6 Hal Yang Dapat Jadi Inspirasi Ketika Mondok Sebelum Memutuskan Keluar/Boyong
Foto:IG Ala Santri
Masuk ke Pesantren adalah sebuah komitmen seseorang ataupun dilatar belakangi oleh kemauan orang tua yang sangat menginginkan anaknya mondok. Orang yang memutuskan masuk kepesantren adalah orang-orang yang berani berkomitmen demi kebahagian jangka panjang dalam menuju kehidupan yang hakiki dan juga tentunya semua demi memperjuangkan Agama.

Menjalani kehidupan jadi seorang santri itu memang tak mudah, selain saat di pesantren selalu ada cobaan terberat yang selalu hadir menemani setiap langkah dalam menuntut ilmu serta nantinya setelah keluar dari pesantren (boyong) seorang santri juga di tuntut menjadi PAKU, yang bisa menyatukan berbagi lapis masyarakat meski dia sendiri tak terlihat (Kata Inspirasi KH Abdul Aziz Manshur).

Bukan maksud mengolok-olok anak pesantren yang gak betah sebentar mondok atau tidak sampai lulus dan menguasai ilmu, karena santriyai.com pun juga begitu. Namun untuk melepas kepenatan pribadi sendiri maka dari situlah admin menulis artikel ini, yang barangkali menjadi sebuah inspirasi seorang santri yang mondok.

1.Sebetulnya mesantren lama ataupun sebentar adalah hak preogatif setiap masing-masing individu. Menuntut Ilmu di Pesantren itu emang harus didasari kemantapan/keyakinan hati untuk sebuah kemanfaatan diri sendiri serta tak lain untuk kemanfaatan keluarga juga masyarakat.

Namun kadang kita juga pernah mendengar dan juga perlu kita renungkan jika ada orang yang sebentar mondok tapi jago membaca kitab kosongan (GANDUL). Namun juga perlu di ketahui semacam itu hanya orang-orang tertentu saja dan biasanya orang yang sudah bernasab Kiai. Setiap orang bisa menguasai/mendapatkan Ilmu itu dengan berbagai cara yang berbeda dalam setiap langkah yang dijalaninya.

2.Masuk Pesantren bukan hanya sekedar hasil mendapatkan ilmu, namun soal bisa atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting adalah mengaji dan mengaji saat di Pondok, nggak usah mikir ini itu. Karena Kamu tidak akan bisa mengubah apa yang kamu inginkan melainkan atas izin Tuhan.

Jangan pernah berfikir saat di Pesantren bisa buat kamu jadi anak orang yang paham Ilmu Agama seperti apa yang kamu harapkan. Karena itu malah bisa membuat merasa kecewa atas ekspetasimu yang berlebihan. Daripada berusaha mengubah setiap harapanmu mending berusaha untuk istiqomah belajar, tirakat dan menurut apa yang Kiaimu sarankan.

3.Latar belakang keluarga tentu menjadi salah satu yang bisa mempengaruhi seorang santri menjalani hidup di Pesantren jadi kurang full time/konsisten serta pasti terasa sulit karena mungkin keluarga cenderung ingin kamu cepet pulang karena berbagai hal sebab.

Orang tua/keluarga adalah hal yang utama bagi setiap orang merasa sedikit membuat bimbang saat kamu nyantri. Kalau keluarga nggak pernah mendorong atau memberikan hal apa kamu butuhkan ketika mondok tentu hal ini semakin terasa berat dan sulit. Namun, kata wejangan dari Guru santriyai.com yang pernah saya peroleh,

Tidak ada jalan mundur,” ujar Kiai, “Seperti halnya Khalid bin Walid yang membakar kapal-kapal tentara kaum muslimin saat ekspansi ke Eropa. Sehingga mereka tak lagi bisa mundur, takada pilihan lain selain maju bertempur. Maka begitulah semestinya pemuda, kalian-kalian ini, perjalanan masih panjang. Jangan sampai patah semangat!Dalam hidup tidak ada jalan mundur.”

4.Tentu banyak masyarakat kampung halamanmu kala mendengar anak yang mondok itu selalu dikaitkan dengan sosok orang generasi tokoh kampung dan hal ini juga tentu menjadi salah satu bagaimana kamu mempunyai cara agar tetap bisa bertahan di Pesantren sebelum akhirnya sesal menghampiri karena belum bisa menguasai.

Hal ini bisa jadi masalah di masa yang akan datang saat di kampung halamanmu, terlebih kamu membawa nama santri serta Pondok Pesantren yang kamu tinggali itu. Di saat kamu pulang sudah tak kembali lagi ke Pondok seiring berjalannya waktu tentu Ilmu seorang santri dibutuhkan oleh masyarakat.

5.Kebiasaan ketika di pesantren dan apa yang kamu terima kala mondok, itulah yang membawa seumur hidupmu jadi bagian hidup yang akan selalu bersanding dalam langkahmu.

