Sejarah Hari Toleransi Internasional 2019

Kronologi Terjadinya Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya - Peristiwa di Surabaya itu merupakan rangkaian peristiwa yang dimulai sejak kedatangan pasukan Sekutu dengan bendera AFNEI di Jawa Timur. Khusus untuk Surabaya, Sekutu menempatkan Brigade 49, yaitu bagian dari divisi ke-23 Sekutu. Brigade 49 dipimpin Brigjen A.W.S. Mallaby yang mendarat 25 Oktober 1945.


Pada mulanya pemerintah Jawa Timur enggan menerima kedatangan Sekutu. Kemudian dibuat kesepakatan antara Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo dengan Brigjen A.W.S. Mallaby. Kesepakatan itu adalah sebagai berikut:

Inggris berjanji tidak mengikutsertakan angkatan perang Belanda

menjalin kerja sama kedua pihak untuk menciptakan kemanan dan ketentraman

akan dibentuk kontrak biro

Inggris akan melucuti senjata Jepang


Dengan kesepakatan itu, Inggris diperkenankan memasuki kota Surabaya. Ternyata pihak Inggris ingkar janji. Itu terlihat dari penyerbuan penjara Kalisosok 26 Oktober 1945. Inggris menduduki pangkalan udara Tanjung Perak tanggal 27 Oktober 1945, serta menyebarkan pamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya dan Jawa Timur menyerahkan senjatasenjata mereka.


Kontak senjata antara Sekutu dan rakyat Surabaya sudah terjadi sejak 27 Oktober 1945. Karena terjadi kontak senjata yang dikhawatirkan meluas, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta mengadakan perundingan. Kedua belah pihak merumuskan hasil perundingan sebagai berikut:

Baca Juga:30+ Kata Ucapan Selamat Hari Pahlawan 2019


1.Surat-surat selebaran/pamflet dianggap tidak berlaku

2.Serikat mengakui keberadaan TKR dan Polisi Indonesia

3.Seluruh kota Surabaya tidak lagi dijaga oleh Serikat, sedangkan kampk-amp tawanan dijaga bersama-sama Serikat dan TKR

4.Tanjung Perak dijaga bersama TKR, Serikat, dan Polisi Indonesia


Walaupun sudah terjadi perundingan, akan tetapi di berbagai tempat di kota Surabaya tetap terjadi bentrok senjata antara Serikat dan rakyat Surabaya yang bersenjata. Pertempuran seru terjadi di Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah. Gedung itu dikepung oleh para pemuda yang menuntut agar pasukan A.W.S. Mallaby menyerah. Tuntutan para pemuda itu ditolak pasukan Serikat.

Karena begitu gencarnya pertempuran di sana, akibatnya terjadi kejadian fatal, yaitu meninggalnya A.W.S. Mallany tertusuk bayonet dan bambu runcing. Peristiwa ini terjadi tanggal 30 Oktober 1945.

Dengan meninggalnya A.W.S. Mallaby, pihak Inggris memperingatkan rakyat Surabaya dan meminta pertanggungjawaban. Mereka mengancam agar rakyat Surabaya menyerah dan akan dihancurkan apabila tidak mengindahkan seruan itu. Ultimatum Inggris bermakna ancaman balas dendam atas pembunuhan A.W.S. Mallaby disertai perintah melapor ke tempat-tempat yang ditentukan.

Di samping itu, pemuda bersenjata harus menyerahkan senjatanya. Ultimatum Inggris itu secara resmi ditolak rakyat Surabaya melalui pernyataan Gubernur Soerjo. Karena penolakan itu, pertempuran tidak terhindarkan lagi, maka pecahlah pertempuran pada tanggal 10 November 1945.

Sekutu mengerahkan pasukan infantri dengan senjata-senjata berat. Peristiwa heroik ini berlangsung hampir tiga minggu. Dalam pertempuran tersebut, melalui siaran radio, Bung Tomo membakar semangat arek-arek Suroboyo.

Pertempuran yang memakan korban banyak dari pihak bangsa Indonesia ini diperingati sebagai Hari Pahlawan setiap tanggal 10 November. Peringatan itu merupakan komitmen bangsa Indonesia yang berupa penghargaan terhadap kepahlawanan rakyat Surabaya sekaligus mencerminkan tekad perjuangan seluruh bangsa Indonesia.

Kronologi Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya

Sejarah Lahirnya Sumpah Pemuda Beserta Rumusan Kongres Sumpah Pemuda


Mengenal sosok KH.Hasyim Asy'ari salah satu ulama terkemuka di Indonesia ini tak lengkap rasanya bila tidak tahu karya atau kitab-kitab karangan beliau. Sebelum mengetahui apa saja kitab-kitab beliau yang dikarang semasa hidupnya mari kita sedikit mengenal lebih dekat KH.Hasyim Asy'ari. Beliau memiliki nama lengkap Muhamad Hasyim Asy'ari ibn Abd al-Wahid ibn Abd al-Halim (Pangeran Benawa) ibn Abdur ar-Rohman (Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya) ibn Abdullah ibn Abdul Aziz ibn Abd al-Fatih ibn Maulana Ishaq dari Raden Ainul Yaqin alias Sunan Giri. Dengan demikian, KH.Hasyim Asy'ari masih keturunan Sunan Giri.

KH.Hasyim Asy'ari lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzulqa'dah 1287 H; bertepatan dengan 14 Februari 1871 M. Ia lahir di Gedang, sebuah desa di daerah jombang, Jawa Timur. KH.Hasyim Asy'ari sebenarnya bukanlah nama aslinya, melainkan nama panggilan. Kata "asy'ari" di belakang namanya merupakan nama ayahnya. Adapun nama asli yang diberikan orang tuanya kepadanya adalah Muhamad Hasyim. Sementara, KH.Hasyim Asy'ari adalah panggilan untuknya setelah menjadi ulama besar.

KH.Hasyim Asy'ari merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara, ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, KH.Hasyim Asy'ari merupakan keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir (Sultan Pajang).

Berikut karya-karya atau kitab karangan KH.Hasyim Asy'ari:

1. At-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Kitab ini selesai ditulis pada Senin, 20 Syawal 1260 H dan diterbitkan oleh Muktabah al-Turats al-Islami, Pesantren Tebuireng. Berisikan pentingnya membangun persaudaraan di tengah perbedaan serta bahaya memutus tali persaudaraan. Atau tentang tata cara menjalin silahtuhrahmi,bahaya dan pentingnya interaksi sosial. Kitab ini berjumlah 17 halaman.

2. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar beliau tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU. Kitab ini memiliki ketebalan 10 halaman.Berisikan juga ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan Nahdlatul Ulama dan dasar-dasar pembentukannya disertai beberapa hadist serta fatwa-fatwa K.H Hasyim Asy'ari tentang berbagai persoalan.Pernah diterbitkan oleh Menara Kudus pada tahun 1971 M dengan judul, Ihya' Amal al-Fuadhala' fial-Qannun al-Asasy li Jam'iyah Nahdlatul Ulama'.

3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal tentunya memiliki makna khusus. Kitab ini merupakan sebagai pegangan untuk memperkuat pegangan atas 4 mazhab. Adapun isinya adalah tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat mazhab. Serta didalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi pengendalian hukum (istinbat al-ahkam), metode ijtihad, serta respons atas pendapat Ibn Hazm tentang taklid.

4. Mawaidz. Adalah kitab yang bisa menjadi solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat. Saat Kongres NU XI tahun 1935 di Bandung, kitab ini pernah diterbitkan secara massal. Demikian juga Prof Buya Hamka harus menterjemah kitab ini untuk diterbitkan di majalah Panji Masyarakat edisi 15 Agustus 1959. Kitab ini juga berisi fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada al-Qur'an dan hadist serta lainnya.

5. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Hidup ini tak akan lepas dari rintangan dan tantangan. Hanya pribadi yang tangguh serta memiliki sosok yang kukuh dalam memegang prinsiplah yang akan lulus sebagai pememang. Kitab ini berisikan 40 hadits pilihan yang seharusnya menjadi pedoman bagi warga NU.

6. An-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin. Biografi dan akhlak baginda Nabi Muhammad SAW ada di kitab ini. Kiai Hasyim juga menyarankan agar umat Islam senantiasa mencintai baginda nabi dengan mengirimkan shalawat dan tentu saja mengikuti ajarannya. Cahaya yang jelas menerangkan cinta kepada pemimpin para rasul.Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, menaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad Saw. Disamping itu juga menerangkan biografi singkat Nabi Muhammad Saw.

7. Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Merupakan kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulidur rasul.

8. Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi. Kitab ini merupakan resume dari kitab Adab al-Mu’allim karya Syaikh Muhamad bin Sahnun, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariqat al-Ta’allum karya Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji dan Tadzkirat al-Syaml wa al-Mutakallim fi Adab al-Alim wa al-Muta’allim karya Syaikh Ibnu Jamaah.

9. Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadits al-Mauta wa Syuruth al-Sa’ah wa Bayani Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Kitab ini seakan menemukan relevansinya khususnya pada perkembangan mutaakhir lantaran mampu memberikan penegasan antara sunnah dan bid’ah. Kondisi akhir jaman dengan problematikan yang mengi-ringinya juga disampaikan oleh hadratus syaikh.

