Mengenal apa itu Hari Santri Nasional. Awal mula Sejarah Hari Santri Nasional adalah dari adanya Resolusi jihad yang dicetuskan oleh salah satu ulama yaitu pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 di Surabaya. Hal ini dilakukan sebagai car untuk mengantisipasi kembalinya penjajah kolonial Belanda yang mengatasnamakan diri mereka sebagai NICA.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari hukum dalam membela tanah air itu hukumnya wajib (fardlu’ain) bagi setiap orang.

Generasi emas para santri telah banyak memberikan pelajaran berharga bagaimana para santri menancapkan rasa kebangsaan yang tinggi dengan nilai-nilai luhur demi keutuhan umat dan menyelamatkan bangsa dan Negara.

Lalu bagaimana pandangan para santri yang sekarang menempati posisi atau jabatan penting untuk melakukan perubahan di negeri ini? berikut ini adalah hasil wawancara pustakacompass.com kepada para tokoh santri.


Cak Imin : Hari Santri Nasional Pererat Persatuan Bangsa

Berbicara tentang santri dan segala keunikan serta sepak terjangnya di negeri ini, Cak Imin mengatakan, “Kaum santri sangat berpengalaman menjadikan agama sebagai landasan etis dalam kehidupan terhadap lingkungan hidup.”

Keakraban santri dengan budaya asli lokal menghasilkan kreasi budaya yang bisa atasi kesenjangan sosial budaya antar golongan. Terikait ini ia tegas mengatakan “Siapa yang berani nyangkal, kalau perkembangan masa depan Islam di negeri tercinta ini, banyak ditentukan peran budaya santri.” Ini adalah sebuah penegasan yang berani.

Kaum santri punya komitmen menjalankan Islam Nusantara dengan pemikiran, gerakan dan kebersamaan. Karena kaum santri punya sejarah panjang. Terhubung dari ulama era walisongo dan tersambung dalam pengetahuan serta keakraban.

Cak Imin mengajak warga Indonesia dan umat Islam khususnya untuk menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. “Saatnya kaum santri meraih tempat di negeri ini yang sudah menjadi haknya.” ujarnya.

Dalam pandangan Cak Imin, wujud penghargaan peran santri salah satunya adalah Perang Rakyat Semesta 10 November yang diawali Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Hari itu, santri menggemakan Perang Rakyat Semesta dengan resolusi jihadnya merupakan pertama dalam sejarah kita melawan penjajah.

“Ini pertanda sikap kaum santri bahwa pembentukan RI 17 Agustus 1945 sah hukumnya!” tandas Ketua Umum PKB ini. Karenanya, penetapan Hari Santri 22 Oktober haqqul yaqinpererat persatuan bangsa. Sejarah santri nusantara adalah sejarah kemashlahatan umat. Dan santri juga selalu menjunjung kesatuan dan keragaman.

Selain itu, Penetapan Hari Santri 22 Oktober merupakan ungkapan ‘sense of destiny’ (rasa kesejarahan) kita terhadap peran santri bagi negeri. Sebaga Ketum PKB ia menyampaikan bahwa “Kita kader PKB dan kaum santri bangga bisa membangun budaya egaliter yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan.”

Terakhir, kepada seluruh Santri Indonesia, Muhaimin berpesan dengan mengajak “Ayo! Kaum Santri sebagai putra-putri terbaik bangsa, derapkan langkah ke poros peradaban Indonesia. Insya Allah! Santri menjadi komunitas penting yang menopang Indonesia sejahtera di masa datang.”

Pandangan Cak Jazil Tentang Santri

Pribadinyabegitu ramah dan sederhana.Tuturnya jelas,apa adanya.Iajuga sosok yang sangat religius. Inilah Jazilul Fawaid, Anggota F-PKB DPR RI.

Di tengah kesibukkannya yang luar biasa, Jazil menyempatkan waktu untuk wawancara eksklusif dengan pustakacompass.com. Sejak dilantik sebagai Anggota DPR, Jazil dipercaya menempati kursi Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR. Selain itu, ia juga duduk sebagai Anggota Komisi V DPR.

