Ungkapan penjara suci (Pesantren) saat kamu sebagai anak santri mulai terasa/merasakan kejam dari pada Ibu tiri yang jahat ataupun ungkapan lain ketika kamu berada di Pesantren mungkin sedang kamu rasakan.

Dari segala beban berat tanggung jawab jadwal kegiatan yang ada di Pesantren mulai kewajiban menghafal, larangan-larangan hal haram yang berlaku di pondok jadi terasa kejam dari pada Ibu tiri yang jahat. Dari hal itu sempat terbesit di pikiranmu untuk menyerah ditengah jalan atau ingin segera keluar dari Pondok Pesantren (boyongan), tapi keluar dari pesantren nggak bisa dilakukan dengan asal-asalan alasan yang kurang logis. Butuh banyak pertimbangan, nah untuk membantumu berpikir seraya memutuskan, santriyai.com akn memberikan 5 motivasi atau penyemangat diri untukmu yang saat ini mungkin sedang merasa ingin enyah dari pondok yang sudah mulai terasa lebih kejam dari ibu tiri.


1. Meski tanggungan belajar semakin terasa berat, kamu harus selalu ingat tekad diri untuk membuat orangtua bangga dengan kesuksesan menuntut ilmu ini.

Tanggungan mondok/belajar yang berat seringkali membuatmu berpikir untuk enyah saja dari pondok. Sebelum itu terjadi ingatlah tekadmu dari awal masuk pesantren dulu sebelum masuk pesantren, apakah itu sudah terlaksana? Apakah orangtuamu akan bangga melihat kamu pulang dengan belum jadi apa-apa. Ingat juga pesan mereka ‘sebelum pulang kamu sudah harus jadi orang yang lebih baik dan banyak memiliki pengetahuan Agama yang lebih’.

2.Saat merasa capek dengan tuntutan kegiatan belajar yang membebanimu, ingatlah orangtua yang selalu bertanya “kapan hafalanmu selesai nak (hal lain)?”

Nggak bisa dipungkiri bahwa beban apapun itu terasa lebih berat jika ditilik dari tahapan materi pelajaran dirimu di sana dan juga derita-derita yang dilalui saat jadi seorang santri, membayangkannya saja kadang pusing sendiri. Tapi bukankah itu sudah menjadi resiko yang harus kamu tanggung ketika memutuskan masuk pesantren? Sebelum kamu menyerah, pikirkan dulu sekali rencana, target untuk menjawab harapan dari orangtua yang berulangkali bertanya ‘kapan kamu hafal, Nak?’.

3.Pengurus galak dan kamu anggap nggak memanusiakan santri sempat bikin kamu ingin boyong. 

Tapi kamu mengingat lagi hal apa yang sudah kamu bisa selama ini, bahkan ternyata kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Pesantren. Menyebalkan mungkin menjadi salah satu alasanmu untuk keluar, Sebelum kamu benar-benar melakukannya cobalah membuka mata akan banyaknya orang-orang awam jaman now di luar sana yang belum paham agama terlebih diri kita sendiri.

4. Kehidupan di pesantren yang semakin terasa berat dan mungkin kamu berkata kejam bikin kamu ingin kembali ke kampung halaman. Tapi ingatlah soal perolehan ilmu yang kamu dapatkan.

Tuntutan belajar yang ketat juga nggak ada habisnya seringkali membuatmu merasa ‘tua di pesantren’ membuatmu ingin pulang ke kampung halaman untuk bekerja sembari menikmati hidup. Sebelum itu terjadi ingatlah bahwa selalu ada harga yang sepadan untuk sesuatu yang berharga.

5. Dengan melihat banyaknya dunia ini semakin beraneka ragam arus negatif datang, otomatis relasi yang kamu dapatkan dari pesantren juga bagus untuk hidupmu ke depan.

Meskipun bebannya berat, tapi menuntut ilmu memungkinkanmu bertemu orang-orang hebat dan shaleh. Kamu nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bisa saja beban berat mempermudah hidupmu di kemudian hari jikalau mau bersabar. Semoga masa depan cerah menyertaimu.

5 Hal Yang Jadi Penyemangat Kamu Sebagai Anak Santri, Saat Mulai Terasa Kejam Dari Ibu Tiri

Loading...