10.Ziyadat Ta'liqat a'ala Mandzumah asy-Syekh 'Abdullah bin Yasin al-Fasuruani.
Kitab ini berisi polemik antara K.H Hasyim Asy'ari dan Syekh Abdullah bin Yasir Pasuruan.Risalah ini memiliki 144 halaman.

11.Dhau'ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah.
Kitab ini berisi tentang cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah.Seperti halnya tata cara nikah secra syar'i, hukum, syarat, rukun dan hak-hak perkawinan. Kitab ini biasanya dicetak bersama kitab Miftah al-Falah karya Kiai Ishamuddin Hadziq.Sehingga apabila digabungkan tebalnya menjadi 75 halaman.

12.Ad-Durrah al-Muntasyirah fi Masail Tis'a 'Asyarah.(Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah). Berisi tentang wali dan tarekat dalam bentuk tanya jawab sebanyak 19 masalah. Pada tahun 1970-an diterjemahkan oleh Dr. K.H M.Yusuf Hasyim, Yang kemudian diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus.

13.Ar-Risalah fi al-'Aqaid.
Kitab ini berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya yang bekerja sama dengan percetakan Mustafa al-Babi al-Halabi Mesir pada tahun 1356 H./1937M.

14.Al-Risalah fi at-Tasawwuf.Kitab ini menerangkan tentang tasawuf, makrifat, syariat ,thariqah, dan haqiqah. Ditulis dengan bahasa Jawa dan dicetak bersama kitab Ar-Risalah fi al-Aqaid

Inilah sosok seorang pendiri NU yang masih exis sampai saat ini.Karya-karya beliau menunjukan bahwa beliau K.H Hasyim Asy'ari kiai produktif yang memiliki sebuah karya tulisan dan memiliki kedalaman ilmu.Semoga kita kalangan NU khususnya mendapatkan berkah darinya.Amin


Dikutip dari Referensi Buku Biografi Ulama Nusantara Oleh Ustadz Rizem Aizid

Mengenal 14 Kitab Karangan KH Hasyim Asy'ari Sosok Pendiri NU


Beliau, Maimoen bin Zubair bin Dahlan bin Warjo, dilahirkan di sebuah desa bernama Karangmangu, kecamatan Sarang, kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya pada Kamis Legi, 28 Sya'ban tahun 1348 H, bertepatan pada bulan Oktober 1928. Tahun ketika pemuda-pemudi Indonesia bersumpah akan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Beliau diasuh di bawah bimbingan ayah dan kakeknya dari jalur ibu, yakni Kiai Ahmad bin Syuaib bin Abdul Razzaq.
Pada waktu kehamilan sang ibunda, kakeknya yang bernama Syuaib sowan (berkunjung) kepada KH.Faqih Maskumambang Gresik yang merupakan murid dari Syaikh Mahfud at-Tarmasi. Beliau sowan untuk minta doa dan bertabaruk agar kelak jabang bayi (cucunya) menjadi orang yang tafaqquh fid diin, ahli tafsir, serta ahli dalam ilmu-ilmu agama.
Tumbuh di tengah-tengah lingkungan keluarga pesantren salafiyah, beliau sudah akrab dengan ilmu agama. Sebelum menginjak masa remaja, beliau KH Maimun Zubair diasuh langsung orang tuanya (ayahnya sendiri) untuk menghafal dan memahami berbagaibilmu-ilmu alat seperti Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam ilmu syara' yang lain. Pada saat umur/usia kurang lebih 17 tahun, Mbah Kh Maimun Zubair sudah mampu menghafal dari berbagai kitab-kitab nadzam, diantaranya Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Mali, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauraq serta Rahabiyyah fil Faroidl. Seiring dengan kecerdasannya/kepandainya dalam mempelajari kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi'i, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu'in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya.

Pada awal masa kemerdekaan, beliau menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH. Abdul Karim (Mbah Manaf), KH. Mahrus Ali, juga KH. Marzuqi Dahlan. Di Kediri, beliau juga menimba ilmu kepada Kiai Ma'ruf Kedunglo yang masyhur sebagai Kiai yang ahli riyadhah. Ketika mondok di Lirboyo, beliau juga bertirakat seperti menyedikitkan makan dan tidur, serta bersungguh-sungguh belajar. Beliau mendapat ijazah dzikir dari Kiai Ma'ruf Kedunglo serta berkhidmah kepada Mbah Manaf selama mondok. Kurang lebih lima tahun beliau menimba ilmu di Lirboyo.

Menginjak usia 21 tahun, beliau mengembara ke Mekah. Perjalanannya ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni Kiai Ahmad bin Syu'aib. Tak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya,

Kepada al-muhaddits Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, beliau mengaji kitab Al-Manzhumatil Baiquniibn Malik, juga Syarh Thaliatul Anwar. Beliau mengaji kepada Sayyid Amin Al-Quthbi kitab Riyadhus Shalihin. Kepada Syaikh Abdul Qadir al-Mandily mengaji Syrh Waraqat. Beliau juga masuk ke Madrasah Darul Ulum Mekah, belajar kepada Syaikh Imron Rosyadi tentang politik dan budaya, serta masih banyak lagi guru beliau di sana.

Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih tetap ngangsu kaweruh. Beliau meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada para ulama besar Tanah Jawa saat itu. Di antara yang bisa disebut namanya ialah Kiai Zubair (ayah beliau), KH. Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem (mertua beliau), KH. Ma'shum Lasem, KH Alai Ma'shum Krapyak Yogyakarta, KH. Bisri Musthafa Rembang, KH. Abdul Wahab Hasbullah, Kh.Mushlih Mranggen, KH. Abbas Djamil Buntet Cirebon, Kiai Ihsan Jampes Kediri, KH. Abul Fadhol dan KH Abul Khair Senori, KH. Wahib Wahab, KH. Bisri Syansuri, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Malang, Habib Ali bin Ahmad Alattas Pekalongan, KH. Thahir Rahili Jakarta, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Chudlari Tegalrejo, juga KHR. Asnawi Kudus.

Beliau menikah pertama kali dengan Ny. Fahmiyah binti Kiai Baidlawi Lasem, dikaruniai tujuh anak, empat di antaranya wafat saat masih kecil. Tiga lainnya ialah Abdullah Ubab, Muhamad Najih, dan Shabihah. Sepeninggal istri pertama, beliau menikah lagi untuk kedua kalinya dengan Nu. Masthi'ah binti Kiai Idris Cepu Blora, dianugerahi enam putra dan satu putri, yakni Majid Kamil, Abdul Ghafur, Abdur Rauf, Muhamad Wafi, Yasin, Idrar, dan Radhiyyah.

Pada tahun 1964/1386H, beliau mendirikan mushala untuk mengajar masyarakat desa Sarang. Selanjutnya pada tahun 1388/196M beliau membangun kamar di samping mushala untuk orang yang menghendaki mondok. Pada 1970, berduyun-duyun santri dari berbagai daerah menghendaki belajar, sehingga berdirilah pondok pesantren yang berlokasi di sisi kediaman beliau, yang kini dikenal dengan nama Al-Anwar.

Perkembangan jumlah santri Al-Anwar yang cukup pesat, menuntut adanya pembangunan di bidang fisik. Pada tahun 1971, mushala direnovasi dengan menambahkan bangunan di atasnya yang kemudian disebut dengan Khash Darussalam. Juga dibangun sebuah kantor yang berada di sebelah selatan ndalem beliau.

Pada tahun 1973 dibangun Khash Darunna'im tahun 1975 Khash Nurul Huda, tahun 1980 Khash AF, dan masih banyak pembangunan fisik yang lain. Berakhir, dibangunnya gedung serbaguna Al-Anwar berlantai lima tahun 2004, juga pada tahun 2005 dibangun Ruwaq Daruttauhid. Samapai sekarang, sudah puluhan ribu santri dan alumni yang merasakan keluasan dan kedalaman ilmu serta asuhan beliau.

Kegiatan sehari-hari beliau ialah mengajar santri dengan membacakan kitab-kitab seperti Fathul Wahhab, Syarh Mahally 'alal Minhaj, Jam'ul Jawami', Ihya' 'Ulumiddin, 'Uqudul Juman, Al-Asybah wan Nazhair fil Fiqh lis Suyuti, Syarh Ibn Aqil, Lubbul Ushul lil Imam Zakariya al-Anshari, dan Mughni Labib. Khusus pada bulan Ramadhan, beliau mengaji kitab hadist seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Muwattha Imam Malik, Riyadhus Shalihin, atau Al- Adzkarun Nawawi. Untuk hari Ahad, beliau mengajar masyarakat Sarang dan sekitarnya kitab Tafsir Jalalain yang dihadiri tujuh ribuan orang.

Baca Juga:18 Macam Bentuk Kisah Nyata Kesaktian Karomah Yang Dimiliki Para Wali Allah Swt Semasa Hidupnya

Sumber Buku Oase Jiwa 2 yang merangkum pengajian-pengajian Syaikhuna KH. Maimun Zubair Penulis Kanthongumur

Sekilas Profil Dan Perjalanan Syaikhuna KH Maimun Zubair Menimba Ilmu Lengkap Dengan Guru-Guru Beliau


Sekilas contoh bagaimana penyebaran Islam di Tanah Jawa yang di ambil dari buku Oase Jiwa 2 yang ditulis oleh kanthongumur dari rangkuman pengajian syaikhuna  KH. Maimoen Zubair. Berikut kutipan pengajian KH. Maimoen Zubair tentang dakwah Islam di Tanah Jawa,

Saya pernah mendongeng di Yaman. Pernah ada delegasi dari Indonesia ke Yaman, saya ikut dompleng naik pesawat kepresidenan. Selama hidup, ya saat iru pertama kali saya merasakan naik pesawat presiden. Saya duduk di bagian depan, lha wong Kiai’. Ya Allah, kursinya kok empuk, wangi, ada kamarnya pula, padahal kalau ingat pesawat waktu naik haji ini lutut sampai dipepet-pepetkan. Ya Allah. Penumpangnya saat itu para pejabat, hanya saya yang tidak punya jabata. Setelah turun , saya lihat daftar di situ nama saya pakai ‘Syaikh Maimoen’, lhoh dianggap ‘syaikh’ saya. Kemudian para pejabat itu menginap di (hotel) Hilton, sedangkan saya diajak menginap di isatana Negara.