Kalau kita masih masih mempunyai kebiasaan buruk dan masih mentah menelan Ilmu bersiap-siaplah menemui kehidupan bermasyarakat yang berbagai lapis. Dan hal yang terpenting adalah buat diri sendiri.

6.Ambisi soal pekerjaan yang mungkin jadi belenggu seorang santri, Ketakutan soal ladang pekerjaan mungkin cukup ngebuat cenderung mengalami keresahan bagi sebagian santri.

Inilah yang memang Kendala atau hambatan. Itu semua adalah tantangan. Paradigma semacam ini membentuk sikap yang berbeda. Kalau kita menganggap masalah sebagai hambatan, kita cenderung akan berusaha menghilangkannya. Tapi kalau anggapan kita adalah tantangan, maka kita akan berupaya menghadapinya.”

6 Hal Yang Dapat Jadi Inspirasi Ketika Nyantri Sebelum Memutuskan Keluar/Boyong


Menjalani kehidupan di Pondok Pesantren emang nggak mudah. Ada tantangan-tantangan yang perlu di hadapi, terlebih kamu saat ini menjadi seorang santri yang tergolong santri generasi milenial. Tantangan itulah yang biasanya bisa membuat menyerah. Karena santri jaman sekarang so pasti di tuntut berbagi hal yang otomatis berjalan mengikuti arus dunia ini yang semakin maju.

Yaaa, bagi seorang santri yang masih setia tinggal di Pesantren bahkan hingga belasan tahun mondok, berusahalah keras untuk lebih berkembang menjadi pribadi yang sukses. Bukan hanya sekedar bertahan lama tinggal di Pondok Pesantren tetapi bertahan sekaligus berkembang sukses saat mondok yang juga hal ini jarang di lakukan orang lain.

Biar kamu bisa bertahan saat di rantauan pesantren sekaligus sukses berkembang, kamu juga harus melakukan peran-peran penting menjalani kehidupan sebagai seorang santri generasi milenial. Ada hal-hal yang perlu kamu lakukan. Mulai dari bersikap keras pada diri sendiri  mengingat ada keluarga yang diam-diam mendoakanmu dalam hati setiap harinya.

Berikut 6 tantangan yang harus kamu hadapi sebagai seorang santri jaman now (jaman sekarang):

1.Buanglah rasa malas pada diri sendiri, Disitulah santri bisa lebih mandiri dan berani

Hidup di Pesantren tidak secara otomatis membuat anak santri jadi mandiri. Memiliki rasa malas tentu akan selalu ada. Tinggal bagaiamana kamu sebagai seorang santri menyikapinya. Namun, bersikap keras terhadap diri sendiri itu menjadi pilihan yang semestinya tertanam dalam diri. Bersikap keras pada diri sendiri bukan berarti kamu menyiksa diri. Namun kamu bersikap lebih dari biasanya. Lebih rajin. Lebih sadar kesehatan. Atau lebih berani dalam mengambil tindakan. Dari bersikap keras pada diri sendiri, kamu jadi lebih mandiri dan berani dalam menjalani kehidupan di perantauan.

2.Tetaplah berteman dengan siapa saja, namun kamu juga wajib ngerti tanda teman santri yang baik, suapaya kamu lebih terjaga dan bisa lebih waspada terhadap pergaulan teman yang tak patut kamu tiru.

3.Aktiflah dengan berbagai kesukaan yang sesuai dengan pilihanmu, hobi serta cita-citamu perlu kamu lakukan. Dari situlah kamu bisa nyaman tinggal di pesantren dan lebih berkembang.

4.Tuntutan belajar yang sangat ketat, seperti mengahafal perlu kamu sikapi dengan bijak sebagai bentuk kedewasaan seorang santri. Lelah dan sulit untuk menghafal saat mondok itu bukan suatu alasan yang tepat, coba lagi dan jangan menyerah pada keadaan yang membuat kamu jadi pribadi yang nggak berkembang.

5.Disaat santri kehabisan bekal/Menipis, janganlah kamu memberi kabar orang tua dengan tergesa-gesa. Coba carilah peluang usaha yang pas dan cocok di Pesantren siapa tahu ada peluang.

6.Kamu mungkin sangat lama bertahan di pesantren, bahkan belasan tahun, Karena nyaman sekali di Pesantren karena mungkin kamu mondok sambil bekerja.

Tapi perlu di perhatikan juga, sisihkan sedikit penghasilan itu untuk keperluan kelurga dan buat jenjang masa depanmu terlebih tabungan buat ke pernikahan nanti.