Menyikapi diresmikannya Hari Santri Nasional, peraih magister Ulumul Qur’an-Hadits IIQ ini berpandangan bahwa “makna Hari Santri tentu bukan makna seremonial, tapi sebagai simbol eksistensi santri. Dan itu tidak hanya milik santri, melainkan milik semua anak bangsa.”

Karena itu, yang terpenting adalah nilai-nilai kesantrian yang harus dipegang teguh. Nilai-nilai tersebut adalah, nilai perjuangan, karena santri itu pendakwah dan pasti berjuang, nilai kemandirian, karena santri itu pasti mandiri. Dari awal santri diajarkan untuk mandiri dalam sikap maupun beraktifitas dan terakhir nilai pengabdian. Nilai pertama dan kedua akan sia-sia jika tidak diabdikan. “nilai yang ketiga ini, lambat laun sudah berkurang” tuturnya.

Ketiga nilai itu lahir dan selalu dipegang santri dari zaman penjajahan. “Dahulu, santri adalah antitesa dari penjajah, berada di luar kekuasaan”, kata Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Managemen UNJ ini. Santri mandiri sebagai kelas pedagang dan aktif dalam kegiatan ekonomi. Dari sinilah santri bisa berjuang dan mengabdi untuk tanah air dan merebut kemerdekaan.

Sekarang, justru santri harus mengambil posisi strategis dalam politik, baik di pemerintahan atau parlemen. Posisi yang penting menurut Jazil dalam parlemen adalah berjuang di bidang anggaran. Dan ia sendiri sedang berjuang di bagian ini sebagai wakil ketua Banggar. Bagaiamana berjuangnya? Ia mengatakan “uang yang diperoleh dari rakyat harus dikembalikan secepatnya untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat”.

Ia mempunyai prinsip bahwa hidup ini harus punya misi perjuangan. Dan tantang perjuangan santri di parlemen adalah memecahkan masalah-masalah rakyat. Terakhir, Jazil berpesan “untuk Santri dan Pesantren kedepannya yang terpenting adalah menjaga nilai-nilainya, berjuang dan mengabdi”.

Peran Santri Menurut Fathan Subhi

Fathan terpilih sebagai anggota DPR RI di periode 2014-2019. Menempati posisi anggota Komisi VIII (sosial, agama, pemberdayaan perempuan) sebagai Wakil Ketua. Lalu pada masa sidang pertama 2015-2016, Fathan dipindahkan ke Komisi V yang mebidangi Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal, Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Pada tahun 2015 juga, ia dipercaya dan dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PW IKA-PMII DKI Jakarta periode 2015-2020.

Fathan berpandangan, Santri yang berkarir dan berjuang dalam dunia politik sudah banyak. Santri harus bergeser ke sektor lain khususnya sektor ekonomi. Terkait peran santri, “Saya kira santri juga harus mengevalusi diri dan meningkatkan kapasitasnya” jelasnya. Pendapatnya ini tidak main-main, mengingat ia adalah anggota Departemen Bidang Ekonomi MUI Pusat dan pernah menjabat sebagai Pengurus Lembaga Perekonomian NU tahun 2010-2015.

Terkait posisi santri dalam pemerintahan, ia menyampaikan “Peran dalam politik sudah banyak, namun dalam sektor yang lain, sosial, budaya dan ekonomi belum terjamah secara menyeluruh”. Dam dalam bidang ekonomi belum dirambah secara luas.

Oleh karena itu, menurut Fathan, santri dan pemerintah harus menyusun langkah-langkah bersama ke depan, sehingga sektor ekonomi menjadi konsen dari garapan santri. Jika santri sudah bergerak dalam bidang ekonomi, tentunya akan meningkatkan derajat umat. “Saya menekankan fokus pada pengembangan ekonomi rakyat kecil”, tegas orang yang juga menjabat sebagai Sekretaris LPNU PBNU ini.

Pemerintah harus memberikan akses yang sebesar-besar kepada Santri, karena selama ini masyarakta santri dipandang sebelah mata. Dengan adanya Hari Santri ini, tentunya menjadi tanda pengakuan negara terhadap eksistensi santri sebagai komponen bangsa yang ikut dalam perjuangan, pergerakan dan reformasi. “Saya kira santri sudah harus menjadi aktor pembangunan”, tuturnya, mengakhiri.