Ternyata semua pejabat itu ada acara masing-masing, ada perundingan pembukaan penerbangan antara Garuda Indonesia dengan pemerintah Yaman, ada lain-lainya. Saya sendiri tidak tahu akan diundang acara apa, saya bilang saya ininbukan pejabat, bukan pegawai kenegaraan. Namun salah satu dewan pemerintahan disana meminta saya untuk menghadiri suatu acara. Disitu saya duduk disamping ketua lembaga tersebut. Beliau berpidato panjang lebar, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lalu kesempatan terahir pidato diserahkan kepada saya. Maka saya pun mendongeng dengan bahasa Arab tentang perjalanan Ibnu Batutah.

Ibnu Batutah itu hidup di tahun 1300-an masehi, pada saat itu tidak ada ulama di dunia ini sebesar beliau. Saat itu Ibnu Batutah bertekad merantau sampai ke wilayah Timur Jauh. Namun tidak sampai, ia hanya bisa mencapai Aceh yang kala itu sudah ada kerajaan Islam. Di situlah Ibnu Batutah sangat dihormati, disuguhi makanan daerah kala itu berupa manisan asam. Bagi orang Arab rasa manisan asem yang merupakan campuran antara manis, tahu kecut, tapi tidak tahu manis campur kecut. Itu seperti halnya orang desa dahulu, yang hanya tahu kopi pahit dan gula manis, belum tahu campuran kopi dan gula ternyata enak.

Orang Arab hanya kenal istilah chomid untuk kecut dan khulwun untuk manis, tidak ada istilah manis dan kecut. Kalau kita orang jawa punya istilahnya, kita sebut ‘seger’. Nah, Ibnu Batutah kagum dengan rasa manis-kecut itu sehingga bertanya, “ini makanan apa ?” Dijawab oleh orang Aceh, “Ini tamar (korma).” Ibnu Batutah heran, sebab kurma yang ia kenal hanya manis, tidak ada campuran kecut. Tentu saja yang dimaksud bukan korma seperti di Arab, melainkan disebut dengan ‘ Korma Jawa’. Coba anda Lihat di kamus Muhith atau kamus Munjid, disana asam di sebut dengan tamar juga. Tapi bukan tamar Arab, melainkan tamar Jawa. Adanya tamar ini merupakan lambang semaraknya agama Islam. Allah Ta’ala telah berfirman,

“Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allahh telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit” (Ibrahim:24)

Pohon yang kokoh di dalam ayat ini ialah pohon tamar. Dengan adanya makanan seripa tamar ini. Ibnu Batutah merasa bahwa Islam akan semarak di kepulauan Jawa, meskipun bukan tamar Arab melainkan tamar Jawa.

Saya pernah mengaji, tidak main-main, saya mengaji di Mekah kepada Syaikh Abdullah bin Nuh. Guru saya itu mengajari bahwa Islam yang paling dikagumi ialah Islamnya bangsa Indonesia. Hal ini didasarkan pada penafsiran beliau terhadap hadist Rasulullah,

“Yang paling mengagumkan dari keimanan umatku adalah masa-masa akhir umatku. Mereka tidak bertemu denagnku dan tidak beretemu para sahabatku.”

Semisal Mesir atau daerah-daerah bekas kekuasaan Uni Soviet Seperti Bukhara, Turkistan, Uzbekistan. Agama Islam mulai didakwahkan oleh Nabi Muhamad pada tahun 611 M, kemudian beliau hijrah pada 623 M, lalu wafat pada 633 M. Setelah itu hingga tahun 750-an masehi adalah masa-masa perkembangan Islam di masa sahabat, Pada masa itu tentu ramai persebaran Islam memasuki negeri-negeri lain.

Sedangkan Indonesia ini ajaib, seperti kata guru saya. Pada awal 1400-an belum ada masjid besar di Tanah Jawa ini. Pada 1440 baru muncul Walisongo, berarti berjarak 700 tahun sejak wafatnya Baginda Nabi. Berarti sudah bukan zaman sahabat, bukan zaman para ulama mujtahid, bukan zaman Syaikh Abu al-Hasan as-Syadzili. Pada zaman itu Baghdad yang pernah menjadi pusat perhatian Islam sudah hancur, sudah dihancurkan oleh keluarga Jenghis Khan, kaisar yang tidak mengenal agama samawi. Bangsa Arab saat itu bertekuk lutut kepda Huaghu Khan.

Begitulah ajaibnya. Pada 1480 M, Kanjeng Sunan Kalijaga meresmikan masjid besar pertama di Demak Bintara. Cara mengembangkan Islampun berbeda, lain dari yang lain. Misalnya di Kudus yang pada saat itu masyarakat masih banyak yang menganut agama Hindu-Budha. Penganut Hindu menganggap sapi sebagai hewan yang suci. Sebagaimana sekarang kalau kita lihat di India , jika ada sopir menabrak sapi, dia akan mendapat masalah. Sapi dianggap binatang yang suci oleh umat Hindu, sedangkan kerbau tidak. Maka agar dakwah Islam tetap Kondusif, aman dan tenteran, kaum muslim tidak usah menyembelih sapi ketika Qurban, cukup menyembelih kerbau saja.

Beginilah contoh Islam masuk ke Tanah Jawa. Tidak di zaman sahabat, tidak di zaman tabi’in, tidak di zaman tabi’ut tabi’inm tidak di zaman keemasan Islam, namun kini menjadi negeri dengan penduduk mayoritas Islam.

Khususnya di Jawa. Perlu di ketahui bahwa istilah Jawa Tenggara. Maka ketika saya masih kecil ada istilah Jawa Almari dan Jawa Almariki, istilah Jawa Almari artinya menunjukan Jawa di Pulau Jawa ini, 'mriki' artinya 'disini' Ketika Islam sudah masuk ke wilayah semenanjung Samudera Pasai di Aceh, masih belum bisa menembus Tanah Jawa, sebab dihalangi oleh keberadaan ilmu hitam wilayah pegunungan Kerinci. Itu di sebelah barat, sedangkan diwilayah timur masih terhalangi oleh adanya kerajaan-kerajaan Sriwijaya yang dipimpin Brawijaya.

Lalu bagaimana Islam masuk ke Tanah Jawa? Yakni dengan tidak melawan adat masyarakat secara langsung. Dakwah Islam tidak lepas dari perubahan zaman dan tempat. Caranya pun berbeda-beda, disesuaikan dengan wilayah yang didatangi dan waktu kedatangannya.

Islam masuk ke Tanah Jawa ini tidak bisa melalui peperangan , kalau melalui perang justru bisa jadi islam tidak diterima. Masuknya Islam di Tanah Jawa ini jangan sampai mengganggu keberadaan budaya Jawa. Misal, orang Jawa itu pada saat lebaran punya adat sungkeman, mengecup lutut ibu dan bapaknya. Sedangkan orang Arab pada saat hari raya terbiasa berpelukan, bahkan sampai memegang jenggot ayah atau kakeknya sendiri. Jadi kalau Islam ,asuk di tanah Jawa sambil melarang adat sungkeman, ya bisa habis Islam ini. Atau menganjurkan untuk pegang jenggot orang tua, ya dianggap kurang ajar Islam ini.

Dakwah Islam di Tanah Jawa Yang Sudah Di Rasa Ibnu Batutah Dan Cara Walisongo Berdakwah


Dunia pesantren memang sangat kental dengan aksara nulis pegon jawa utawi iki iku dalam maknai tulisan ayat-ayat Alquran ataupun kitab-kitab kuning yang dikajinya, khususnya pesantren-pesantren salaf tradisional tang tersebar di Indonesia Ini. Nulis Pegon sendiri memiliki keistimewaan tersendiri yang begitu hebat menurut KH. Muhajir Madad Salim bin Kyai Mas'udi seperti yang dilansir FP Kumpulan Foto gambar dan foto.

Nulis pegon sendiri merupakan metode maknani (dalam bahasa jawa) tulisan arab dan menjadi ciri khas pesantren yang sampai saat ini masih tetap digunakan. Dalam Nulis Pegon bisanya santri-santri menggunakan alat tulis hitect yang ujungnya kecil. Menggunakan Bolpoint yang ujungnya kecil adalah cara agar nulis pegon lebih mudah, dikarenakam dalam memaknai kitab-kitab kuning tulisan makna/terjemahnya bisa muat dibawah tulisan arab itu.

Sedikit cerita sejarah kehebatan dari menulis pegon utawi iki iku ono fashal sewiji

Baca Juga: Sejarah Huruf Arab Pegon Dan Pengertian Pengajaran ArabPegon

Satu anak didik saya yang sekarang saya titipkan kepada seorang ustadz balik ke rumah. Saya tanya, "Krasan (betah) mondoknya?"