7.Disaat kamu didera cobaan penyakit itulah yang seharusnya kamu sadari, itu menjadi bagian hidup bahwa kamu semestinya bisa sehat lagi dengan caramu sendiri. Karena sembuh dengan cara keyakinan diri sendiri itu adalah obat utama paling manjur. Apalagi kamu jauh dari keluarga yang udah pasti seharusnya itulah kamu lakukan. Siapa lagi kalau bukan dirimu sendiri.

8.Meskipun seorang santri jauh dari orang tua, mereka tentu selalu mendoakanmu diam-diam. Maka teruslah berjuang sampai titik terang jalan kamu terlihat.

Santri Generasi Milenial 8 Tantangan Agar Berkembang Sukses Ini Perlu Dilakukan Saat Di Pesantren

Foto:AlaNu

Pagi itu, ba'da Subuh, mobil yang ditumpangi seorang kiai berangkat dari ndalem, meluncur menuju kesuatu daerah. Di dalam mobil hanya ada tiga orang; kiai, seorang sopir, dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun nderekke kiainya.


Saat meluncur di jalan, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, "Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang tak sempat makan malam." Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit tiba-tiba dhawuh, "Gini ini yang enak cari sarapan dulu, ya?"

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon, Inggih Kiai. Saya Nderek."

"Nderek? Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju nggak?" tanya beliau.

"Nggih kiai, saya sangat setuju, "jawab si penderek.

"Ya begitu. Orang hidup itu harus jujur diri. Yang konsekuen. Jangan omong 'ya nderek Kiai' seolah benar-benar pasrah, padahal dalam hatinya sangat berharap. Duh gayanya saja pasrah. Jangan begitu. Ya sudah. Kita nanti sarapan di rumah makan langganan biasanya itu."lanjut beliau.

Mendengar dhawuh itu, si penderek semakin merasa lapar dan ingin rasanya segera sampai di warung makan. Dalam hati si penderek ingin sekali menikmati rasanya sarapan rawon. Saking pinginnya, seolah rasa rawon itu sudah di ujung lidahnya.

Beliau kemudian berkata, seolah hanya mengajak bercanda, "Tapi, kalau saya perhatikan, seringkali, menu yang kamu pilih itu sama dengan yang saya pilih. Sekarang begini. Kita bikin perjanjian. Kali ini, kamu tidak boleh milih menu yang sama dengan pilihan saya. Bagaimana, setuju?"

"Wah, Kiai ini serius?" pikir si penderek. Tapi gak masalah. Sebab sering kali di warung langganan itu, beliau memilih gulai. Memang gulainya itu yang disukai Kiai. Sedangkan sekarang, yang ia idamkan rawon.

"Nggih, Kiai. Saya tidak akan memilih menu yang sama dengan pilihan Kiai, "sahutnya.

Sampailah mobil di depan rumah makan. Seseuai janjinya, Kiai minta sopir agar berhenti untuk sarapan di warung langganan. Warung yang sederhana itu rupanya baru saja dibuka. Ibu si penjual kelihatan masih merapikan tatanan lauk dan kerupuk. Melihat Kiai datang, ibu itu tersenyum, langsung menyambut sambil mempersilahkan,

"Silahkan Kiai, pesan makan apa?"

Tanpa babibu, Kiai menjawab, Rawon!"

Duar! Kaget betul si penderek. Pesanan idamannya sudahdi pesan Kiai. Tak seperti yang dia bayangkan. Dia hanya bisa melongo, campur antara kaget dan bingung..

"Kalau masnya mau sarapan apa?"tanya si ibu.

Mungkin karena bingung, si penderek tidak segera jawab. Kiai menegurnya,

"Kita ini sedang ditunggu. Ayo kamu makan apa?"

Si penderek dengan agak ngawur dan terkesan asal jawab akhirnya menyebut, "Pe.. Pecel."

Tak, lama seporsi nasi rawon dihaturkan ke hadapan Kiai. Panasnya nasi Rawon itu masih mengepul asap. Herannya, Kiai Kiai tidak langsung mendaharnya. Beliau biarkan saja rawon itu di hadapannya. Tapi aroma kepulan asap rawon itu benar-benar menggiurkan selera si penderek.

"Monggo Kiai, dhahar duluan. Mumpung masih panas, "Kata si penderek mempersilahkan. Tapi dibalik itu, barangkali dia pingin segera menepis aroma rawon yang memasuki penciumannya itu. Tapi Kiai dhawuh,

'Nggaklah kita toleran. Nanti mulainya bareng,"

Beberapa saat kemudian, keluarlah seporsi nasi pecel. Maka mulailah makan bersama. Dalam menu pecel itu, sayurnya kelihatan masih segar. Bumbu pecelnya juga enak. Lauk yang menyertai bervariasi. Ada abon daging. Juga telur mata sapi serta tempe goreng yang tebal tampak baru saja diangkat dari penggorengan.

Setelah dua-tiga kali sendokan, dalam hati si penderek yang semula tidak begitu berhasrat terhadap pecel, akhirnya muncul pikiran, "Enak juga yaa pecel ini, "ia pun mulai lahap menikmatinya.

