomo membakar semangat arek-arek Suroboyo.

Pertempuran yang memakan korban banyak dari pihak bangsa Indonesia ini diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Peringatan itu merupakan komitmen bangsa Indonesia yang berupa penghargaan terhadap kepahlawanan rakyat Surabaya sekaligus mencerminkan tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia.

Kronologi Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Sejarah Lahirnya Sumpah Pemuda Beserta Rumusan Kongres Sumpah Pemuda


Mengenal sosok KH.Hasyim Asy'ari salah satu ulama terkemuka di Indonesia ini tak lengkap rasanya bila tidak tahu karya atau kitab-kitab karangan beliau. Sebelum mengetahui apa saja kitab-kitab beliau yang dikarang semasa hidupnya mari kita sedikit mengenal lebih dekat KH.Hasyim Asy'ari. Beliau memiliki nama lengkap Muhamad Hasyim Asy'ari ibn Abd al-Wahid ibn Abd al-Halim (Pangeran Benawa) ibn Abdur ar-Rohman (Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya) ibn Abdullah ibn Abdul Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin alias Sunan Giri. Dengan demikian, KH.Hasyim Asy'ari masih keturunan Sunan Giri.

KH.Hasyim Asy'ari lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzulqa'dah 1287 H; bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah jombang, Jawa Timur. KH.Hasyim Asy'ari sebenarnya bukanlah nama aslinya, melainkan nama panggilan. Kata "asy'ari" di belakang namanya merupakan nama ayahnya. Adapun nama asli yang diberikan orang tuanya kepadanya adalah Muhamad Hasyim. Sementara, KH.Hasyim Asy'ari adalah panggilan untuknya setelah menjadi ulama besar.

KH.Hasyim Asy'ari merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara, ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, KH.Hasyim Asy'ari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Berikut karya-karya atau kitab karangan KH.Hasyim Asy'ari:

1. At-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Kitab ini selesai ditulis pada Senin, 20 Syawal 1260 H dan diterbitkan oleh Muktabah al-Turats al-Islami, Pesantren Tebuireng. Berisikan pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta bahaya memutus tali persaudaraan. Atau tentang tata cara menjalin silahtuhrahmi,bahaya dan pentingnya interaksi sosial. Kitab ini berjumlah 17 halaman.

2. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar beliau tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU. Kitab ini memiliki ketebalan 10 halaman.Berisikan juga ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama dan dasar-dasar pembentukannya disertai beberapa hadist serta fatwa-fatwa K.H Hasyim Asy'ari tentang berbagai persoalan.Pernah diterbitkan oleh Menara Kudus pada tahun 1971 M dengan judul, Ihya' Amal al-Fuadhala' fial-Qannun al-Asasy li Jam'iyah Nahdlatul Ulama'.

3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal tentunya memiliki makna khusus. Kitab ini merupakan sebagai pegangan untuk memperkuat pegangan atas 4 mazhab. Adapun isinya adalah tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat mazhab. Serta didalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi pengendalian hukum (istinbat al-ahkam), metode ijtihad, serta respons atas pendapat Ibn Hazm tentang taklid.

4. Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat edisi 15 Agustus 1959. Kitab ini juga berisi fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada al-Qur'an dan hadist serta lainnya.

5. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Hidup ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.

6. An-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin. Biografi dan akhlak baginda Nabi Muhammad SAW ada di kitab ini. Kiai Hasyim juga menyarankan agar umat Islam senantiasa mencintai baginda nabi dengan mengirimkan shalawat dan tentu saja mengikuti ajarannya. Cahaya yang jelas menerangkan cinta kepada pemimpin para rasul.Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, menaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad Saw. Disamping itu juga menerangkan biografi singkat Nabi Muhammad Saw.

7. Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Merupakan kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.

8. Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi. Kitab ini merupakan resume dari kitab Adab al-Mu’allim karya Syaikh Muhamad bin Sahnun, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariqat al-Ta’allum karya Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji dan Tadzkirat al-Syaml wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim karya Syaikh Ibnu Jamaah.

9. Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadits al-Mauta wa Syuruth al-Sa’ah wa Bayani Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Kitab ini seakan menemukan relevansinya khususnya pada perkembangan mutaakhir lantaran mampu memberikan penegasan antara sunnah dan bid’ah. Kondisi akhir jaman dengan problematikan yang mengi-ringinya juga disampaikan oleh hadratus syaikh.