“Tidak," jawabnya.

“Kenapa tidak krasan?"

“Karena ustadznya mengajarnya tidak pakai 'utawi iki iku', saya jadi kesulitan memahami pelajaran-pelajaran beliau."

Saya tersentak. Saya merasa bersalah. Memang ustadz yang saya titipi bisa dikatakan alim, dia mutakharrij (lulusan) Rubath Tarem. Tetapi jika mengajar tidak pakai rumus 'utawi iki iku' bagi santri Jawa ya repot. Lalu saya teringat paparan tentang hal ini. Dituturkan oleh kakak saya saat menjadi wakil keluarga dalam rangka Haul ayah saya, Kiai Mas’udi. Saya ambil bagian pentingnya saja. Meskipun panjang, insyaallah paparan beliau menarik. Sebab selain menjelaskan tentang pentingnya 'utawi iki iku', juga menerangkan banyak hal yang berhubungan dengan ranah keilmuan dunia pesantren Jawa.

Beliau pada bagian terakhir menerangkan begini, “Mbah Fadhol Senori sesudah menulis kitab Kasyf at-Tabarih , beliau pernah didatangkan oleh Kiai Mas’udi ke masjid ini dan beliau ajarkan kitab tersebut di hadapan para masyarakat terutama para kiai. Masjid mutih ini luar biasa, banyak orang-orang hebat pernah shalat di sini. Setidaknya yang pernah saya ketahui diantaranya Kiai Fadhol Senori, Mbah Raden Asnawi Kudus, beliau pernah juga memberikan pengajarannya di masjid ini, dan Mbah Kiai Idris bin Kamali Kempek, saat pernikahan Kiai Ali Murtadho. Mbah Idris datang ke sini tiga hari dan ikut shalat Jum’at di sini. Mbah Idris ini adalah menantunya Hadhratus Syaikh Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Mas’udi pernah mengaji dengan Mbah Fadhol. Mbah Fadhol muridnya Kiai Makmun Jam’an al-Bogori. Kiai Makmun Jam’an muridnya Syaikh Nawawi al-Bantani. Jadi Kiai Mas’udi ini punya jalur sanad dari Kiai Sholeh Darat dan juga punya sanad dari Syaikh Nawawi al-Bantani.

Kiai Mas’udi muridnya Mbah Sanusi. Mbah Sanusi muridnya Mbah Maksum Lasem
(selain mengaji kepada Mbah Kholil Lasem). Mbah Maksum Lasem muridnya Syaikhona Kholil Madura. Berarti Kiai Mas’udi ini punya sanad keilmuan juga ke Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.

Tiga orang ini; Mbah Kholil Bangkalan, Mbah Sholeh Darat dan Mbah Nawawi Banten adalah Pendobrak Tanah Jawa. Tiga serangkai yang punya jasa besar dalam dunia Pesanteren Indonesia terutama tanah Jawa. Dimana sesudah tiga orang kiai besar ini, rata-rata ulama Jawa adalah murid mereka atau muridnya salah satu dari mereka. Ketiga orang ini adalah selain alim juga merupakan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala, kita mengenalnya sebagai Waliyullah, kekasih Allah Ta’ala.

Kiai Mas’udi sangat membanggakan Kiai Sholeh Darat. Beliau sangat suka dengan Kiai Sholeh Darat. Sementra Kiai Sholeh Darat ini, menurut guru saya Abah Dim Kaliwungu, adalah Mujaddid Tanah Jawa di masanya. Santri-santri Jawa sekarang ini bisa membaca Kitab Kuning karena jasa besar beliau.

Saat Mbah Sholeh masih belajar di Makkah, belum pulang ke Jawa, para anak negeri kalau ingin mengaji kitab susahnya minta ampun. Tetapi begitu Mbah Sholeh pulang ke Jawa, beliau membuat rumus:

والمبتداء بلأتوي اكو خبر # افـا لفاعل ايغ لمفعول ظهر

Walmubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar

Pokok jika seorang kiai ngomong 'Utawi', santri akan paham kalau itu adalah Mubtada’. 'Iku' artinya Khobar. 'Apa' adalah Fail. Dan sudah jelas 'Ing' adalah Maf’ul. Ini rumus yang luar biasa. Metodologi pesantren yang dirumuskan oleh Kiai Sholeh tersebut punya pengaruh besar, punya manfaat besar dalam memintarkan para santri. Buktinya metodologi beliau tersebut masih dipakai hingga sekarang.

Kalau mau mengaji ke Jawa tanpa 'utawi iki iku' itu tidak akan berhasil (baik) meskipun sudah S-3 Mesir sekalipun. Saya punya sahabat sudah S-3; S-1 di al-Azhar, S-2 dan S-3 di Maroko. Tetapi kelamaan di sana selama 20 tahun, saat pulang ke Jawa 'utawi iki iku'nya lupa. Dia mengeluh kepada saya, “Aku paham kitab, tetapi di sini tanpa 'utawi iki iku', murid-muridku tidak paham. Aku jadi bingung. Tolong aku diingatkan lagi...”

Saya jawab, “Ok, gampang. Almubtada bil-Utawi Iku Khobar # Afa li-Fa'ilin Ing li-Maf’ulin Dzahar…”

Kiai Sholeh Darat memang seorang Alim besar sekaligus Waliyullah. Sehingga Kiai Mas’udi sangat menyukainya.

Abah Dim Kaliwungu berkisah kepada saya, “Pernah Syaikh Nawawi Banten itu, pulang ke Indonesia. O ya, tiga orang ini, Kiai Nawawi Banten, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan mengajinya sama-sama di Makkah. Sama-sama mengaji kepada as-Sayyid Bakri Syatha. Sayyid Bakri Syatha mengaji kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, Mufti Syafi'iyyah Makkah. Ketiganya sangat akrab, dan termasuk satu angkatannya adalah Syaikh Khathib Minangkabau. Tetapi budayanya beda, akhlaknya beda.

Kalau akhlaknya kiai Jawa akhlaknya orang Jawa Mutawadhi’ (tawadhu'). Sedangkan akhlaknya orang Sumatra –soal perbedaan karakter ini kesimpulan bukan dari Abah Dim, tetapi saya ambil dari sebuah buku milik orang Belanda dari Universitas Leiden yang mengutip dari laporan Snouck Hurgronje, seorang oreantalis yang pernah hidup menyamar sebagai Abdul Ghoffar di Makkah, (tetapi kabar Snouck Hurgronje sampai mengimami di Masjidil Haram itu Hoax, kalau dia pernah di Makkah memang ya). Snouck Hurgronje berkata, “Kalau kiai Sumatra memang alim, kritis tetapi akhlaknya bukan seperti Kiai Jawa. Mereka itu lebih terlihat sebagai orang-orang yang cerdas, sedangkan kiai-kiai Jawa itu terlihat sisi-sisi ketawadhu’annya."

Kiai Nawawi Banten pulang ke Indonesia, beliau kangen dengan seorang sahabatnya dari kota Batang, namanya Kiai Anwar. Kiai Anwar ini juga dulunya di Makkah, seorang yang sangat Alim ilmu fikih, punya karangan kitab berjudul ‘Aysul Bahri. Kiai Anwar punya murid namanya Kiai Amir Pekalongan. Kiai Amir Pekalongan punya murid namanya Kiai Yasin Bareng Kudus. Kiai Yasin punya murid namanya Mbah Muhammadun Pondowan Pati. Kiai Muhammadun punya murid Kiai Mas’udi.

Dalam kitab ‘Aysul Bahri ada kalimat seperti ini:

وامـا الكفتيغ والكيوغو فكلاهمـا حلالان

Wa-ammal kepitingu wal kiyongu fakilahuma halalani. Jadi yang pertama dan satu-satunya ulama Indonesia saat itu yang menghalalkan kepiting cuma Kiai Anwar saja. Semua ulama Jawa mengharamkan kepiting.

Di lain tempat Mbah Kiai Sholeh Darat juga tergerak hatinya untuk silaturrahim ke Kiai Anwar ini. Lebih menakjubkan lagi, yang di Madura, Mbah Kiai Kholil juga tergerak untuk berjumpa dengan Kiai Anwar.

Akhirnya kesemua kiai itu, Kiai Nawawi, Kiai Sholeh Darat dan Kiai Kholil Bangkalan berkumpul di waktu yang sama di tempatnya Kiai Anwar di Kota Batang. Para sahabat lama ini terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan, terutama antara Kiai Kholil Bangkalan dengan Kiai Nawawi Banten. Saking Asyiknya mereka nyaris lupa waktu. Beberapa menit sebelum datang waktu salat Ashar, Kiai Sholeh Darat mengingatkan mereka, "Wahai Syaikhoni, qad qarubal Ashru. Kiai-kiai, sudah mau Ashar."

Akhirnya tangan kanan Kiai Kholil dipegang oleh Kiai Nawawi Banten, sambil berkata, “Ayo, kita cari air dan tempat salat yang tidak bikin kita mengqadha salat Dzuhur."

“Oh, mangga..." jawab Kiai Kholil.

Mereka berdua pun keluar rumah. Tetapi begitu keluar pintu, keduanya tidak lagi ada di Kota Batang. Namun mereka berdua sudah ada di Kota Makkah al-Mukarromah. Jadi kini mereka berdua, Kiai Kholil dan Kiai Nawawi mendapati waktu tidak lagi mau Ashar, bukan lagi jam 3 siang tetapi jam 11 siang, mundur empat jam!

