Siapakah R.M Panji Sosrokartono?
Kaum bangsawan Belanda menyebutnya Pangeran dari Tanah Jawa. Raden Mas Panji Sosrokartono lahir tanggal 10 April 1877 dan meninggal pada tanggal 18 Pebruari 1952. Beliau merupakan adik kandung Boesono, mereka berdua adalah kakak kandung dari R.A Kartini. Putra dari Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Samingoen Sosroningrat untuk periode 1880-1905 dari perkawinannya dengan Ngasirah. Sejak kecil beliau dikenal memiliki kelebihan spiritual yang oleh orang jaman sekarang disebut indigo. 

R.M Panji Sosrokartono dikenal juga sebagai salah satu generasi pertama orang Hindia Belanda (Nusantara) yang pernah mengenyam pendidikan di Belanda. Sosrokartono muda menjgembara ke Eropa selama 29 tahun terhitung sejak tahun 1897. Sebagai mahasiswa Universitas Leiden yang kemudia menjadi wartawan Nusantara pertama dalam Perang Dunia I. Sosrokartono. Di Belanda, Sosrokartono berjumpa dengan Dr. Abdul Rivai, sesama bumiputera yang merupakan redaktur majalah “Bintang Hindia”. Sosrokartono bergabung dengan Dr. Rivai tak lama setelah lulus dari Leiden di tahun 1902 dalam mengasuh majalan Bintang Hindia. Majalah ini kelak menjadi katalis dalam penyebaran semangat nasionalisme di Nusantara.

Sebagai wartawan Sosrokartono pernah mengalami hal yang susah diterima nalar. Beliau pernah meliput perundingan damai antara Jerman dengan Perancis dalam PD 1. Dimana perjanjian tersebut dilakukan di atas kapal yang berada di dalam hutan dan itu bersifat sangat rahasia hingga tidak ada seorangpun yang boleh tahu. Namun entah darimana Sosrokartono dapat meliput pejanjian tersebut.

Sosok Manusia Alternatif

Dalam kalangan intelektual R.M Panji Sosrokartono dikenal sebagai seorang "Poliglot" atau orang yang mampu menguasai banyak bahasa. Mungkin kalau jaman sekarang beliau ini merupakan kamus berjalan. Sosrokartono tercatat mampu menguasai kurang lebih 41 bahasa. diantaranya yaitu 9 bahasa timur, 18 bahasa daerah, dan 17 bahasa barat. 

Ketika Sosrokartono melakukan proses transisi dari Delf ke Leiden, beliau berjumpa dengan Willem Roseboom yang merupakan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada masa itu. Roseboom merupakan gubernur jendral pertama yang melaksanakan kebijakan Politik Etis pada masa pemerintahan Ratu Wilhelmina. 

Karena popularitasnya sebagai warga Hindia Belanda dengan kemampuan linguistik yang sangat luar biasa, sebulan setelah perjumpaannya dengan Roseboom R.M Panji Sosrokartono diundang untuk menyampaikan pidatonya dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda (Nederlands Taal en Letter Kunde) ke-25 di Gent, Belgia. 

Di kongres ini, Sosrokartono mulai membangun platform untuk memperjuangkan hak-hak bumiputra (inlander) di Hindia Belanda. Ia memanfaatkan kesempatan berpidato ini untuk menyampaikan tuntutannya terhadap pemerintah kolonial Belanda agar lebih memerhatikan kondisi masyarakat bumiputra, terutama pendidikan. Ia juga menyampaikan bahwa ia akan terus memperjuangkan budaya bangsanya agar tidak tergerus oleh imperialisme. Ia menuntut agar kaum pribumi di Hindia Belanda diajarkan bahasa Belanda, agar mereka lebih mampu berkomunikasi dan mendapatkan akses terhadap pendidikan, serta memperkecil sekat relasi sosial antara bangsa Belanda dengan bumiputra.
Sebagai seorang ahli bahasa, Sosrokartono benar-benar menekankan pentingnya belajar bahasa Belanda (karena pada masa itu Nusantara adalah koloni Belanda) bagi seluruh masyarakat di Hindia Belanda. Menurutnya, dengan belajar bahasa Belanda, kaum bumiputra tidak akan tertinggal dan tertindas, karena mereka akan lebih mudah dalam mendapatkan akses terhadap materi pendidikan, yang selama ini menjadi monopoli kaum Belanda dan bangsawan saja.

Di poin terakhir pidatonya, Sosrokartono menyuarakan pertentangannya terhadap praktik kolonialisme dan imperialisme. Ini membuat syok negara-negara Eropa, terutama Belanda, yang pada saat itu tengah berlomba-lomba dalam melakukan ekspansi kolonial ke berbagai daerah di dunia.
Isi pidato Sosrokartono ini dimuat di berbagai surat kabar di Eropa. Hal ini membuat popularitasnya semakin melambung, karena keberaniannya dalam mengkritik negara Belanda sebagai penguasa koloni Hindia Belanda. Ini juga menjadi pemantik bagi para bumiputra yang berangsur-angsur mendapat kesempatan yang sama untuk melanjutkan studi di Eropa. Keberanian Sosrokartono ini menarik perhatian pemerintah Belanda pula karena ia dinilai dapat membahayakan eksistensi kolonialisme.