Tapi tiba-tiba Kiai menarik piring pecel, bersamaan dengan menyodorkan rawonnya ke hadapan penderek, sambil dhawuh, "Tukar. Supaya sama-sama merasakan."

Si penderek heran tak habis pikir, "Kiai ini bagaimana. Saya sudah memupus pingin saya pada rawon, dan sudah melupakannya, dan kini baru saja merasa nikmat dengan pecel itu, kok malah ditarik, ditukar dengan rawon yang saya sudah gak ingin lagi, "benaknya.

Setelah naik mobil, dalam perjalanan Kiai dhawuh,

" Orang menjalani hidup itu, jangan terpaku pada harapan, keinginan, target. Jangan. Silahkan kau bercita-cita, tapi jangan terpaku. Jangan kemudian menutup diri, jangan emoh terhadap selain cita citamu itu. Kenapa? Karena kalau kau hanya terpaku pada harapanmu, maka selamanya kau tak akan pernah meraskan kebahagian. Sebab yang namanya orang bahagia itu adalah orang yang lahir batinnya selalu siap menerima dan menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya. Bahagia bukanlah terwujudnya harapan. Bukan. Itu tipuan nafsu. Itu semu dan sementara. Coba kau buktikan, ikuti kemauanmu, tak lama kok kamu akan bosan dan merasa sudah tidak bahagia lagi, padahal yang kamu mau itu masih ada di genggaman tanganmu."


Santri Nderek Kiai, Rangkuman Pengajian KH. Maimun Zubair ( Buku Oase Jiwa 2)


Keistimewaan Santri yang menganggur, setelah lulus mondok di Pondok Pesantren

Banyak hal yang membuat hidup menjadi galau, bingung, suntuk, pusing, yang bikin hidup ini tak semenyenangkan seperti yang kita kira, salah satunya mungkin ada dari beberapa jebolan pesantren setelah lulus. Memang biasanya sebagai seorang santri Pondok Pesantren itu, banyak sebagian dari santri diantaranya kebingungan mau kerja apa setelah lulus dari Pondok Pesantren.

Mungkin pertama kali sejak kita masuk pesantren dari awal telah berfikiran dan bertanya-tanya gimana nasibku setelah dari Pondok Pesantren ini ??? Sebagai manusia berfikir, untuk masa depan yang akan datang adalah hal yang wajar dan pasti akan kita alami, apalagi bagi seorang santri baru yang lagi ketahap fase remaja ke dewasa. Mempunyai pandangan kedepan agar mampu bersaing atau berkompeten di dunia luar itu adalah hal biasa dan bagus yang perlu di apreasiasi.

Namun ketika saat ini barusan lulus dari Pondok Pesantren atau telah berbulan-bulan masih saja dilanda pilu karena menganggur, tak usah lah berkecil hati. Ingat Tuhan itu Maha Adil dan akan selalu memberi yang terbaik bagi kita.

Walaupun saat ini kita masih di Pandang orang dengan sebelah mata, karena setelah lulus atau boyong dari Pesantren belum mempunyai pekerjaan dan masih berdiam diri di rumah, yang saat ini hanya bisa membantu meringankan pekerjaan-pekerjaan kecil orang tua.

Dipandang sebelah mata masyarakat sekitar karena menganggur setelah lulus dari pesantren tak lantas langsung bekerja, kadang pula juga ada anggapan akan sulit mendapatkan jodoh dengan alasan "siap coba yang mau sama lulusan Pesantren yang hanya pengangguran" ???

Anggapan soal pengangguran setelah mondok di masyarakat awam kadang memang membuat sakit hati dan menyerah, bagi para santri yang tak lain juga kita sebagai seorang alumni lulusan pesantren. Namun sebelum kesakitan hati dan menyerah, coba renungkan hal-hal dibawah ini. Sebab yang selepas mondok masih mengangur bukan sama sekali pecundang, seorang santri justru mempunyai keistimewaan di dalam dirinya.

1. Sebagai seorang lulusan Pondok Pesantren yang tak langsung bekerja termasuk sosok orang yang selektif, Semua itu terbukti karena kita tak asal memilih pekerjaan setelah lulus mondok.

2. Sebab ketika menganggur setelah mondok itu adalah masa-masa transisi. Pilih kerja atau usaha sendiri itu termasuk keistimewaan karena kita harus memikirkan matang-matang sejak awal.

3. Dan kenapa harus malu, bingung ketika menganggur itu namanya bukan sosok seorang santri tulen "Ujar para sesepuh pesantren". Santri Justru bisa menginstirahatkan sebentar pikiran dari lelah pengorbanan berjihad di jalan-Nya.

4.Bisa sedikit lepas dari celotehan "Kerja yang tak sesuai passion" Walaupun akan ada cibiran-cibiran kata yang lain sebagai penggantinya.

