Jodoh merupakan sesuatu yang menjadi sebuah misteri bagi sebagian orang, pun juga khususnya disini tentang persoalan jodoh bagi santriwan-santriwati. Bagi para santri yang sudah siap untuk menjalin hubungan halal yaitu pernikahan, Tentu sebagian mereka banyak yang menginginkan bertemu jodoh yang tak jauh dari latar belakang sebagai anak pesantrenan. Misalnya ketika ada cowok santri yang sudah siap menikah tentu berharap juga mendapatkan sosok santriwati juga yang siap untuk diajak nikah. Tentu mereka pun banyak mempunyai alasan mengapa sebagai cowok pesantren juga ingin/berharap untuk meminang santriwati.

Nah, lalu hal apa saja cara yang dilakukan para santri untuk mendapatkan jodoh santriwati. Berikut link kontak-kontak sebagai sarana supaya di pertemukan jodoh sesama santri baik itu santriwati/santri putra.

1.Sowan Kiai atau pengasuh pesantrennya

Biasanya ketika ada santri yang sudah ingin segera menikah hal yang dilakukan adalah dengan sowan kiai. Mereka percaya dengan sowan ke guru bisa mendapatkan pujaan hatinya, dimana hal itu sebagai lantaran untuk menemukan pasangan saja. Dan tak cuma hal itu saja harapan mendapatkan berkah dari Kiai juga menjadi salah satu tujuan utama. Disamping itu calon pasangan yang akan dipilihkan kiai nantinya tentu menjadi sebuah pilihan tepat dan ampuh yang banyak dipercaya sebagai sepasang suami istri.

Hal lainnya seperti yang dilansir dari datdut.com cara santri menemukan jodoh belahan jiwanya adalah sebagai berikut:

2.Menggali informasi dari saudara teman seperjuangan mondok

Salah satu humor santri adalah pertanyaan: “kamu punya mbak tidak?” Di kalangan santri putra, pertanyaan ini sering dilontarkan pada santri lain yang lebih junior. Apalagi kalau santri junior itu tergolong ganteng dan imut-imut. Logikanya, kalau adik saja ganteng, pasti mbaknya cakep. Mungkin pertanyaan sejenis juga berlaku di kalangan santri putri, saya kurang tahu. Soal kenyataan bahwa si kakak ternyata beda wujud dari adiknya, itu urusan nanti.

Memang, mencari belahan jiwa lewat teman juga menjadi salah satu trend di pesantren. Alasannya karena teman yang punya saudara baik kakak atau adik akan bisa menjadi penghubung dengan pihak lawan jenis. Ada juga yang memang mencarikan jodoh buat saudaranya. Kalau yang ini, biasanya akan menawarkan kepada teman atau ustad yang ia anggap layak.

3.Ustad-Santriwati

Di sebagian besar pesantren, pemisahan antara santri putra dan putri belum bisa diikuti dengan menyediakan pengajar sesuai pemisahan jenis kelamin. Masih banyak ustad yang terpaksa ditempatkan di kelas putri. Biasanya diutamakan mereka yang sudah berkeluarga. Kalau tidak ada, maka ustad yang lumayan senior dan dewasa yang ditempatkan. Mungkin agar lebih bisa menjaga diri. Sekaligus agar si ustadz tersebut punya lebih banyak kesempatan untuk “memilih”.

Iya, memilih pasangan hidup. Dan, tidak sedikit lho para guru yang akhirnya memperistri santri putri binaan mereka. Sebenarnya tidak selalu dari kelas yang dibina oleh si ustad, kadang juga mendapat jodoh dari kelas lain.

4. Sesama Santri Abdi Dalem

Kalangan santri bukan ustadzatau pengurus, tapi bisa sering bertemu mbak pondok, sebutan umum santri putri, adalah bagian santri abdi dalem. Santri yang membantu pekerjaan rumah tangga kiai. Biasanya yang perempuan lebih sering bertugas di dapur, sedangkan yang cowok sering bertugas di luaran untuk belanja dan sebagainya. Kadang juga menjadi sopir kiai.

Tidak sedikit santri dari kalangan relawan di dapur kiai ini yang akhirnya mengikat cinta di pelaminan. Sering berinteraksi, bertegur sapa, kadang juga bercanda dalam batas wajar, membuat mereka saling tahu karakter masing-masing. Ketika cocok semua, baik kedua pihak maupun dengan izin kiai, tak perlu lama-lama mereka akhirnya menikah.

5.Dijodohkan Kiai

Bagi yang masih jomblo tulen, belum punya pacar maupun incaran, dijodohkan oleh kiai adalah karunia besar. Kalau ternyata dijodohkan dengan orang yang dari sisi fisik kurang ganteng ataupun kurang cantik, mereka masih berharap berkah dari doa dan restu sang guru. Kiai yang mendidik mereka. Kalau ternyata pasangan yang didapat sesuai selera, itu namanya ibarat mendapat durian runtuh.

Tapi tak jarang pula santri yang merasa kiamat ketika dijodohkan oleh kiai. Mereka dari kalangan santri yang sudah punya pilihan hati. Dilema antara harus taat dengan kiai atau taat dengan cinta mau tak mau menjadi pikiran sendiri. Kalau menuruti kiai, kekasih tersakiti. Kalau memilih kekasih, guru yang tersinggung. Nah, Anda menemukan pasangan hidup dari jalur mana?

Cari Jodoh Santriwati 5 Hal Yang Dilakukan Para Santri

Loading...