Suryadi Hendarman : Santri Harus Punya Landasan Ideologi kebangsaan yang Kuat

Ir. H. Suryadi Hendarman MM. adalah salah seorang santri yang merasa sangat beruntung karena pernah menjadi murid utama Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya dan Pimpinan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Suryadi menjadi santri sukses dan menjadi panutan seperti sekarang ini, tidak lain karena berkah pengabdiannya pada kiainya dan kepatuhannya kepada kedua orang tuanya Drs. H. Mulyono Soetarmo (Alm) dan Ibunda Rr. Hj. Widaningsih.

Kembali bercerita tentang pesantrennya, Suryadi mengaku mengalami banyak perubahan setelah mendalami ilmu agama di Pesantren, diantaranya ia dapat hidup bahagia, merasakan kedamaian dan lebih menghormati orang lain tanpa melihat kedudukan.

Ia mengingat betul pesan Abah Anom yang sekarang masih melekat. “Waktu kamu di dalam Pesantren sampai kamu keluar, sampai kamu meninggal, jangan sekali-kali meninggalkan Shalat wajib, jangan sekali-kali kamu meninggalkan shalat sunnah dhuha.” “Begitu dawuh Abah Anom”.

Di peringatan Hari santri Nasional ini, ia berpesan kepada para santri seluruh Indonesia, bahwa santri harus punya landasan ideologi kebangsaan yang kuat untuk NKRI, pancasila dan pemahaman Islam rahmatan lil alamin. Pemahaman tersebut adalah paket doktrin yang harus ditanamkan dan dijalankan oleh santri sejak dini.

Asrorun Ni’am : Etos Keagamaan Santri

Asrorun Niam Sholeh, seorang santri aktivis muda, penuh semangat, dan mempunyai pembawaan yang ramah. Ia sekarang menjabat sebagai Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Mantan Ketua PP IPNU yang lahir di Nganjuk, 31 Mei 1976 ini memiliki pengalaman organisasi dan pendidikan yang sangat panjang.

Sejak menjabat sebagai Ketua Umum PMII (1998-1999) dan berperan dalam menggulingkan rezim orde baru, namanya mulai diperhitungkan. Karirnya dalam organisasi dan pendidikan terus melejit. Lulus dari UIN Jakarta ia belajar ke Al-Azhar Mesir tahun 1999, dan kembali lagi tahun 2003 untuk mengajar di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta.

Sebagai seorang praktisi, strategi dan pencapaiannya tidak lepas dari etos keagamaan santri yang ia pegang. Bagi Niam, “Santri harus bisa menjalankan nilai-nilai keagamaan yang menjadi kekuatannya untuk diimplementasi dalam kehidupan sekarang. Terkait dengan isu hak asasi, demokratisasi, penyusunan peraturan perundang-undangan, penyusunan kebijakan publik” jelasnya.

Menurutnya, Penetapan hari santri pada 22 Oktober itu sebagai penanda atau prasasti untuk mengingatkan bahwa di dalam proses perjuangan bangsa Indonesia ada peran santri yang sangat signifikan. Tapi terlepas ada atau tidak adanya perngakuan negara, sejarah tidak mungkin bisa dihapus. Ia mengatakan “Ini satu hal yang menjadi prasasti historik, Tetapi ada hal yang lebih penting, yaitu bagaimana etos keagamaan kaum santri dan juga semangat kesantrian itu bisa menjelma mewarnai di dalam proses berbangsa dan bernegara.”

Di sini NU harus menjadi jembatan bagi mobilitas santri – dengan nilai-nilai kesantriannya- agar bisa mengakses peran-peran dalam berbagai bidang di pemerintahan, baik sosial-politik maupun ekonomi. Terakhir, Asrorun Niam mewanti-wanti jangan sampai Hari Santri ini hanya menjadi sebuah prasasti belaka dan membuat kita bernostalgia.