Peran R.M.P Sosrokartono di Bumi Nusantara

Pada tahun 1925 Sosrokartono memutuskan untuk kembali ke Nusantara setelah selama 29 tahun berkelana ke Eropa. Beliau berniat untuk menyambung kembali semangat nasionalisme yang beliau  sampaikan dalam pidatonya di Belgia. Sosrokartono ingin berkontribusi dalam semangat pergerakan nasional.
Setelah berkunjung kepada ibunya Raden Ayu Ngasirah yang telah berpindah dari Jepara ke Salatiga Jawa Tengah, Sosrokartono memohon ijin untuk menetap di Bandung, Jawa Barat. Di sana ia mendirikan rumah pengobatan Darussalam, perpustakaan Panti Sastra, dan beliau juga sempat dicap sebagai seorang komunis. Setiap harinya Sosrokartono menerima ratusan tamu di kediamannya dengan berbagai kepentingan. Mulai dari yang hanya sekedar meminta saran dan nasihat kepadanya, belajar bahasa asing, hingga mengobati berbagai macam penyakit.

Pada setiap pengobatannya, Sosrokartono selalu memberikan air putih dan secarik kertas bertuliskan huruf Alif (singkatan dari lafadz Allah) kepada setiap pasiennya. Air putih, huruf Alif, nasihat-nasihat hidup yang ia tulis dalam bahasa Jawa, dan laku berpuasa berhari-hari, adalah bagian dari “wajah mistik” Sosrokartono, orang Indonesia pertama yang terjun ke medan peperangan di Perang Dunia I di Eropa sebagai wartawan. Selama 29 tahun, Sosrokartono lebih dikenal sebagai seorang intelektual yang disegani di Eropa. Ia kerap dipanggil dengan sebutan De Javanese Prins (Pangeran dari Tanah Jawa) atau De Mooie Sos (Sos yang Tampan).

Rumah pengobatan Pondok Darussalam milik Sosrokartono merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan dinding bambu. Rumah itu dibangun memanjang membentuk huruf L sepanjang Jalan Pungkur. Bangunan itu tepat berada di depan terminal angkutan kota Kebun Kelapa sekarang.
.
Kini bangunan itu sudah tidak ada lagi. Penghuninya sudah berganti, begitu juga nomor rumahnya, yang sudah memakai nomor baru yang dipakai sejak 1960-an. Pemilik ruko yang menempati Jalan Pungkur 3, 5, 7, 9 ketika ditanya tidak tahu bahwa di jalan itu pernah ada pondok pengobatan milik Sosrokartono. Mendengar cerita Kayanto, pondok pengobatan milik Kartono diperkirakan menempati deretan bangunan yang kini sudah berubah menjadi toko listrik, swalayan di Gedung Mansion, serta sebuah apotek yang terletak di sudut Jalan Pungkur dan Jalan Dewi Sartika.
.
Kayanto Soepardi, 63 tahun, putra seorang asisten Sosrokartono, masih ingat: Darussalam tak pernah sepi. Tamunya mulai dari orang Belanda, pribumi, hingga Cina peranakan. Ia pernah melihat Bung Karno datang menemui Kartono. Saat itu Kartono menggoreskan huruf Alif di atas kertas putih seukuran prangko dan menyelipkannya ke dalam peci Bung Karno, entah untuk apa. Bung Karno pula, menurut penuturan ayahandanya, kerap datang untuk belajar bahasa kepada Sosrokartono.
.
Kartono, menurut Kayanto, tidak pernah lepas dari sebuah tongkat, beskap berwarna putih lengan panjang, sebuah topi (mirip mahkota) warna hitam, dan mengalungkan tasbih yang menggantung hingga dadanya. Janggutnya sebagian sudah memutih, sorot matanya tajam, dan lebih banyak diam.
.
Darussalam, selain menjadi rumah pengobatan, juga sebuah perpustakaan. Kartono dalam suratnya kepada Abendanon pada 19 Juli 1926 (Surat- surat Adik R.A. Kartini terbitan PT Djambatan 2005) menceritakan selain mendirikan perpustakaan Panti Sastra di Tegal bersama adiknya, RA Kardinah, ia juga mendirikan perpustakaan di Bandung. “Perpustakaan ini tidak disebut dengan nama yang lazim melainkan merupakan lambang dari suatu pengertian baru, suatu cita-cita baru. Namanya Darussalam, yang berarti rumah kedamaian,” tulis Kartono.
.
Buku-buku perpustakaan itu disumbang oleh dua orang insinyur perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, tiga orang partikelir bangsa Belanda, dua orang wanita Belanda, tiga orang Jawa, dan seorang Tionghoa. “Semboyannya tanpo rupo tanpo sworo, yang berarti tidak berwarna, tiada perbedaan, tiada perselisihan,” ucap Kartono.

Demikian sekelumit sejarah tentang Raden Mas Panji Sosrokartono yang sangat luar biasa. Untuk pembahsan lainnya akan kami sampaikan dalam artikel-artikel yang akan datang. Semoga dapat menjadi motivasi dan semangat buat kita semua. Apabila dalam tulisan ini masih terdapat kesalahan, mohon kesediaannya buat para pembaca sekalian untuk memberikan kritik dan saran. Sekian dan terimakasih, sampai jumpa lagi dalam artikel yang selanjutnya. 

Orang Jenius Di Indonesia R.M Panji Sosrokartono

KUMPULAN QUOTES KATA-KATA SELAMAT DAFTAR UCAPAN HARI BURUH INTERNASIONAL TERBARU 2019/2020

Older Posts Home