5.Mempunyai waktu setelah lama mondok bisa berkumpul dengan keluarga sepuasnya, itung-itung untuk menimbun daya energi jika nantinya kita harus merantau lagi agar tak mudah merindu.

6.Kalau tentang masa depan sudah jelas seorang santri punya, Dimasa penggangguran bisa memantapkan kuda-kuda atau pondasi yang lebih top, demi menjelajahi hidup yang selanjutnya.

6 Kutipan Keistimewaan Jadi Santri, Tak Usah Bingung Menganggur Mau Kerja Apa Setelah Lulus Pesantren


Menuntut Ilmu jauh-jauh ke sebuah pesantren meninggalkan kampung halaman dan keluarga tak membuat para santri-santri MHM Kalibening Salatiga juga meninggalkan urusan finansial atau lebih pasnya yaitu mondok sambil bekerja. Mondok Sambil bekerja menjadi pandangan yang tak aneh lagi di Pondok Pesantren Kalibening Salatiga ini. Para santri Hidayatul Mubtadi-ien tak patah semangat untuk belajar setiap hari meskipun banyak aktivitas ketika di Pesantren. Disana sebagian para santri banyak yang melakoni beraneka macam-macam pekerjaan jasa, Semua dilakukan dengan tujuan untuk hidup mandiri tanpa harus meminta uang saku dari keluarga. Bahkan para santri salah satunya malah ada yang bisa membantu keuangan keluarga mereka walaupun tidak seberapa namun tetap ada diantara mereka para santri PPHM kalibening yang mampu.
Di Pondok Pesantren Kalibening Salatiga memang bisa dikatakan pesantren yang bebas namun juga nggak semau gue. Disana di perbolehkan membawa Handpond, Laptop, Kendaraan serta berbagai macam aktivitas lain seperti sekolah, dan kuliah di area sekitar Salatiga khususnya. Kemandirian para santri disana cukup bisa membuktikan pertanyaan-pertanyaan seperti "lulusan pesantren mau kerja apa ? Setelah lulus mondok mau jadi apa ?

Lika-liku kehidupan para santri demi menuntut Ilmu memang menyimpan banyak rahasia tersendiri bagi setiap masing-masing santri. Berikut macam-macam pekerjaannya ??

1.Jualan Online

Santri bisnis online menjadi solusi menghasilkan uang saat di Pesantren demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang di perlukan ketika mondok. Jualan online ini memang banyak dilakoni oleh sebagian santri PPHM Salatiga. Seperti halnya jualan pakaian, obat-obat herbal, dan lain sebagainya. Sebut saja Kang Fulan yang berdagang online obat-obat herbal walaupun hanya mengandalkan gadget dan sosial media dia Mampu sedikit demi sedikit menghasilkan uang. Setiap hari dia selalu mengeshare dagangannya melalui sosial media seperti facebook.

2.Tukang Servis Komputer

Keahliannya dalam mengotak atik komputer yang ia terjuni khususnya dalam jurusan perangkat keras menjadi sumber penghasilannya saat di Pondok Pesantren. Namanya Rudi Sugiarti ia telah menjalani pekerjaan ini sudah bertahun-tahun mulai dari ikut orang dan sekarang sedikit demi sedikit mulai membuka kios sendiri. Jasa panggilan tukang servis komputer area salatiga pun menjadi pekerjaan saat mondok yang cukup dikatakan menjanjikan.

3.Catering

Andriyanto sapto aji salah satu santri yang sudah bekerja di tempat catering selama kurang lebih 3 tahun menjadikannya sebagai pekerjaan saat mondok

4.Kuli Bangunan, walaupun hanya seorang santri yang masih mondok pekerjaan menjadi kuli bangunan pun tak membuat salah satu dari mereka merasa malu ataupun minder. Pagi berangkat kerja sampai sore kemudian ba'da ashar ia sanggup untuk tetap bisa mengaji.

5.Penjaga Toko

6.Bercocok Tanam Dengan Orang Kampung Sekitar Pesantren

7.Menerima Jasa Bimbel

8.Pedagang Keliling

9.Menjadi Blogger/Penulis Artikel Disebuah Website/Blog

10.Jualan Makanan Kecil Dikamar





Mondok Sambil Bekerja.Inilah 10 Macam-Macam Pekerjaan Santri Saat Di Pondok Pesantren MHM Salatiga


Mendengarkan kisah santri yang sukses di Indonesia dan internasional adalah hal yang menyenangkan dan menjadi kabar bahagia bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi kalangan Pondok Pesantren, bagi mereka tentu bisa menjadi cerita motivasi untuk santri-santri yang sedang belajar/menuntut Ilmu.