Ida Fauziyah : Hari Santri Harus dinikmati Masyarakat Luas

Ida Fauziyah seorang politisi perempuan cukup senior dan disegani di parlemen. Selain karena tiga periode berturut-turut selalu masuk ke senayan, pengalaman dan dedikasinya membuatnya semakin diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Sebagai seorag santri, ia bersama PKB sedang memperjuangkan RUU Pendidikan Madrasah dan Pesantren.

Pesantren itu berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Lulus dari pondok pesantren, Ida fauziyah merasakan sendiri pengaruhnya di dunia luar. Karena dari pesantren, ia belajar kemasyarakatan dan kemandirian serta belajar berorganisasi secara langsung. Jadi itu yang membedakannya. “Saya ketika di pesantren misalnya, sudah belajar berkomunikasi dengan masyarakat melalui pengajian-pengajian yang kita adakan. “ ceritanya.

Menurutnya tantangan yang harus dihadapi oleh pesantren dan santrinya, adalah bagaimana santri di tengah masyarakat modern dan kemajuan teknologi ini bisa menyampaikan dakwahnya. Sehinga santri bisa menjawab kebutuhan zaman yang berkembang.

Terkait Hari Santri Nasional yang ditetapkan pemerintah, Ida memilih memaknai santri menjadi lebih luas. Yaitu bagaimana hari santri itu, menjadi harinya bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia pun ikut menikmati dengan kehadiran hari santri.

Dangan adanya apresiasi ini, ia mengatakan bahwa “santri harus membangun pemahaman masyarakat di luar santri bahwa santri itu bagian integral dari bangsa ini. berbicara semangat kebangsaan, mereka para santri tidak kalah, justru berada di garda depan membela negara.” Karena itu menurut Ida, Santri perlu melakukan upaya untuk, bagaiman Hari santri ini dinikmati masyarakat lebih luas.

Sumber:Jaringansantri.com

Mengenal Apa Itu Hari Santri Nasional Menurut Tokoh Santri

Loading...

Mengenal apa itu Hari Santri Nasional. Awal mula Sejarah Hari Santri Nasional adalah dari adanya Resolusi jihad yang dicetuskan oleh salah satu ulama yaitu pendiri NU KH. Hasyim Asy'ari pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 di Surabaya. Hal ini dilakukan sebagai car untuk mengantisipasi kembalinya penjajah kolonial Belanda yang mengatasnamakan diri mereka sebagai NICA.

Menurut KH. Hasyim Asy’ari hukum dalam membela tanah air itu hukumnya wajib (fardlu’ain) bagi setiap orang.

Generasi emas para santri telah banyak memberikan pelajaran berharga bagaimana para santri menancapkan rasa kebangsaan yang tinggi dengan nilai-nilai luhur demi keutuhan umat dan menyelamatkan bangsa dan Negara.

Lalu bagaimana pandangan para santri yang sekarang menempati posisi atau jabatan penting untuk melakukan perubahan di negeri ini? berikut ini adalah hasil wawancara pustakacompass.com kepada para tokoh santri.


Cak Imin : Hari Santri Nasional Pererat Persatuan Bangsa

Berbicara tentang santri dan segala keunikan serta sepak terjangnya di negeri ini, Cak Imin mengatakan, “Kaum santri sangat berpengalaman menjadikan agama sebagai landasan etis dalam kehidupan terhadap lingkungan hidup.”

Keakraban santri dengan budaya asli lokal menghasilkan kreasi budaya yang bisa atasi kesenjangan sosial budaya antar golongan. Terikait ini ia tegas mengatakan “Siapa yang berani nyangkal, kalau perkembangan masa depan Islam di negeri tercinta ini, banyak ditentukan peran budaya santri.” Ini adalah sebuah penegasan yang berani.

Kaum santri punya komitmen menjalankan Islam Nusantara dengan pemikiran, gerakan dan kebersamaan. Karena kaum santri punya sejarah panjang. Terhubung dari ulama era walisongo dan tersambung dalam pengetahuan serta keakraban.

Cak Imin mengajak warga Indonesia dan umat Islam khususnya untuk menyambut Hari Santri Nasional pada 22 Oktober. “Saatnya kaum santri meraih tempat di negeri ini yang sudah menjadi haknya.” ujarnya.