10.Ziyadat Ta'liqat a'ala Mandzumah asy-Syekh 'Abdullah bin Yasin al-Fasuruani.
Kitab ini berisi polemik antara K.H Hasyim Asy'ari dan Syekh Abdullah bin Yasir Pasuruan.Risalah ini memiliki 144 halaman.

11.Dhau'ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah.
Kitab ini berisi tentang cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah.Seperti halnya tata cara nikah secra syar'i, hukum, syarat, rukun dan hak-hak perkawinan. Kitab ini biasanya dicetak bersama kitab Miftah al-Falah karya Kiai Ishamuddin Hadziq.Sehingga apabila digabungkan tebalnya menjadi 75 halaman.

12.Ad-Durrah al-Muntasyirah fi Masail Tis'a 'Asyarah.(Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah). Berisi tentang wali dan tarekat dalam bentuk tanya jawab sebanyak 19 masalah. Pada tahun 1970-an diterjemahkan oleh Dr. K.H M.Yusuf Hasyim, Yang kemudian diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus.

13.Ar-Risalah fi al-'Aqaid.
Kitab ini berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya yang bekerja sama dengan percetakan Mustafa al-Babi al-Halabi Mesir pada tahun 1356 H./1937M.

14.Al-Risalah fi at-Tasawwuf.Kitab ini menerangkan tentang tasawuf, makrifat, syariat ,thariqah, dan haqiqah. Ditulis dengan bahasa Jawa dan dicetak bersama kitab Ar-Risalah fi al-Aqaid

Inilah sosok seorang pendiri NU yang masih exis sampai saat ini.Karya-karya beliau menunjukan bahwa beliau K.H Hasyim Asy'ari kiai produktif yang memiliki sebuah karya tulisan dan memiliki kedalaman ilmu.Semoga kita kalangan NU khususnya mendapatkan berkah darinya.Amin


Dikutip dari Referensi Buku Biografi Ulama Nusantara Oleh Ustadz Rizem Aizid

Mengenal 14 Kitab Karangan KH Hasyim Asy'ari Sosok Pendiri NU


Beliau, Maimoen bin Zubair bin Dahlan bin Warjo, dilahirkan di sebuah desa bernama Karangmangu, kecamatan Sarang, kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya pada Kamis Legi, 28 Sya'ban tahun 1348 H, bertepatan pada bulan Oktober 1928. Tahun ketika pemuda-pemudi Indonesia bersumpah akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Beliau diasuh di bawah bimbingan ayah dan kakeknya dari jalur ibu, yakni Kiai Ahmad bin Syuaib bin Abdul Razzaq.
Pada waktu kehamilan sang ibunda, kakeknya yang bernama Syuaib sowan (berkunjung) kepada KH.Faqih Maskumambang Gresik yang merupakan murid dari Syaikh Mahfud at-Tarmasi. Beliau sowan untuk minta doa dan bertabaruk agar kelak jabang bayi (cucunya) menjadi orang yang tafaqquh fid diin, ahli tafsir, serta ahli dalam ilmu-ilmu agama.
Tumbuh di tengah-tengah lingkungan keluarga pesantren salafiyah, beliau sudah akrab dengan ilmu agama. Sebelum menginjak masa remaja, beliau KH Maimun Zubair diasuh langsung orang tuanya (ayahnya sendiri) untuk menghafal dan memahami berbagaibilmu-ilmu alat seperti Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam ilmu syara' yang lain. Pada saat umur/usia kurang lebih 17 tahun, Mbah Kh Maimun Zubair sudah mampu menghafal dari berbagai kitab-kitab nadzam, diantaranya Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Mali, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauraq serta Rahabiyyah fil Faroidl. Seiring dengan kecerdasannya/kepandainya dalam mempelajari kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'i, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Pada awal masa kemerdekaan, beliau menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), KH. Mahrus Ali, juga KH. Marzuqi Dahlan. Di Kediri, beliau juga menimba ilmu kepada Kiai Ma'ruf Kedunglo yang masyhur sebagai Kiai yang ahli riyadhah. Ketika mondok di Lirboyo, beliau juga bertirakat seperti menyedikitkan makan dan tidur, serta bersungguh-sungguh belajar. Beliau mendapat ijazah dzikir dari Kiai Ma'ruf Kedunglo serta berkhidmah kepada Mbah Manaf selama mondok. Kurang lebih lima tahun beliau menimba ilmu di Lirboyo.