Jodoh merupakan sesuatu yang menjadi sebuah misteri bagi sebagian orang, pun juga khususnya disini tentang persoalan jodoh bagi santriwan-santriwati. Bagi para santri yang sudah siap untuk menjalin hubungan halal yaitu pernikahan, Tentu sebagian mereka banyak yang menginginkan bertemu jodoh yang tak jauh dari latar belakang sebagai anak pesantrenan. Misalnya ketika ada cowok santri yang sudah siap menikah tentu berharap juga mendapatkan sosok santriwati juga yang siap untuk diajak nikah. Tentu mereka pun banyak mempunyai alasan mengapa sebagai cowok pesantren juga ingin/berharap untuk meminang santriwati.

Nah, lalu hal apa saja cara yang dilakukan para santri untuk mendapatkan jodoh santriwati. Berikut link kontak-kontak sebagai sarana supaya di pertemukan jodoh sesama santri baik itu santriwati/santri putra.

1.Sowan Kiai atau pengasuh pesantrennya

Biasanya ketika ada santri yang sudah ingin segera menikah hal yang dilakukan adalah dengan sowan kiai. Mereka percaya dengan sowan ke guru bisa mendapatkan pujaan hatinya, dimana hal itu sebagai lantaran untuk menemukan pasangan saja. Dan tak cuma hal itu saja harapan mendapatkan berkah dari Kiai juga menjadi salah satu tujuan utama. Disamping itu calon pasangan yang akan dipilihkan kiai nantinya tentu menjadi sebuah pilihan tepat dan ampuh yang banyak dipercaya sebagai sepasang suami istri.

Hal lainnya seperti yang dilansir dari datdut.com cara santri menemukan jodoh belahan jiwanya adalah sebagai berikut:

2.Menggali informasi dari saudara teman seperjuangan mondok

Salah satu humor santri adalah pertanyaan: “kamu punya mbak tidak?” Di kalangan santri putra, pertanyaan ini sering dilontarkan pada santri lain yang lebih junior. Apalagi kalau santri junior itu tergolong ganteng dan imut-imut. Logikanya, kalau adik saja ganteng, pasti mbaknya cakep. Mungkin pertanyaan sejenis juga berlaku di kalangan santri putri, saya kurang tahu. Soal kenyataan bahwa si kakak ternyata beda wujud dari adiknya, itu urusan nanti.

Memang, mencari belahan jiwa lewat teman juga menjadi salah satu trend di pesantren. Alasannya karena teman yang punya saudara baik kakak atau adik akan bisa menjadi penghubung dengan pihak lawan jenis. Ada juga yang memang mencarikan jodoh buat saudaranya. Kalau yang ini, biasanya akan menawarkan kepada teman atau ustad yang ia anggap layak.

3.Ustad-Santriwati

Di sebagian besar pesantren, pemisahan antara santri putra dan putri belum bisa diikuti dengan menyediakan pengajar sesuai pemisahan jenis kelamin. Masih banyak ustad yang terpaksa ditempatkan di kelas putri. Biasanya diutamakan mereka yang sudah berkeluarga. Kalau tidak ada, maka ustad yang lumayan senior dan dewasa yang ditempatkan. Mungkin agar lebih bisa menjaga diri. Sekaligus agar si ustadz tersebut punya lebih banyak kesempatan untuk “memilih”.

Iya, memilih pasangan hidup. Dan, tidak sedikit lho para guru yang akhirnya memperistri santri putri binaan mereka. Sebenarnya tidak selalu dari kelas yang dibina oleh si ustad, kadang juga mendapat jodoh dari kelas lain.

4. Sesama Santri Abdi Dalem

Kalangan santri bukan ustadzatau pengurus, tapi bisa sering bertemu mbak pondok, sebutan umum santri putri, adalah bagian santri abdi dalem. Santri yang membantu pekerjaan rumah tangga kiai. Biasanya yang perempuan lebih sering bertugas di dapur, sedangkan yang cowok sering bertugas di luaran untuk belanja dan sebagainya. Kadang juga menjadi sopir kiai.

Tidak sedikit santri dari kalangan relawan di dapur kiai ini yang akhirnya mengikat cinta di pelaminan. Sering berinteraksi, bertegur sapa, kadang juga bercanda dalam batas wajar, membuat mereka saling tahu karakter masing-masing. Ketika cocok semua, baik kedua pihak maupun dengan izin kiai, tak perlu lama-lama mereka akhirnya menikah.

5.Dijodohkan Kiai

Bagi yang masih jomblo tulen, belum punya pacar maupun incaran, dijodohkan oleh kiai adalah karunia besar. Kalau ternyata dijodohkan dengan orang yang dari sisi fisik kurang ganteng ataupun kurang cantik, mereka masih berharap berkah dari doa dan restu sang guru. Kiai yang mendidik mereka. Kalau ternyata pasangan yang didapat sesuai selera, itu namanya ibarat mendapat durian runtuh.

Tapi tak jarang pula santri yang merasa kiamat ketika dijodohkan oleh kiai. Mereka dari kalangan santri yang sudah punya pilihan hati. Dilema antara harus taat dengan kiai atau taat dengan cinta mau tak mau menjadi pikiran sendiri. Kalau menuruti kiai, kekasih tersakiti. Kalau memilih kekasih, guru yang tersinggung. Nah, Anda menemukan pasangan hidup dari jalur mana?

Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random