Dalam pandangan Cak Imin, wujud penghargaan peran santri salah satunya adalah Perang Rakyat Semesta 10 November yang diawali Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Hari itu, santri menggemakan Perang Rakyat Semesta dengan resolusi jihadnya merupakan pertama dalam sejarah kita melawan penjajah.

“Ini pertanda sikap kaum santri bahwa pembentukan RI 17 Agustus 1945 sah hukumnya!” tandas Ketua Umum PKB ini. Karenanya, penetapan Hari Santri 22 Oktober haqqul yaqinpererat persatuan bangsa. Sejarah santri nusantara adalah sejarah kemashlahatan umat. Dan santri juga selalu menjunjung kesatuan dan keragaman.

Selain itu, Penetapan Hari Santri 22 Oktober merupakan ungkapan ‘sense of destiny’ (rasa kesejarahan) kita terhadap peran santri bagi negeri. Sebaga Ketum PKB ia menyampaikan bahwa “Kita kader PKB dan kaum santri bangga bisa membangun budaya egaliter yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan.”

Terakhir, kepada seluruh Santri Indonesia, Muhaimin berpesan dengan mengajak “Ayo! Kaum Santri sebagai putra-putri terbaik bangsa, derapkan langkah ke poros peradaban Indonesia. Insya Allah! Santri menjadi komunitas penting yang menopang Indonesia sejahtera di masa datang.”

Pandangan Cak Jazil Tentang Santri

Pribadinyabegitu ramah dan sederhana.Tuturnya jelas,apa adanya.Iajuga sosok yang sangat religius. Inilah Jazilul Fawaid, Anggota F-PKB DPR RI.

Di tengah kesibukkannya yang luar biasa, Jazil menyempatkan waktu untuk wawancara eksklusif dengan pustakacompass.com. Sejak dilantik sebagai Anggota DPR, Jazil dipercaya menempati kursi Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR. Selain itu, ia juga duduk sebagai Anggota Komisi V DPR.

Menyikapi diresmikannya Hari Santri Nasional, peraih magister Ulumul Qur’an-Hadits IIQ ini berpandangan bahwa “makna Hari Santri tentu bukan makna seremonial, tapi sebagai simbol eksistensi santri. Dan itu tidak hanya milik santri, melainkan milik semua anak bangsa.”

Karena itu, yang terpenting adalah nilai-nilai kesantrian yang harus dipegang teguh. Nilai-nilai tersebut adalah, nilai perjuangan, karena santri itu pendakwah dan pasti berjuang, nilai kemandirian, karena santri itu pasti mandiri. Dari awal santri diajarkan untuk mandiri dalam sikap maupun beraktifitas dan terakhir nilai pengabdian. Nilai pertama dan kedua akan sia-sia jika tidak diabdikan. “nilai yang ketiga ini, lambat laun sudah berkurang” tuturnya.

Ketiga nilai itu lahir dan selalu dipegang santri dari zaman penjajahan. “Dahulu, santri adalah antitesa dari penjajah, berada di luar kekuasaan”, kata Mahasiswa S3 Program Studi Ilmu Managemen UNJ ini. Santri mandiri sebagai kelas pedagang dan aktif dalam kegiatan ekonomi. Dari sinilah santri bisa berjuang dan mengabdi untuk tanah air dan merebut kemerdekaan.

Sekarang, justru santri harus mengambil posisi strategis dalam politik, baik di pemerintahan atau parlemen. Posisi yang penting menurut Jazil dalam parlemen adalah berjuang di bidang anggaran. Dan ia sendiri sedang berjuang di bagian ini sebagai wakil ketua Banggar. Bagaiamana berjuangnya? Ia mengatakan “uang yang diperoleh dari rakyat harus dikembalikan secepatnya untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat”.

Ia mempunyai prinsip bahwa hidup ini harus punya misi perjuangan. Dan tantang perjuangan santri di parlemen adalah memecahkan masalah-masalah rakyat. Terakhir, Jazil berpesan “untuk Santri dan Pesantren kedepannya yang terpenting adalah menjaga nilai-nilainya, berjuang dan mengabdi”.