Bagi seorang santri tentu kala mendengarkan kiprah-kiprah seorang santri Pondok Pesantren yang berhasil dan sukses tentu akan memberikan semangat dan menginspirasi pribadi mereka masing-masing.

Cerita Motivasi Untuk Santri

Sejarah mencatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Mereka pada umumnya berguru ke Mekah dan Madinah. Sebagian menghabiskan hidupnya dengan mengajar di sana, sebagian lagi pulang ke Indonesia. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi, Syeikh Nawawi Al-Bantani dan lainnya.

Santri yang juga bisa menjadi barometer akan kesuksesaanya antara lain K.H Hasyim Asy’ari, K.H Wahid Hasyim, K.H Ahmad Dahlan, Bung Tomo, Gus Dur, dan masih banyak lagi. Sekarang ini banyak pula santri yang berhasil menduduki jabatan di pemerintahan Indonesia.

Bukan hanya membawa pengaruh hebat di Indonesia . Beberapa santri ini juga sudah berhasil menembus dunia internasional. Mereka berhasil menggapai impian mereka lewat karya atau usaha yang gigih,

Diantara beberapa santri yang sukses di jaman sekarang baik di Indonesia maupun dunia antara lain:

1. Nadirsyah Hosen

Dr. H. Nadirsyah Hosen, LLM, MA (Hons), PhD adalah orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi dosen tetap di fakultas hukum di universitas di Australia. Sejak pertengahan tahun 2015 dia mengajar di Monash University Faculty of Law, salah satu Fakultas Hukum terbaik di dunia. Sebelumnya selama 8 tahun ia mengajar pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong (2007-2015) hingga meraih posisi sebagai Associate Professor. Tahun 2005 ia bekerja sebagai post-doctoral research fellow di TC. Beirne School of Law, Universitas Queensland.

Dr. Hosen lulus sarjana S1 dari Fakultas Syari’ah, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan meraih gelar Graduate Diploma in Islamic Studies serta Master of Arts with Honours dari Universitas New England. Kemudian ia meraih gelar Master of Laws dari Universitas Northern Territory.

Peraih dua gelar doktor (PhD in Law dari Universitas Wollongong dan PhD in Islamic law dari National University of Singapore) ini telah melahirkan lebih dari 20 artikel di jurnal internasional seperti Nordic Journal of International Law (Lund University), Asia Pacific Law Review (City University of Hong Kong), Australian Journal of Asian Law (University of Melbourne), European Journal of Law Reform (Indiana University), Asia Pacific Journals on Human Rights and the Law (Murdoch University), Journal of Islamic Studies (University of Oxford), and Journal of Southeast Asian Studies (Universitas Cambridge).

Disamping itu, Nadirsyah Hosen adalah seorang kiai dari organisasi Islam terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama (NU). Sejak tahun 2005, ia dipercaya sebagai Ra’is Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru. Nadirsyah Hosen ini adalah putra Prof. Dr. Ibrahim Hosen. Ayahnya ini pernah menjadi santri K.H. Abdullah Abbas Pesantren Buntet, Cirebon.Gus Nadir, begitu ia biasa disapa, adalah pengarang banyak buku baik berbahasa asing maupun Indonesia.

2. Yudian Wahyudi

Seorang Santri Yang Berhasil Menjadi Guru Besar di Amerika Serikat, Yaitu Prof. Dr. K. Yudian Wahyudi. Beliau adalah dosen pertama dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berhasil menembus Harvard Law School di Amerika Serikat. Hal itu diperolehnya setelah menyelesaikan pendidikan doktor (PhD) di McGill University, Kanada. Ia juga berhasil menjadi profesor dan tergabung dalam American Asosiation of University Professors serta dipercaya mengajar di Tufts University, Amerika Serikat (AS).

Prof. Dr. K. Yudian Wahyudi adalah Lulusan Pondok Pesantren Termas, Pacitan, Jawa Timur dari tahun 1972 hingga 1978. Dan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak selama satu tahun, antara 1978-1979.

Dari Krapyak, beliau masuk Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang Universitas Islam Negeri) merangkap kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Selanjutnya, setelah lulus, melanjutkan pendidikan MA dan doktor di McGill University lalu ke Harvard Law School Amerika Serikat. Kini Prof Drs KH. Yudian Wahyudi PhD ditetapkan dan dilantik menjadi Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta masa bakti 2016-2020.

3. Habiburrahman El Shirazy

Siapa yang tidak mengenal Habiburrahman El Shirazy, atau yang biasa di panggil kang Abik Ini, dengan Bergelar H. Habiburrahman El Shirazy, Lc. Pg.D. beliau telah mendapatkan gelar sebagai penulis NO. 1 di Indonesia (dinobatkan oleh INSANI UNDIP AWARD pada tahun 2008). Laki- laki yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976, juga menekuni berbagai bidang selain novelis. Belaiu ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, penyair, sastrawan, pimpinan pesantren, dan penceramah.