Menginjak usia 21 tahun, beliau mengembara ke Mekah. Perjalanannya ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai Ahmad bin Syu'aib. Tak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya,

Kepada al-muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, beliau mengaji kitab Al-Manzhumatil Baiquniibn Malik, juga Syarh Thaliatul Anwar. Beliau mengaji kepada Sayyid Amin Al-Quthbi kitab Riyadhus Shalihin. Kepada Syaikh Abdul Qadir al-Mandily mengaji Syrh Waraqat. Beliau juga masuk ke Madrasah Darul Ulum Mekah, belajar kepada Syaikh Imron Rosyadi tentang politik dan budaya, serta masih banyak lagi guru beliau di sana.

Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih tetap ngangsu kaweruh. Beliau meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada para ulama besar Tanah Jawa saat itu. Di antara yang bisa disebut namanya ialah Kiai Zubair (ayah beliau), KH. Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mertua beliau), KH. Ma'shum Lasem, KH Alai Ma'shum Krapyak Yogyakarta, KH. Bisri Musthafa Rembang, KH. Abdul Wahab Hasbullah, Kh.Mushlih Mranggen, KH. Abbas Djamil Buntet Cirebon, Kiai Ihsan Jampes Kediri, KH. Abul Fadhol dan KH Abul Khair Senori, KH. Wahib Wahab, KH. Bisri Syansuri, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, Habib Ali bin Ahmad Alattas Pekalongan, KH. Thahir Rahili Jakarta, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Chudlari Tegalrejo, juga KHR. Asnawi Kudus.

Beliau menikah pertama kali dengan Ny. Fahmiyah binti Kiai Baidlawi Lasem, dikaruniai tujuh anak, empat di antaranya wafat saat masih kecil. Tiga lainnya ialah Abdullah Ubab, Muhamad Najih, dan Shabihah. Sepeninggal istri pertama, beliau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Nu. Masthi'ah binti Kiai Idris Cepu Blora, dianugerahi enam putra dan satu putri, yakni Majid Kamil, Abdul Ghafur, Abdur Rauf, Muhamad Wafi, Yasin, Idrar, dan Radhiyyah.

Pada tahun 1964/1386H, beliau mendirikan mushala untuk mengajar masyarakat desa Sarang. Selanjutnya pada tahun 1388/196M beliau membangun kamar di samping mushala untuk orang yang menghendaki mondok. Pada 1970, berduyun-duyun santri dari berbagai daerah menghendaki belajar, sehingga berdirilah pondok pesantren yang berlokasi di sisi kediaman beliau, yang kini dikenal dengan nama Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri Al-Anwar yang cukup pesat, menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971, mushala direnovasi dengan menambahkan bangunan di atasnya yang kemudian disebut dengan Khash Darussalam. Juga dibangun sebuah kantor yang berada di sebelah selatan ndalem beliau.

Pada tahun 1973 dibangun Khash Darunna'im tahun 1975 Khash Nurul Huda, tahun 1980 Khash AF, dan masih banyak pembangunan fisik yang lain. Berakhir, dibangunnya gedung serbaguna Al-Anwar berlantai lima tahun 2004, juga pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid. Samapai sekarang, sudah puluhan ribu santri dan alumni yang merasakan keluasan dan kedalaman ilmu serta asuhan beliau.

Kegiatan sehari-hari beliau ialah mengajar santri dengan membacakan kitab-kitab seperti Fathul Wahhab, Syarh Mahally 'alal Minhaj, Jam'ul Jawami', Ihya' 'Ulumiddin, 'Uqudul Juman, Al-Asybah wan Nazhair fil Fiqh lis Suyuti, Syarh Ibn Aqil, Lubbul Ushul lil Imam Zakariya al-Anshari, dan Mughni Labib. Khusus pada bulan Ramadhan, beliau mengaji kitab hadist seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha Imam Malik, Riyadhus Shalihin, atau Al- Adzkarun Nawawi. Untuk hari Ahad, beliau mengajar masyarakat Sarang dan sekitarnya kitab Tafsir Jalalain yang dihadiri tujuh ribuan orang.