Peran Santri Menurut Fathan Subhi

Fathan terpilih sebagai anggota DPR RI di periode 2014-2019. Menempati posisi anggota Komisi VIII (sosial, agama, pemberdayaan perempuan) sebagai Wakil Ketua. Lalu pada masa sidang pertama 2015-2016, Fathan dipindahkan ke Komisi V yang mebidangi Perhubungan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Pembangunan Pedesaan dan Kawasan Tertinggal, Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Pada tahun 2015 juga, ia dipercaya dan dipilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PW IKA-PMII DKI Jakarta periode 2015-2020.

Fathan berpandangan, Santri yang berkarir dan berjuang dalam dunia politik sudah banyak. Santri harus bergeser ke sektor lain khususnya sektor ekonomi. Terkait peran santri, “Saya kira santri juga harus mengevalusi diri dan meningkatkan kapasitasnya” jelasnya. Pendapatnya ini tidak main-main, mengingat ia adalah anggota Departemen Bidang Ekonomi MUI Pusat dan pernah menjabat sebagai Pengurus Lembaga Perekonomian NU tahun 2010-2015.

Terkait posisi santri dalam pemerintahan, ia menyampaikan “Peran dalam politik sudah banyak, namun dalam sektor yang lain, sosial, budaya dan ekonomi belum terjamah secara menyeluruh”. Dam dalam bidang ekonomi belum dirambah secara luas.

Oleh karena itu, menurut Fathan, santri dan pemerintah harus menyusun langkah-langkah bersama ke depan, sehingga sektor ekonomi menjadi konsen dari garapan santri. Jika santri sudah bergerak dalam bidang ekonomi, tentunya akan meningkatkan derajat umat. “Saya menekankan fokus pada pengembangan ekonomi rakyat kecil”, tegas orang yang juga menjabat sebagai Sekretaris LPNU PBNU ini.

Pemerintah harus memberikan akses yang sebesar-besar kepada Santri, karena selama ini masyarakta santri dipandang sebelah mata. Dengan adanya Hari Santri ini, tentunya menjadi tanda pengakuan negara terhadap eksistensi santri sebagai komponen bangsa yang ikut dalam perjuangan, pergerakan dan reformasi. “Saya kira santri sudah harus menjadi aktor pembangunan”, tuturnya, mengakhiri.

Suryadi Hendarman : Santri Harus Punya Landasan Ideologi kebangsaan yang Kuat

Ir. H. Suryadi Hendarman MM. adalah salah seorang santri yang merasa sangat beruntung karena pernah menjadi murid utama Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya dan Pimpinan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Suryadi menjadi santri sukses dan menjadi panutan seperti sekarang ini, tidak lain karena berkah pengabdiannya pada kiainya dan kepatuhannya kepada kedua orang tuanya Drs. H. Mulyono Soetarmo (Alm) dan Ibunda Rr. Hj. Widaningsih.

Kembali bercerita tentang pesantrennya, Suryadi mengaku mengalami banyak perubahan setelah mendalami ilmu agama di Pesantren, diantaranya ia dapat hidup bahagia, merasakan kedamaian dan lebih menghormati orang lain tanpa melihat kedudukan.

Ia mengingat betul pesan Abah Anom yang sekarang masih melekat. “Waktu kamu di dalam Pesantren sampai kamu keluar, sampai kamu meninggal, jangan sekali-kali meninggalkan Shalat wajib, jangan sekali-kali kamu meninggalkan shalat sunnah dhuha.” “Begitu dawuh Abah Anom”.

Di peringatan Hari santri Nasional ini, ia berpesan kepada para santri seluruh Indonesia, bahwa santri harus punya landasan ideologi kebangsaan yang kuat untuk NKRI, pancasila dan pemahaman Islam rahmatan lil alamin. Pemahaman tersebut adalah paket doktrin yang harus ditanamkan dan dijalankan oleh santri sejak dini.