Dalam bidang pendidikan Habiburrahman El Shirazy juga berhasil menjadi seorang sarjana dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Beliau juga pernah nyantri di di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan K.H. Abdul Bashir Hamzah ketika Mts. Dan Meneruskan MA di daerah Surakarta. Karya-karyanya juga banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan, Australia, dan Komunitas Muslim di Amerika Serikat. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca.

Di antara karya-karyanya yang telah beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Bulan Madu di Yerussalem, Bumi Cinta, Api Tauhid, dan Ayat-Ayat Cinta 2 yang sedang dimuat bersambung di Harian Republika.

4. Ali Alatas

Perjuangan dari santri negeri hingga bisa menjadi seorang Dokter Juga ditekuni oleh Dr. Ali Alatas. Ali Alatas berasal dari keluarga kurang mampu. Tinggal di hutan belantara pedalaman Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun mimpinya untuk mengejar pendidikan tak pernah surut. Sampai akhirnya menjadi dokter.

Ali melanjutkan pendidikan di Pesantren ‘Assalam Al-Islami’ di desa Sri Gunung, Sungai Lilin, Musi Banyuasin selama 6 tahun. Pesantren tersebut menyediakan beasiswa mulai dari bebas biaya SPP hingga bebas seluruh biaya bagi yang berprestasi, sesuatu yang sangat dibutuhkan Ali. Setelah lulus dari pondok dia mengikuti program santri jadi dokter Musi Banyuasin.

Setelah itu, Ali terbang ke Jakarta untuk menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa kedokteran. Saat menjadi mahasiswa, Ali juga pernah mendapat kesempatan untuk ke Malaysia sebagai salah satu delegasi ” Mahasiswa Kedokteran Islam Indonesia “, tepatnya di Cyberjaya University College of Medical Sciences. Di sana, Ali dan teman-temannya mempresentasikan tentang peran kedokteran islam di Indonesia khususnya dan dunia.

5. Alwi Shihab

Pria yang memiliki nama lengkap Alwi Abdurrahman Shihab ini lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, pada Senin, 19 Agustus 1946.

Seperti dikutip Merdeka.com, mantan Menteri Luar Negeri era Presiden Abdurrahmah Wahid ini, mendapat gelar professor dari Harvard University (1998), menjadi Asisten Professor di Temple University Department of Religion, USA (1993-1995).

Adik M. Quraish Shihab ini pernah nyantri di Darul Hadis, Malang, sebagaimana dikutip dari Alwishihab.com.

6. Mun’im Sirry

Mun’im pernah merasakan sebagai santri di Pondok Pesantren TMI al-Amien Prenduan Sumenep Madura (1983-1990) di bawah asuhan K.H. Idris Jauhari

Saat ini, ia tercatat sebagai dosen di Jurusan Teologi, Universitas Notre Dame. Pria asal Madura ini aktif menulis beberapa buku, di antaranya Kontroversi Islam Awal Antara Mazhab Tradisional dan Revisionis.

7. Sumanto Al Qurtuby

Sumanto Al Qurthuby lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 10 Juli 1975. Pria kini berusia 40 tahun mendapatkan dua gelar master dari The Eastern Mennonite University’s Center for Justice and Peacebuilding, Virginia, Amerika dan Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Indonesia.

Saat ini, ia tercatat sebagai dosen di Jurusan Teologi, Universitas Notre Dame. Pria asal Madura ini aktif menulis beberapa buku, di antaranya Kontroversi Islam Awal Antara Mazhab Tradisional dan Revisionis.

8. Eva Fahrun Nisa Amrullah

Seperti dikutip dari Facebook pribadinya, istri Faried F. Saenong ini aktif berkiprah di berbagai universitas luar negeri, seperti menjadi peneliti di Austrian Academy of Sciences dan Post Doctoral di Universitas Amsterdam.

Ia pernah nyantri di Darunnajah selama 6 tahun. Menurutnya, Pesantren Darunnajah telah mengajarkannya Islam Rahmatan lil ‘Alamin, Islam yang penuh kasih sayang. Islam yang tidak pernah mengkotak-kotakkan santri dan nonsantri. Selain itu, pesantren juga mengajarkannya tetap bekerja sama walaupun berbeda.

9. Ahmad Fuadi

Penulis Novel yang terkenal lewat karyanya yang berjudul “Negeri Lima Menara”, bahkan sudah difilmkan, baru-baru ini juga telah sukses meraih Social Impact Award dalam Education UK Alumni Awards 2016. Meski hanya menempuh studi di Inggris selama satu tahun untuk pendidikan master. Sekarang ini Ahmad Fuadi juga mendirikan Komunitas Menara yang menyediakan akses pendidikan dan buku bagi komunitas kurang mampu. Pada kesempatan itu, dia membeberkan rahasia kesuksesannya mengenyam pendidikan tinggi di Inggris.