Begitulah kiranya orang-orang yang punya kedekatan dengan Allah Ta’ala, sepertinya waktu dan tempat tidak lagi mengikat mereka, sebagai bagian dari kemuliaan (karamah) yang diberikan oleh Allah kepada mereka.”



Kehebatan Nulis Pegon Jawa Utawi Iki Iku Ala Pesantren Salaf Tradisional Inilah Ceritanya


Para Ulama kalangan ahlu sunnah salafi Nahdhatul Ulama khususnya, telah bersepakat bahwa Wali Allah Swt itu benar-benar ada sekaligus memiliki macam-macam bentuk kisah cerita yang nyata dengan jenis maupun bentuk kesaktian karomah yang dimiliki-Nya. Kehebatan para Wali Allah memang tidak bisa diragukan lagi, hal itu terbukti bahwa masyarakat pada umumnya masih mempercayai dan melihat faktanya sendiri.

Karomah yang dimiliki Wali Allah adalah kejadian yang sangat luar biasa dikaruniakan oleh Allah SWT kepada beberapa Wali-Wali-Nya. Di dalam ayat Al-Quran pun juga ada gambaran tentang sebagian karomah/kehebatan kesaktian seperti halnya kisah Ashabul Kahfi yang tertidur 309 tahun, kisah Sayidah Maryam, Dzul Qornain dan lainnya.

Didunia ini banyak sekali umat Nabi Muhamad SAW yang diberi karunia oleh Allah Swt dengan berbagai kesaktian, kehebatan atau karomah-karomah yang dimiliki para Wali-wali Allah Swt. Fakta dari cerita ilmu-ilmu hikmah para wali Allah tentu banyak kita dengarkan baik itu dari cerita walyullah perempuan, waliyullah kyai-kyai yang mempunyai banyak karomah tinggi, Ulama-ulama salaf seperti juga para Habaib.

Khusus tentang Kisah para aulia di Indonesia yang terjadi sampai saat ini, juga masih banyak bisa kita temukan nama-nama wali Allah Swt tetap menjadi sebuah keyakinan masyarakat bahwa ilmu-ilmu hebat ulama memang benar ada.

Berikut ini adalah 20 jenis/macam bentuk-bentuk cerita karomah kesaktian yang terjadi, menurut sebagian ulama:

1.Menghidupkan yang mati.

Ini adalah karomah tertinggi. Abu Ubaid al Busri pernah mengalaminya. Beliau berperang dengan membawa hewan tunggangannya. Selepas perang, hewan tunggangannya mati sehingga ia pun tidak dapat pulang ke kotanya. Ia pun berdoa kepada Allah agar menghidupkan kembali kudanya itu, maka Allah pun menghidupkan kembali kudanya agar ia dapat pulang. Setelah sampai di kotanya, kuda itu mati kembali.

Begitupula Mufarrij ad Damami as Shoidi, ketika dihidangkan burung panggang, ia mengatakan “Terbanglah dengan izin Allah.” Maka burung itu pun terbang kembali.

Syaikh al Ahdal memiliki kucing kesayangan. Suatu hari pembantunya memukulnya sehingga kucing itu mati, kemudian ia membuang bangkainya. Tiga hari kemudian, Syaikh menanyakan keberadaan kucingnya tetapi pembantunya malah mengatakan: ”Aku tidak tahu.” Lalu Syaikh memanggil kucingnya itu dan secara ajaib kucingnya datang kepadanya sambil berlari.

Al Kailani pernah meletakkan tanganya di atas tulang ayam yang telah ia makan sambil berkata, “Berdirilah dengan izin Allah yang menghidupkan tulang belulang.” Maka ayam itupun kembali hidup.

2.Berbicara dengan yang mati

Karomah jenis ini sangat sering terjadi. Syaikh Abdul Qodir Al Jailani dan banyak para wali lain pernah melakukannya. Syaikh Islam as Syaraof Al Munawi pernah berbicara dengan Imam Syafii, maka Imam Syafii mengajaknya bicara dari kuburnya.

3.Membelah laut dan mengeringkannya

Ada salah satu wali yang jatuh sakit di atas perahu kemudian mati. Ketika jenazahnya telah diurus dan hendak dilemparkan ke laut, laut terbelah dua. Perahu itupun menyentuh tanah, lalu mereka menggali kubur di sana kemudian jenazah itu pun dikuburkan. Setelah selesai, air kembali seperti semula.

Di antaranya juga adalah berjalan di atas air dan ini banyak terjadi sebagaimana terjadi pada Imam Ibnu Daqiqil Id.

4.Merubah benda

Diantaranya yang terjadi pada Hitar al Yamani. Sebagian orang yang suka mengejeknya mengirimkan dua botol minuman keras kepadanya. Lalu beliau pun mengalirkan keduanya, salah satunya menjadi madu dan yang lain menjadi samin. Kemudian beliau menghidangkannya kepada orang-orang yang hadir di sana.

5.Terlipatnya bumi

Sebagian mereka ada yang berada di kota Thurtus kemudian ia merindukan untuk menziarahi tanah Haram. Maka ia pun memasukan kepala ke dalam pakaiannya, kemudian ia mengeluarkannya dan ia sudah berada di tanah haram. Banyak sekali kejadian serupa sampai kepada derajat tawatur dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang keras kepala.

6.Berbicara dengan hewan, tumbuhan dan benda mati.

Ini juga banyak terjadi. Di antaranya kisah Ibrahim bin Adham ketika duduk di bawah pohon delima. Pohon itu berkata padanya, “Hai Abu Ishaq, muliakan aku dengan cara engkau makan dari buahku.” Beliau pun memakannya.

Asyibli pernah berkehendak memakan buah dari suatu pohon. Ketika ia menjulurkan tangan, pohon itu berkata, “Jangan memakan buahku karena aku adalah pohon milik seorang Yahudi.”

7.Menyembuhkan penyakit

Imam Abdul Qodir al Jailani pernah berkata kepada anak kecil yang lumpuh dan buta. “Berdirilah dengan izin Allah.” Maka ia pun berdiri tanpa terisa penyakit apapun lagi padanya.

8.Tunduknya hewan kepada mereka

Al Mihani dan beberapa wali lainya dapat menunggangi singa. Bahkan sebagian mereka ditaati oleh benda mati. Imam Ibnu Abdis Salam pernah mengatakan kepada angin ketika menghadapi musuh dalam pepeangan, “Hai angin, serbulah mereka.” Maka anginpun bertiup kencang pada mereka.

9, 10, 11. Meringkas waktu, memanjangkannya dan terkabulkannya doa.

Ini sangat banyak terjadi di antara mereka.

Memberi kabar mengenai sebagian hal ghaib dengan izin Allah.
Di antaranya adalah kasyaf. Peristiwa yang seperti ini tidak dapat dihitung saking banyaknya. Yang dimaksud bukan semua hal ghaib, tapi sebagian hal ghaib dengan izin Allah.

12.diri tidak makan dan minum dalam masa yang lama
Ini banyak terjadi dan masih dapat disaksikan pada sebagian orang.

13.Maqomut tasrif (seperti mengatur turun hujan dengan izin Allah)
Ini banyak terjadi di setiap masa.

14.Makan sejumlah besar makanan
Sebagaimana dinnukilkan Syaikh Dimradasy pernah diundang salah satu penguasa untuk menghadiri hidangan makanan. Penguasa itu mengundangnya dan jamaahnya. Syaikh datang kepadanya sendiri, penguasa itu heran dan mengatakan, “Siapa nanti yang akan menghabiskan makanan?” Maka beliau pun memakan semua makanan yang ada di sana.

15.Terjaga dari yang haram
Harits al Muhasibi jika dihidangkan makanan yang mengandung syubhat maka salah satu uratnya bergerak. Sedangkan al Mursi bergerak semua uratnya.

16.Melihat tempat yang jauh dari balik hijab
Syaikh Abu Ishaq as Syirozi menyaksikan Kakbah padahal ketika itu ia berada di Baghdad.

17.Kewibawaan yang besar
Sebagian mereka ada yang memiliki kewibawaan yang sangat besar sehingga pernah orang yang melihatnya mati karena haibahnya. Ini terjadi pada Abi Yazid al Bisthomi dan Syaikh Ahmad al Badawi.

Allah menghancurkan orang yang menghendaki keburukan pada mereka.
Sebagaimana terjadi pada salah seorang dari wali, ketika ia berdesakan dengan seseorang kemudian orang itu menampar wajahnya. Maka tiba-tiba tangannya terlepas bersama dengan pukulan itu. Ia mengatakan, “Demi Allah aku tidak menghendakinya, akan tetapi Tuhan pemilik anggota Tubuh itu yang merasa cemburu dengannya.”

18.Merubah rupa
Terjadi pada Qodhib al Bani al Maushili, ada seorang faqih yang mengingkarinya karena tidak melihatnya melakukan shalat. Maka ia pun berubah bentuk dalam sekejap dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Lalu ia berkata, “Dalam bentuk yang manana engkau tidak melihat aku melaksanakan shalat?”