Baca Juga:18 Macam Bentuk Kisah Nyata Kesaktian Karomah Yang Dimiliki Para Wali Allah Swt Semasa Hidupnya

Sumber Buku Oase Jiwa 2 yang merangkum pengajian-pengajian Syaikhuna KH. Maimun Zubair Penulis Kanthongumur

Sekilas Profil Dan Perjalanan Syaikhuna KH Maimun Zubair Menimba Ilmu Lengkap Dengan Guru-Guru Beliau


Sekilas contoh bagaimana penyebaran Islam di Tanah Jawa yang di ambil dari buku Oase Jiwa 2 yang ditulis oleh kanthongumur dari rangkuman pengajian syaikhuna  KH. Maimoen Zubair. Berikut kutipan pengajian KH. Maimoen Zubair tentang dakwah Islam di Tanah Jawa,

Saya pernah mendongeng di Yaman. Pernah ada delegasi dari Indonesia ke Yaman, saya ikut dompleng naik pesawat kepresidenan. Selama hidup, ya saat iru pertama kali saya merasakan naik pesawat presiden. Saya duduk di bagian depan, lha wong Kiai’. Ya Allah, kursinya kok empuk, wangi, ada kamarnya pula, padahal kalau ingat pesawat waktu naik haji ini lutut sampai dipepet-pepetkan. Ya Allah. Penumpangnya saat itu para pejabat, hanya saya yang tidak punya jabata. Setelah turun , saya lihat daftar di situ nama saya pakai ‘Syaikh Maimoen’, lhoh dianggap ‘syaikh’ saya. Kemudian para pejabat itu menginap di (hotel) Hilton, sedangkan saya diajak menginap di isatana Negara.

Ternyata semua pejabat itu ada acara masing-masing, ada perundingan pembukaan penerbangan antara Garuda Indonesia dengan pemerintah Yaman, ada lain-lainya. Saya sendiri tidak tahu akan diundang acara apa, saya bilang saya ininbukan pejabat, bukan pegawai kenegaraan. Namun salah satu dewan pemerintahan disana meminta saya untuk menghadiri suatu acara. Disitu saya duduk disamping ketua lembaga tersebut. Beliau berpidato panjang lebar, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lalu kesempatan terahir pidato diserahkan kepada saya. Maka saya pun mendongeng dengan bahasa Arab tentang perjalanan Ibnu Batutah.

Ibnu Batutah itu hidup di tahun 1300-an masehi, pada saat itu tidak ada ulama di dunia ini sebesar beliau. Saat itu Ibnu Batutah bertekad merantau sampai ke wilayah Timur Jauh. Namun tidak sampai, ia hanya bisa mencapai Aceh yang kala itu sudah ada kerajaan Islam. Di situlah Ibnu Batutah sangat dihormati, disuguhi makanan daerah kala itu berupa manisan asam. Bagi orang Arab rasa manisan asem yang merupakan campuran antara manis, tahu kecut, tapi tidak tahu manis campur kecut. Itu seperti halnya orang desa dahulu, yang hanya tahu kopi pahit dan gula manis, belum tahu campuran kopi dan gula ternyata enak.

Orang Arab hanya kenal istilah chomid untuk kecut dan khulwun untuk manis, tidak ada istilah manis dan kecut. Kalau kita orang jawa punya istilahnya, kita sebut ‘seger’. Nah, Ibnu Batutah kagum dengan rasa manis-kecut itu sehingga bertanya, “ini makanan apa ?” Dijawab oleh orang Aceh, “Ini tamar (korma).” Ibnu Batutah heran, sebab kurma yang ia kenal hanya manis, tidak ada campuran kecut. Tentu saja yang dimaksud bukan korma seperti di Arab, melainkan disebut dengan ‘ Korma Jawa’. Coba anda Lihat di kamus Muhith atau kamus Munjid, disana asam di sebut dengan tamar juga. Tapi bukan tamar Arab, melainkan tamar Jawa. Adanya tamar ini merupakan lambang semaraknya agama Islam. Allah Ta’ala telah berfirman,

“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allahh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit” (Ibrahim:24)

Pohon yang kokoh di dalam ayat ini ialah pohon tamar. Dengan adanya makanan seripa tamar ini. Ibnu Batutah merasa bahwa Islam akan semarak di kepulauan Jawa, meskipun bukan tamar Arab melainkan tamar Jawa.

Saya pernah mengaji, tidak main-main, saya mengaji di Mekah kepada Syaikh Abdullah bin Nuh. Guru saya itu mengajari bahwa Islam yang paling dikagumi ialah Islamnya bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan pada penafsiran beliau terhadap hadist Rasulullah,

“Yang paling mengagumkan dari keimanan umatku adalah masa-masa akhir umatku. Mereka tidak bertemu denagnku dan tidak beretemu para sahabatku.”