Ungkapan penjara suci (Pesantren) saat kamu sebagai anak santri mulai terasa/merasakan kejam dari pada Ibu tiri yang jahat ataupun ungkapan lain ketika kamu berada di Pesantren mungkin sedang kamu rasakan.

Dari segala beban berat tanggung jawab jadwal kegiatan yang ada di Pesantren mulai kewajiban menghafal, larangan-larangan hal haram yang berlaku di pondok jadi terasa kejam dari pada Ibu tiri yang jahat. Dari hal itu sempat terbesit di pikiranmu untuk menyerah ditengah jalan atau ingin segera keluar dari Pondok Pesantren (boyongan), tapi keluar dari pesantren nggak bisa dilakukan dengan asal-asalan alasan yang kurang logis. Butuh banyak pertimbangan, nah untuk membantumu berpikir seraya memutuskan, santriyai.com akn memberikan 5 motivasi atau penyemangat diri untukmu yang saat ini mungkin sedang merasa ingin enyah dari pondok yang sudah mulai terasa lebih kejam dari ibu tiri.


1. Meski tanggungan belajar semakin terasa berat, kamu harus selalu ingat tekad diri untuk membuat orangtua bangga dengan kesuksesan menuntut ilmu ini.

Tanggungan mondok/belajar yang berat seringkali membuatmu berpikir untuk enyah saja dari pondok. Sebelum itu terjadi ingatlah tekadmu dari awal masuk pesantren dulu sebelum masuk pesantren, apakah itu sudah terlaksana? Apakah orangtuamu akan bangga melihat kamu pulang dengan belum jadi apa-apa. Ingat juga pesan mereka ‘sebelum pulang kamu sudah harus jadi orang yang lebih baik dan banyak memiliki pengetahuan Agama yang lebih’.

2.Saat merasa capek dengan tuntutan kegiatan belajar yang membebanimu, ingatlah orangtua yang selalu bertanya “kapan hafalanmu selesai nak (hal lain)?”

Nggak bisa dipungkiri bahwa beban apapun itu terasa lebih berat jika ditilik dari tahapan materi pelajaran dirimu di sana dan juga derita-derita yang dilalui saat jadi seorang santri, membayangkannya saja kadang pusing sendiri. Tapi bukankah itu sudah menjadi resiko yang harus kamu tanggung ketika memutuskan masuk pesantren? Sebelum kamu menyerah, pikirkan dulu sekali rencana, target untuk menjawab harapan dari orangtua yang berulangkali bertanya ‘kapan kamu hafal, Nak?’.

3.Pengurus galak dan kamu anggap nggak memanusiakan santri sempat bikin kamu ingin boyong. 

Tapi kamu mengingat lagi hal apa yang sudah kamu bisa selama ini, bahkan ternyata kamu sudah bertahun-tahun tinggal di Pesantren. Menyebalkan mungkin menjadi salah satu alasanmu untuk keluar, Sebelum kamu benar-benar melakukannya cobalah membuka mata akan banyaknya orang-orang awam jaman now di luar sana yang belum paham agama terlebih diri kita sendiri.

4. Kehidupan di pesantren yang semakin terasa berat dan mungkin kamu berkata kejam bikin kamu ingin kembali ke kampung halaman. Tapi ingatlah soal perolehan ilmu yang kamu dapatkan.

Tuntutan belajar yang ketat juga nggak ada habisnya seringkali membuatmu merasa ‘tua di pesantren’ membuatmu ingin pulang ke kampung halaman untuk bekerja sembari menikmati hidup. Sebelum itu terjadi ingatlah bahwa selalu ada harga yang sepadan untuk sesuatu yang berharga.

5. Dengan melihat banyaknya dunia ini semakin beraneka ragam arus negatif datang, otomatis relasi yang kamu dapatkan dari pesantren juga bagus untuk hidupmu ke depan.

Meskipun bebannya berat, tapi menuntut ilmu memungkinkanmu bertemu orang-orang hebat dan shaleh. Kamu nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bisa saja beban berat mempermudah hidupmu di kemudian hari jikalau mau bersabar. Semoga masa depan cerah menyertaimu.

Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random