Sumber: al Kawakib ad Durriyah fi Tarojim as Sadah as Sufiyah lis Syaikh Zainuddin Muhammad Abdur Rouf al Munawi

18 Macam Bentuk Kisah Nyata Kesaktian Karomah Yang Dimiliki Para Wali Allah Swt Semasa Hidupnya


Jenis-jenis permainan tradisional anak Indonesia yang kini mulai hilang serta hanya menjadi kenangan permainan jaman dulu. Boleh dibilang permainan tradisional anak tempo dulu tersebut kini jarang atau bahkan tidak dikenal lagi oleh anak-anak. Karena anak-anak sekarang hampir seluruhnya telah terbius oleh permainan elektronik yang umumnya dimainkan di dalam rumah.

Kemajuan teknologi permainan anak-anak dan komputer serta berkurangnya lahan terbuka telah mengubah pola bermain anak-anak. Apalagi anak-anak jaman now yang mulai disebut generasi native digital, tentu sudah tidak mengenal macam-macam permainan tradisional asli anak Indonesia. 

Fakta pemainan tradisional jaman dulu sudah sangat terbukti dengan melihat anak jaman sekarang yang suka bermain gadget.  Bahkan cerita permainan tradisional jaman dulu sudah tidak dikisahkan oleh generasi anak masa kini.

Padahal jika kita pelajari secara kejiwaan, permainan anak-anak tempo dulu sarat dan kaya akan unsur imajinasi, kerjasama dan pertemanan yang berpotensi membentuk kepedulian sosial, kepekaan sosial dan kecerdasan bagi sang anak. Berikut adalah jenis permainan tradisional anak jaman dulu yang sangat digemari dan menjadi kenangan permaianan tradisional jaman dahulu.

1.BOLA BEKEL
Jenis Permainan bola bekel atau dalam bahasa Jawa, permainan ini biasa disebut bekelan adalah permainan dengan alat yang terbuat dari bahan karet berukuran bola pingpong. Anak bola bisa berupa kulit lokan atau logam yang sudah dibentuk dengan ukuran tertentu. Anak bola biasanya berjumlah genap, yaitu 4, 6, atau 8. Permainan bola bekel digemari oleh anak perempuan. Cara memainkannya adalah, anak bola digenggam menjadi satu, kemudian bola dilempar dulu setinggi 30 cm. Setelah bola turun dan memantul, anak bola dilepas dalam posisi acak. Anak bola kemudian diambil satu per satu, dua-dua, tiga-tiga dan seterusnya sampai habis.

2.CONGKLAK
Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak . Biasanya biji congklak menggunakan sejenis cangkang kerang dan jika tidak ada, menggunakan biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.

Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain saling berhadapan dan salah satu pemain yang memulai dapat memilih lubang yang akan diambil dengan meletakkan satu biji congklak ke lubang kecil dari kanan ke kiri hingga seterusnya. Bila biji habis di lubang kecil yang berisi biji lainnya, maka dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi.

Bila habis di lubang besar miliknya, maka dapat melanjutkan dengan memilih lubang kecil di sisinya.Bila habis di lubang kecil yang tidak ada biji tepat di lubang kecil sisinya, maka harus berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan atau sisi lawan. Namun bila berhenti di lubang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa. Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lubang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

3.GATRIK
Jenis Permainan dimainkan oleh dua orang atau dua regu yang beranggotakan beberapa orang. Alat yang dimainkan adalah tongkat pemukul terbuat dari kayu dan potongan kayu sepanjang seperempat tongkat pemukul, yang biasa disebut anak gatrik. Anak gatrik diletakkan dilubang miring dan sempit dengan setengah panjangnya menyembul di permukaan tanah.

Ujung anak gatrik dipukul dengan tongkat pemukul. Anak gatrik kembali dipukul sejauh-jauhnya ketika terlontar ke udara. Bila anak gatrik tertangkap lawan, permainan dinyatakan kalah. Bila tidak tertangkap, jarak antara lubang dan tempat jatuhnya dihitung untuk menentukan pemenangnya.

4.PERMAINAN BENTENG
Permainan Benteng adalah permainan yang dimainkan oleh dua grup, masing- masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing-masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar sebagai benteng.

Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih benteng lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan menawan seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi penawan dan yang tertawan ditentukan dari waktu terakhir saat si penawan atau tertawan menyentuh benteng mereka masing- masing.

5.KASTI
Kasti atau Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan.

Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit. Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu rubuh oleh kelompok yang dikejar.Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antaranggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga softball atau baseball.

6.PACIWIT-CIWIT LUTUNG
Permainan ini dilakukan oleh 3 – 4 orang anak, baik anak perempuan maupun lelaki. Setiap pemain berusaha saling mendahului mencubit (nyiwit) punggung tangan diurutan teratas sambil melantunkan
kawih sebagai berikut : Paciwit-ciwit lutung, si Lutung pindah ka tungtung. Paciwit-ciwit Lutung, si Lutung pindah ka tungtung.

Pada umumnya, tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah. Jadi, jenis permainan ini semata- mata dilakukan hanya untuk bersenang-senang dan mengisi waktu pada malam terang bulan.

7.PEREPET JENGKOL
Permainan ini dilakukan oleh 3 – 4 anak perempuan atau lelaki. Pemain berdiri saling membelakangi, berpegangan tangan dan salah satu kaki saling berkaitan di arah belakang.

Dengan berdiri dengan sebelah kaki, pemain harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, sambil bergerak berputar kea rah kiri atau kanan menurut aba-aba si dalang , yang bertepuk tangan sambil melantunkan kawih sebagai berikut : Perepet jengkol jajahean, kadempet Kohkol jejereten.
Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini. Jadi, jenis permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang pada saat terang bulan.

8.ORAY-ORAYAN
Permainan ini dimainkan beberapa anak perempuan maupun lelaki di lapangan terbuka. Para pemain saling memegang ujung baju bagian belakang teman di depannya untuk membentuk barisan panjang.
Pemain terdepan berusaha menangkap pemain yang paling belakang yang akan menghindar, sehingga barisan bergerak meliuk-liuk seperti ular, tetapi barisan itu tidak boleh terputus.

Sambil bermain, pemain melantunkan kawih sebagai berikut : Orany-orayan luar leor ka sawah, Tong ka sawah parena keur sedeng beukah. Orang-orayan luar leor ka kebon,Tong ka kebon aya barudak keur ngangon.

9.SONDAH
Permainan ini pada umumnya dimainkan oleh anak perempuan. Pola gambar berbentuk kotak-kotak berpalang dibuat di tanah. Setiap pemain memegang sepotong pecahan genteng atau batu pipih, yang kemudian dilemparkan ke dalam kotak permainan. Pemain melompat-lompat dari kotak ke kotak berikutnya.

Kotak yang berisi pecahan genting tidak boleh diinjak. Pemain dinyatakan kalah jika menginjak garis kotak atau bagian luar kotak. Pemain pertama disebut mi-hiji, kedua mi-dua, ketiga mi-tilu dan seterusnya.

10.DOR TAP
Dor Tap merupakan permainan yang mirip dengan Petak Umpet namun dimainkan oleh 2 kelompok. Kelompok yang lebih dulu berhasil menyebut nama lawan yang bersembunyi dapat diartikan bahwa lawan tersebut terkena tembakan. Permainan berakhir jika salah satu kelompok sudah habis tertembak.

11.GALAH ASIN
Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3- 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur dan anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal.

Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas menjaga garis batas horisontal, akan berusaha untuk menghalangi lawan yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas.Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

12.GASING
Gasing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib.

Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari plastik, atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

13.PERMAINAN KELERENG
Bola kecil dari kaca marmer ini dikenal dengan nama-nama berbeda di masing-masing daerah, yaitu antara lain gundu, guli, keneker, thes dan kelici. Selain ukurannya yang bermacam-macam, kelereng juga memiliki warna yang sangat variatif.

Untuk bermain kelereng, anak-anak kecil harus belajar menjentikkan kelereng dengan jari telunjuk. Caranya, jempol dan telunjuk tangan kiri memegang kelereng sebagai bidikan, kelingking tangan kiri menyentuh tanah sebagai pijakan, jempol dan telunjuk tangan kanan membentuk huruf O di mana jempol sebagai penahan dan telunjuk sebagai penembak, setelah dibidik jentikkan jari telunjuk untuk menembak kelereng lawan.

14.PERMAINAN LOMPAT TALI (LOMPAT KARET)
Permainan lompat tali adalah permainan yang menyerupai tali yang disusun dari karet gelang, permainan tersebut merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an sampai 80-an, saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah.

Sederhana tapi bermanfaat, bisa dijadikan sarana bermain sekaligus olahraga. Tali yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang yang banyak terdapat di sekitar kita. Cara bermainnya bisa dilakukan perorangan atau kelompok, jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang atau apa pun yang memungkinkan lalu melompatinya. Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal tiga anak, dua anak akan memegang ujung tali, satu dibagian kiri, satu lagi dibagian kanan, sementara anak yang lainnya mendapat giliran untuk melompati tali.

Tali direntangkan dengan ketinggian bergradasi, dari paling rendah hingga paling tinggi. Yang pandai melompat tinggi, dialah yang keluar sebagai pemenang. Sementara yang kalah akan berganti posisi menjadi pemegang tali.

15.LAYANG-LAYANG
Terdapat berbagai tipe permainan layang-layang. Yang paling umum adalah layang-layang hias dalam bahasa Betawi disebut koang dan layang-layang aduan atau laga. Terdapat pula layang-layang yang diberi sendaringan yang dapat mengeluarkan suara karena hembusan angin. Layang-layang laga biasa dimainkan oleh anak-anak pada masa pancaroba karena biasanya kuatnya angin berhembus pada masa itu.