Asrorun Ni’am : Etos Keagamaan Santri

Asrorun Niam Sholeh, seorang santri aktivis muda, penuh semangat, dan mempunyai pembawaan yang ramah. Ia sekarang menjabat sebagai Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Mantan Ketua PP IPNU yang lahir di Nganjuk, 31 Mei 1976 ini memiliki pengalaman organisasi dan pendidikan yang sangat panjang.

Sejak menjabat sebagai Ketua Umum PMII (1998-1999) dan berperan dalam menggulingkan rezim orde baru, namanya mulai diperhitungkan. Karirnya dalam organisasi dan pendidikan terus melejit. Lulus dari UIN Jakarta ia belajar ke Al-Azhar Mesir tahun 1999, dan kembali lagi tahun 2003 untuk mengajar di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Jakarta.

Sebagai seorang praktisi, strategi dan pencapaiannya tidak lepas dari etos keagamaan santri yang ia pegang. Bagi Niam, “Santri harus bisa menjalankan nilai-nilai keagamaan yang menjadi kekuatannya untuk diimplementasi dalam kehidupan sekarang. Terkait dengan isu hak asasi, demokratisasi, penyusunan peraturan perundang-undangan, penyusunan kebijakan publik” jelasnya.

Menurutnya, Penetapan hari santri pada 22 Oktober itu sebagai penanda atau prasasti untuk mengingatkan bahwa di dalam proses perjuangan bangsa Indonesia ada peran santri yang sangat signifikan. Tapi terlepas ada atau tidak adanya perngakuan negara, sejarah tidak mungkin bisa dihapus. Ia mengatakan “Ini satu hal yang menjadi prasasti historik, Tetapi ada hal yang lebih penting, yaitu bagaimana etos keagamaan kaum santri dan juga semangat kesantrian itu bisa menjelma mewarnai di dalam proses berbangsa dan bernegara.”

Di sini NU harus menjadi jembatan bagi mobilitas santri – dengan nilai-nilai kesantriannya- agar bisa mengakses peran-peran dalam berbagai bidang di pemerintahan, baik sosial-politik maupun ekonomi. Terakhir, Asrorun Niam mewanti-wanti jangan sampai Hari Santri ini hanya menjadi sebuah prasasti belaka dan membuat kita bernostalgia.

Ida Fauziyah : Hari Santri Harus dinikmati Masyarakat Luas

Ida Fauziyah seorang politisi perempuan cukup senior dan disegani di parlemen. Selain karena tiga periode berturut-turut selalu masuk ke senayan, pengalaman dan dedikasinya membuatnya semakin diperhitungkan dalam kancah politik nasional. Sebagai seorag santri, ia bersama PKB sedang memperjuangkan RUU Pendidikan Madrasah dan Pesantren.

Pesantren itu berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Lulus dari pondok pesantren, Ida fauziyah merasakan sendiri pengaruhnya di dunia luar. Karena dari pesantren, ia belajar kemasyarakatan dan kemandirian serta belajar berorganisasi secara langsung. Jadi itu yang membedakannya. “Saya ketika di pesantren misalnya, sudah belajar berkomunikasi dengan masyarakat melalui pengajian-pengajian yang kita adakan. “ ceritanya.

Menurutnya tantangan yang harus dihadapi oleh pesantren dan santrinya, adalah bagaimana santri di tengah masyarakat modern dan kemajuan teknologi ini bisa menyampaikan dakwahnya. Sehinga santri bisa menjawab kebutuhan zaman yang berkembang.

Terkait Hari Santri Nasional yang ditetapkan pemerintah, Ida memilih memaknai santri menjadi lebih luas. Yaitu bagaimana hari santri itu, menjadi harinya bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia pun ikut menikmati dengan kehadiran hari santri.

Dangan adanya apresiasi ini, ia mengatakan bahwa “santri harus membangun pemahaman masyarakat di luar santri bahwa santri itu bagian integral dari bangsa ini. berbicara semangat kebangsaan, mereka para santri tidak kalah, justru berada di garda depan membela negara.” Karena itu menurut Ida, Santri perlu melakukan upaya untuk, bagaiman Hari santri ini dinikmati masyarakat lebih luas.

Sumber:Jaringansantri.com
Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random