Dalam Hal Pendidikan Ternyata Ahmad Fuadi adalah Alumni Pondok Pesantren Gontor. Hingga pada 2004-2005 dia melanjutkan studi di Royal Holloway, University of London, jurusan Film Dokumenter melalui beasiswa Chevening. Bahkan Karya Best sellernya tersebut juga diilhami saat berjalan-jalan di Inggris sambil belajat membuat cerita.

Masih banyak santri-santri yang sukses yang tidak muat jika dimuat dalam post ini. Semoga semua santri-santri di Nusantara bisa meniru jejak-jejak santri terdahulu yang mengharumkan agama dan negara. Aamiin



Oleh: Nasyit Manaf dari berbagai sumber
http://www.fiqhmenjawab.net

Cerita Motivasi Untuk Santri Inilah 9 Santri Yang Sukses Di Indonesia Dan Internasional


Berdasarkan pengalaman mondok secara pribadi maupun para mantan-mantan alumni Pondok Pesantren, kehidupan di lingkungan Pesantren memang dapat di akui sebagai pengalaman yang paling berharga. Mungkin bagi sebagian orang akan menyesal apabaila tidak pernah jadi santri. Karena yang pernah menjadi santri pun juga merasakan penyesalan, banyak beberapa faktor penyebab yang dialami saat menuntut Ilmu di Pesantren setelah pulang/boyong merasakan kekecewaan/penyesalan yang menjadi cerita sedih santri.

1. Tidak Menulis/Memaknai Kitab Dengan Penuh

Tidak rajin dalam menulis atau memaknai kitab kitab kuning Ketika mondok hal ini pasti akan menjadi penyesalan nantinya setelah tidak mondok. seperti halnya, menulis ulang (mencatat) materi dan pelajaran merupakan suatu hal yang dianjurkan didalam Pondok Pesantren. Tetapi, terkadang rasa malas untuk mencatat ulang materi yang diajarkan tiba-tiba menyergap.

Padahal, yang harus kita sadari adalah tiap otak manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap suatu informasi. Apalagi jika informasi yang kita dapatkan tersebut adalah suatu yang sangat asing sebelumnya.

Oleh karena itu, perlu dilakukan hal tambahan yang nantinya bisa membantu informasi dan pelajaran tersebut bisa tetap menempel di dalam ingatan kita.

2. Tidak Membaca

Setiap santri tidak hanya mendapatkan materi pelajaran yang diberikan oleh para guru/ustadz, tetapi juga diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi materi-materi lainnya di buku, e-book, maupun di situs-situs online.

Ya, hal kedua yang saya sesali adalah tidak membaca. Dalam artian masih banyak waktu yang saya sia-siakan padahal bisa digunakan untuk membaca dan mencari materi tambahan.

Padahal, bisa saja dengan mencari dan membaca materi-materi tambahan kita akan mendapatkan insight baru yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan optimasi atau inspirasi untuk bisnis yang akan kita geluti.

Jadi, selama menjadi santri jangan hanya pasif menunggu materi pelajaran yang diberikan oleh para guru, tetapi jadilah aktif dengan cara mencari dan membaca materi pelajaran dari sumber-sumber yang lain.

3. Tidak Bertanya

Di akhir setiap pemberian materi pasti selalu ada sesi tanya jawab. Alhamdulillah, pada beberapa pertemuan saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk bertanya tersebut.

Entah menanyakan materi yang memang benar-benar tidak saya pahami, sampai menanyakan hal-hal ringan sekadar untuk mencairkan suasana. 🙂

Tetapi, bukan itu yang saya sesali. Yang saya sesali adalah tidak memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan, yaitu bisa berinteraksi langsung dengan guru-guru terbaik di bidangnya.

Ada Mas Vatih dengan ilmu internet marketing-nya. Mas Said dengan ilmu bisnis online-nya. Mas Umar dan Mas Hammad dengan ilmu agamanya. Juga Mas Into dan Mas Juki dengan ilmu SEO-nya.

Padahal, selama rentang waktu satu tahun dan privilage sebagai seorang santri Sintesa seharusnya saya bisa memaksimalkan kesempatan untuk bertanya hal-hal baru yang belum saya mengerti. Mumpung bertemu dengan para ahlinya langsung.

Oleh karena itu, untuk para santri angkatan selanjutnya jangan sampai melewatkan kesempatan ini. Karena ketika kita sudah lulus dari Sintesa kemungkinan untuk berinteraksi langsung dengan guru-guru di sini pun pasti akan mengecil. :’)

4. Pulang, sebelum khatam

5. Tak Ada Perubahan

Dikutip dari sintesa.net


5 Faktor Utama Yang Biasanya Jadi Penyesalan Santri Saat Di Pesantren Setelah Pulang

Newer Posts Older Posts Home