Di beberapa daerah di Indonesia, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu, biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan. Layang-layang semacam ini masih dapat dijumpai di Sulawesi. Diduga pula, beberapa bentuk layang-layang tradisional Bali berkembang dari layang-layang daun karena bentuk ovalnya yang menyerupai daun.

Di Jawa Barat, Lampung dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar.

16.PERMAINAN PETAK UMPET
Permainan Petak Umpet biasanya dimainkan pada waktu malam hari, meskipun kadang ada juga yang main Petak Umpet di siang hari. Sebelum dimulai permainan, beberapa pemain akan melakukan “Hompimpa” untuk menentukan siapa yang bertugas mencari teman-temannya yang ngumpet. Pemain yang disebut “kucing” ini akan menghadap tembok atau pohon sambil memejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh sementara teman-temannya berlarian mencari tempat persembunyian.

Tembok atau pohon itu biasanya juga menjadi titik pertahanannya. Setelah hitungan kesepuluh, si kucing akan bergerilya menangkap teman-temannya yang bersembunyi.

Menariknya, selain bertugas menangkap teman-temannya yang bersembunyi, si kucing juga harus menjaga titik pertahanannya.Jika berhasil menangkap temannya, si kucing akan menyebut nama temannya tersebut. Yang lebih seru lagi, jika selama masa pencariannya tersebut ada teman lain yang berhasil menyentuh titik pertahanannya maka semua teman yang sudah ditangkap akan bisa terbebas lagi dan permainan dimulai dari awal lagi.

Permainan Petak Umpet selesai bila semua teman yang bersembunyi sudah ditemukan. Selanjutnya, teman yang pertama kali ditemukan akan menjadi kucing berikutnya.

17.EGKRANG
Permainan egkrang mengandaikan si pemakai atau relasinya lebih tinggi posisi tubuh diluar ukuran tinggi manusia. Bahan yang dipakai sebagai egrang adalah bambu, yang dibuat menyerupai tangga tetapi tangganya hanya satu. Egrang bentuknya bisa pendek tetapi bisa pula tinggi. Yang pasti, bermain egrang, menempatkan posisi tubuh menjadi jauh lebih tinggi dari tubuh yang sebenarnya.

Pemain egrang memakai egrang kakinya dinaikan di atas satu tangga, untuk kemudian berjalan. Jadi, pemain egrang naik diatas bambu yang dibuat sebagai jenis mainan dan kemudian berjalan kaki.

18.CUBLAK-CUBLAK SUWENG
Permainan cublak cublak suweng berkisar antara 5-7 orang dengan umur berkisar 6-14 tahun. Bagi yang masih berumur 6 – 9 tahu adalah masih belajar, sedangkan bagi yang berumur 10 – 14 tahun adalah melatih adik-adiknya yang masih kecil. Permainan Cublak-cublak Suweng memerlukan perlengkapan seperti suweng (subang).

Pada awal permaianan beberapa orang berkumpul dan menentukan salah satu dari mereka untuk menjadi Pak Empo. Biasanya pengundiannya melalui pingsut. Setelah ada yang berperan sebagai pak Empo. Maka mereka semua duduk melingkar. Sedangkan Pak Empo berbaring telungkup di tengah- tengah mereka. Masing-masing orang menaruh telapak tangannya menghadap ke atas di punggung pakEmpo.

Salah seorang dari mereka mengambil kerikil atau benda (benda ini dianggap sebagai anting). Lalu mereka semua bersama-sama menyanyikan cublak-cublak suweng sambil memutar kerikil dari telapak tangan yang satu ke yang lainnya. begitu terus sampai lagu tersebut dinyanyikan beberapa kali (biasanya 2-3 kali).

Setelah sampai di bait terakhir “Sir-sir pong dele gosong” pak Empo Bangun dan pemain lainnya pura- pura memegang kerikil. Tangan kanan dan kiri mereka tertutup rapat seperti menggenggam sesuatu.

Hal ini untuk mengecoh pak Empo yang sedang mencari ”suwengnya”. Masing-masing pemain mengacungkan jari telunjuk dan menggesek-gesekkan telunjuk kanan dan kiri (gerakannya) persis seperti orang mengiris cabe. Mereka semua tetap menyanyikan Sir-sir pong dele gosong secara berulang-ulang sampai pak Empo menunjuk salah seorang yang dianggap menyembunyikan anting.

Ketika pak Empo salah menunjuk maka permainan dimulai dari awal lagi (pak Empo berbaring). Dan ketika pak Empo berhasil menemukan orang yang menyembunyikan antingnya maka orang tersebut berganti peran menjadi pak Empo. Permainan selesai ketika mereka sepakat menyelesaikannya.

“Cublak cublak suweng, Suwenge tinggelenter mambu ketundung gudhel, pak Empo lera lere, sopo ngunyu ndelek ake, sir sirpong dele kopong, sir sirpong dele kopong “

18 Jenis Permainan Tradisional Anak Indonesia Yang Hilang


Sejarah Huruf Arab Pegon menurut Koentjaningrat, Arab pegon masuk ke Nusantara mulai tahun 1200 M atau 1300 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan animisme, Hindu dan Budha. Menurut suatu catatan, huruf Arab pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM, Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. 

Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf Arab Pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf Arab Pegon ini ditemukan oleh Imam Nawawi Banten, hal ini dikuatkan dari sejarah pada masa penjajahan banyak sekali terjadi penindasan, perampasan hak dan penyiksaan. Akibat dari peristiwa tersebut timbulah “Gerakan Anti Penjajah”. Pemberontakan terhadap pemerintahan penjajah terjadi dimana – mana, termasuk didalamnya kaum muslimin sampai – sampai para „ulama dan kyai berfatwa “haram memakai apapun dari penjajah” termasuk tulisannya. Situasi ini membuat Imam Nawawi dengan cerdas menyesuaikan bahasa Jawa dengan huruf – huruf Arab (huruf hijaiyah) yang dinamakan aksara pegon (pego).

Apakah Huruf Arab Pegon itu ? Pengertian Arab pegon adalah huruf Arab yang dibaca menggunakan bahasa Arab atau Sunda yang digunakan untuk mengartikan kitab kuning. Aksara Jawi atau aksara Arab-Melayu adalah modifikasi aksara Arab yang disesuaikan dengan Bahasa Melayu di seantero Nusantara yang silam. Munculnya aksara ini adalah akibat pengaruh budaya Islam yang lebih dulu masuk dibandingkan dengan pengaruh budaya Eropa di jaman kolonialisme dulu. Aksara ini dikenal sejak jaman Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Malaka.

Pengertian Pengajaran Arab pegon berasal dari kata “ajar” yang berarti proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan, perihal mengajar, segala sesuatu mengenai mengajar. Menurut para ahli pendidikan, bahwa “pengajaran adalah pemindahan pengetahuan dari seseorang yang mempunyai pengetahuan (pengajar) kepada orang lain yang belum mengetahui (pelajar) melalui suatu proses belajar mengajar”. Setelah proses pengajaran selesai diharapkan adanya perubahan perilaku/ perbuatan siswa sebagai tujuan dari pengajaran. Arab pegon seringkali digunakan untuk mengartikan kitab kuning yang sudah lazim digunakan dalam lingkungan pondok pesantren.

Biasanya Arab pegon ditulis disela-sela baris yang ditulis miring kebawah, dalam Arab pegon juga digunakan beberapa simbol untuk menyingkat dan mempermudah. Selain digunakan dalam mengartikan kitab kuning, Arab pegon juga digunakan oleh para kyai pesantren Jawa untuk menulis surat kepada teman sejawatnya, menulis sebuah karya dan dalam memberikan komentar terhadap karya-karya kyai lain. 
Penerapan penerjemahan kitab kuning dengan menggunakan Arab pegon dalam pengajarannya biasa disebut dengan ngabsahi (sebutan untuk wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau ngalogat (sebutan untuk wilayah Jawa Barat). Arab pegon sebenarnya hanya merupakan ungkapan yang digunakan oleh orang Jawa, sedangkan untuk daerah Sumatera disebut dengan aksara Arab-Melayu. Arti pegon menurut kamus Jawa-Indonesia adalah tidak bisa mengucapkan. Jadi, huruf Arab pegon atau disebut dengan aksara Arab-Melayu ini merupakan tulisan dengan huruf Arab tapi menggunakan bahasa lokal. Dikatakan bahasa lokal karena ternyata tulisan Arab pegon itu tidak hanya menggunakan Bahasa Jawa saja tapi juga dipakai di daerah Jawa Barat dengan menggunakan Bahasa Sunda, di Sulawesi menggunakan Bahasa Bugis dan di wilayah Sumatera menggunakan Bahasa Melayu.


Baca Juga: Definisi Kitab Kuning dan Istilah Kitab Kuning


Sejarah Huruf Arab Pegon Dan Pengertian Pengajaran Arab Pegon


Definisi Kitab Kuning dan Istilah Kitab Kuning mari mengenal apakah kitab kuning itu ? Istilah kitab kuning sudah tidak asing lagi bagi orang yang hidup dilingkungan pendidikan di pesantren, terutama pesantren yang ada nilai kesalafannya(Salafiyah pesantren, bukan salafy wahabi). Kitab tersebut sudah diajarkan sejak zaman dahulu oleh pendiri-pendiri Islam di Indonesia bahkan sebelum Islam masuk Indonesia. Kitab kuning adalah sebuah istilah yang disematkan kepada kitab-kitab yang berbahasa Arab yang berhaluan Ahlu Sunnah Waljamaah, yang biasa digunakan oleh beberapa pesantren atau madrasah Diniyah sebagai bahan pelajaran. dan kitab ini bukan dikarang oleh sembarang orang, namun karya Para Ulama Salafus Shalih yang sangat ahli dalam menggali hukum dalam Al-Qur'an dan Hadits.