Semisal Mesir atau daerah-daerah bekas kekuasaan Uni Soviet Seperti Bukhara, Turkistan, Uzbekistan. Agama Islam mulai didakwahkan oleh Nabi Muhamad pada tahun 611 M, kemudian beliau hijrah pada 623 M, lalu wafat pada 633 M. Setelah itu hingga tahun 750-an masehi adalah masa-masa perkembangan Islam di masa sahabat, Pada masa itu tentu ramai persebaran Islam memasuki negeri-negeri lain.

Sedangkan Indonesia ini ajaib, seperti kata guru saya. Pada awal 1400-an belum ada masjid besar di Tanah Jawa ini. Pada 1440 baru muncul Walisongo, berarti berjarak 700 tahun sejak wafatnya Baginda Nabi. Berarti sudah bukan zaman sahabat, bukan zaman para ulama mujtahid, bukan zaman Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili. Pada zaman itu Baghdad yang pernah menjadi pusat perhatian Islam sudah hancur, sudah dihancurkan oleh keluarga Jenghis Khan, kaisar yang tidak mengenal agama samawi. Bangsa Arab saat itu bertekuk lutut kepda Huaghu Khan.

Begitulah ajaibnya. Pada 1480 M, Kanjeng Sunan Kalijaga meresmikan masjid besar pertama di Demak Bintara. Cara mengembangkan Islampun berbeda, lain dari yang lain. Misalnya di Kudus yang pada saat itu masyarakat masih banyak yang menganut agama Hindu-Budha. Penganut Hindu menganggap sapi sebagai hewan yang suci. Sebagaimana sekarang kalau kita lihat di India , jika ada sopir menabrak sapi, dia akan mendapat masalah. Sapi dianggap binatang yang suci oleh umat Hindu, sedangkan kerbau tidak. Maka agar dakwah Islam tetap Kondusif, aman dan tenteran, kaum muslim tidak usah menyembelih sapi ketika Qurban, cukup menyembelih kerbau saja.

Beginilah contoh Islam masuk ke Tanah Jawa. Tidak di zaman sahabat, tidak di zaman tabi’in, tidak di zaman tabi’ut tabi’inm tidak di zaman keemasan Islam, namun kini menjadi negeri dengan penduduk mayoritas Islam.

Khususnya di Jawa. Perlu di ketahui bahwa istilah Jawa Tenggara. Maka ketika saya masih kecil ada istilah Jawa Almari dan Jawa Almariki, istilah Jawa Almari artinya menunjukan Jawa di Pulau Jawa ini, 'mriki' artinya 'disini' Ketika Islam sudah masuk ke wilayah semenanjung Samudera Pasai di Aceh, masih belum bisa menembus Tanah Jawa, sebab dihalangi oleh keberadaan ilmu hitam wilayah pegunungan Kerinci. Itu di sebelah barat, sedangkan diwilayah timur masih terhalangi oleh adanya kerajaan-kerajaan Sriwijaya yang dipimpin Brawijaya.

Lalu bagaimana Islam masuk ke Tanah Jawa? Yakni dengan tidak melawan adat masyarakat secara langsung. Dakwah Islam tidak lepas dari perubahan zaman dan tempat. Caranya pun berbeda-beda, disesuaikan dengan wilayah yang didatangi dan waktu kedatangannya.

Islam masuk ke Tanah Jawa ini tidak bisa melalui peperangan , kalau melalui perang justru bisa jadi islam tidak diterima. Masuknya Islam di Tanah Jawa ini jangan sampai mengganggu keberadaan budaya Jawa. Misal, orang Jawa itu pada saat lebaran punya adat sungkeman, mengecup lutut ibu dan bapaknya. Sedangkan orang Arab pada saat hari raya terbiasa berpelukan, bahkan sampai memegang jenggot ayah atau kakeknya sendiri. Jadi kalau Islam ,asuk di tanah Jawa sambil melarang adat sungkeman, ya bisa habis Islam ini. Atau menganjurkan untuk pegang jenggot orang tua, ya dianggap kurang ajar Islam ini.

Dakwah Islam di Tanah Jawa Yang Sudah Di Rasa Ibnu Batutah Dan Cara Walisongo Berdakwah

Older Posts Home