Mengapa dinamakan kitab kuning ? Karena kertasnya berwarna kuning. Sebenarnya warna kuning itu hanya suatu kebetulan saja, lantaran zaman dahulu barang kali belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang putih warnanya. Mungkin di masa lalu yang tersedia memang itu saja. Juga dicetak dengan alat cetak sederhana, dengan tata letak dan lay-out yang monoton, kaku dan cenderung kurang nyaman dibaca. Bahkan kitab-kitab itu seringkali tidak dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi cover dengan kertas yang lebih tebal (kurasan).

Untuk sekarang, kitab-kitab tersebut sudah banyak yang dicetak dengan memakai kertas putih dan dijilid dengan rapi namun sebagian tetap dicetak dengan kertas warna kuning. Penampilannya tidak kalah menariknya dengan penampilan buku-buku yang selain memakai bahasa Arab, seperti kitab-kitab yang dicetak dari percetakan Dar al Kotob Al Ilmiyah, Beirut Lebanon dan Al Haramain Surabaya.

Kitab baru yang sudah masuk dalam kategori kitab kuning contohnya "Fiqhul Islam" terbitan 1995. Sedangkan kitab kuning tulisan ulama Indonesia di antaranya kitab "Sirojul Tholibbin". Kitab yang memperjelas kitab "Minhajul Abidin" karya Imam al-Ghazali itu ditulis Syaikh Ikhsan dari Pondok Pesantren Jampes, Kediri. "Sirojul Tholibbin" hingga kini menjadi bacaan wajib di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Contoh kitab kuning dari ulama Indonesia lainnya adalah kitab "Sullamut Taufiq" karya Imam Nawawi dari Banten, yang bertarikh 1358 (Majalah Tempo Interaktif, 2009).

Tujuan istilah kitab kuning untuk memudahkan orang dalam menyebut. Sebutan “kitab kuning” ini adalah ciri khas Indonesia. Ada juga yang menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharakat, bahkan tidak ada tanda baca dan maknanya sama sekali. Tidak seperti layaknya kitab-kitab sekarang yang sudah banyak diberi makna dan harakat sampai catatan pinggirnya.


Istilah “kitab kuno” juga sebutan lain untuk kitab kuning. Sebutan ini mengemuka karena rentangan waktu yang begitu jauh sejak kemunculannya dibanding sekarang. Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini jarang lagi digunakan kecuali di pesantren yang masih kental dengan nilai-nilai kesalafan seperti pondok Lirboyo, Sarang, Ploso dan APIS Blitar.

Meski atas dasar rentang waktu yang begitu jauh, ada yang menyebutnya dengan sebutan “kitab klasik” (al-kutub al-qadimah). Secara umum, kitab kuning dipahami oleh beberapa kalangan sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M.

Definisi Kitab kuning lebih detailnya ada tiga pengertian tentang kibab kuning: Pertama, kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun-temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia. Kedua, ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. Dan ketiga, ditulis ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing. Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di Timur Tengah, dikenal dua istilah untuk menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya (Rifqi, 2012).

Kategori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab Modern (al-kutub al-‘ashriyah). Perbedaan yang pertama dari yang kedua dicirikan, antara lain, oleh cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik, dan tanpa syakl (harakat). Apa yang disebut kitab kuning pada dasarnya mengacu pada kategori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah).

Dalam perkembangannya, istilah kitab kuning yang sudah mendarah daging untuk kalangan pesantren salaf telah dibuat plesetan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab dengan dikonotasikan sebagai idiom atas kotoran yang berwarna kuning (Intelektual Pesantren, 2003). Statemen ini jelas sangat menghina para kiai dan santri serta menghina nilai-nilai yang tertera di dalam kitab tersebut.

Menanggapi masalah istilah kitab kuning, KH Maimoen Zubair, pengasuh Pesantren Al Anwar dan juga mudir ‘Am majalah At Turast (majalah pegon di Yogyakarta) mempunyai pemikiran yang cemerlang. Menurutnya, kuning yang ada dalam istilah kitab kuning itu diambil dari kata Arab “ashfar” yang mempunyai arti kosong. Jadi, kalau seseorang ingin menjadi kiai atau ulama yang alim dalam masalah agama, dia harus bisa membaca kitab dengan kosong, tanpa memakai makna gandul (makna pegon ditulis miring) dan harakat (22/09/2012).

Baca Juga: Mengenal Asal Arab Pegon Serta Kaidah Metode Cara Menulis Arab Pegon Untuk Pemula Dan Penemu Huruf Pegon


Untuk mencapai derajat kiai yang alim seperti yang telah dikemukakan oleh KH. Maimoen Zubair tadi, tentunya seseorang harus belajar dengan tekun untuk memahami Gramatika Arab, seperti kitab Al Jurumiyah (karya Syaikh Muhammad As Sonhaji), Al Imrithi (karya Syaikh Sarifudin Yahya) dan Alfiyah (karya Syaikh Muhammad Jamaludin bin Malik). Di dalam tiga kitab ini memuat kaidah-kaidah yang dapat mengantarkan kita untuk memahami kitab kuning. Ujungnya, kita akan memahami sumber pokok hukum Islam, al-Quran dan al-Hadist.

Wallahu a'lam

sumber:http://www.ngaji.web.id

Definisi Kitab Kuning dan Istilah Kitab Kuning


MASA haji pada zaman dahulu memang memunculkan banyak cerita sejarah. Salah satunya ketika diciptakan sebuah huruf bernama arab pegon oleh komunitas pribumi Nusantara yang bermukim di tanah suci Makkah. Berikut ini akan dikisahkan secara singkat, sebagaimana mengutip dari berbagai sumber, Senin (4/9/2017).

Huruf pegon adalah aksara Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Kata pegon disebut berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti ‘menyimpang’. Alasannya, bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak biasa.

Berbeda dengan huruf Jawi yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tak bisa disebut pegon lagi, melainkan gundhil. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal (aksara swara) yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.

Kisah munculnya huruf arab pegon sebenarnya bermula ketika setiap tahunnya rombongan haji dari wilayah Nusantara berdatangan ke Kota Makkah beberapa waktu sebelum bulan suci Ramadan. Maksud mereka adalah ingin melaksanakan ibadah puasa di sana serta Salat Tarawih di Masjidil Haram.

Tak sedikit dari mereka yang sengaja bermukim selama bertahun-tahun di tanah suci untuk mendalami ilmu agama. Sehingga lama-kelamaan rombongan tersebut membentuk satu komunitas orang-orang Jawa atau Al Ashab al Jawiyyin artinya ‘kawan-kawan dari Jawa’.

Sebutan jawah atau jawi ini tidak berarti orang-orang dari Pulau Jawa saja. Namun, istilah itu juga untuk orang-orang dari Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Komunitas inilah yang melahirkan huruf jawi atau arab pegon, suatu modifikasi aksara arab untuk menuliskan bahasa lokal.

Komunitas jawi ini termasuk yang terbesar dari semua bangsa di dunia yang berada di tanah suci Makkah. Jumlah warga Indonesia yang bermukim di Makkah terus meningkat sejak pertengahan abad 19. Pada 1931, setidaknya terdapat 10 ribu wong jawah di Makkah.

Sebenarnya mereka adalah komunitas pelajar. Orang-orang menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama. Kemudian di abad 17 muncul seorang pelajar Jawa yang di kemudian hari diketahui sebagai Syekh Yusuf Makatsari. Ia berangkat ke Tanah Suci pada 1644, dan baru kembali ke Indonesia sekira 1670.

Ia terkenal gigih dalam menuntut ilmu dan banyak belajar ke para ulama besar, terutama ulama taswuf. Syekh Yusuf lalu mendapat ijazah untuk mengajar berbagai tarekat.

Di bawah bimbingan Syekh Ibrahim Alqurani di Madinah, Syekh Yusuf antara lain mempelajari kitab falsafah, ilmu kalam, dan tasawuf yang sangat sulit seperti Al Ghurrah al Faqirah karangan Abdurrahman Janiy.

Setelah pulang ke Indonesia, Syekh Yusuf tidak hanya menyebarkan Tarekat Khaltawiyah, tetapi punya peranan politik cukup penting sebagai penasihat Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.

Ketika kompeni Belanda campur tangan dalam urusan internal Banten dan membantu putra Sultan Ageng, Sultan Haji, dalam tindakan menyingkirakan ayahnya, Syekh Yusuf membawa penganutnya ke gunung dan memimpin gerilya melawan belanda. Tetapi sampai akhirnya, setelah hampir 2 tahun, ia ditangkap kemudian dibuang ke Selon atau Sri Lanka.

Yuk lihat cara menulis dengan menggunakan arab pegon seperti video dibawah ini:

Kisah Sejarah Munculnya Huruf Arab Pegon Ketika Orang Indonesia Di Makkah Berhaji

Older Posts Home