6 Hal Yang Dapat Jadi Inspirasi Ketika Mondok Sebelum Memutuskan Keluar/Boyong
Foto:IG Ala Santri
Masuk ke Pesantren adalah sebuah komitmen seseorang ataupun dilatar belakangi oleh kemauan orang tua yang sangat menginginkan anaknya mondok. Orang yang memutuskan masuk kepesantren adalah orang-orang yang berani berkomitmen demi kebahagian jangka panjang dalam menuju kehidupan yang hakiki dan juga tentunya semua demi memperjuangkan Agama.

Menjalani kehidupan jadi seorang santri itu memang tak mudah, selain saat di pesantren selalu ada cobaan terberat yang selalu hadir menemani setiap langkah dalam menuntut ilmu serta nantinya setelah keluar dari pesantren (boyong) seorang santri juga di tuntut menjadi PAKU, yang bisa menyatukan berbagi lapis masyarakat meski dia sendiri tak terlihat (Kata Inspirasi KH Abdul Aziz Manshur).

Tetapi terkadang juga sangat disayangkan jika ada anak pesantren memutuskan untuk keluar dari pondok pesantren (boyongan) sebelum lulus dan benar-benar menguasai banyak Ilmu. Adapun juga santri yang akhirnya menyerah ditengah jalan, lalu hal ini dapat menyebabkan ia menjadi boyong (Bahasa Pesantren Keluar Pondok). Banyak faktor dan alasan kenapa anak keluar pondok dengan tiba-tiba.

Bukan maksud mengolok-olok anak pesantren yang gak betah sebentar mondok atau tidak sampai lulus dan menguasai ilmu, karena santriyai.com pun juga begitu. Namun untuk melepas kepenatan pribadi sendiri maka dari situlah admin menulis artikel ini, yang barangkali menjadi sebuah inspirasi seorang santri yang mondok.

1.Sebetulnya mesantren lama ataupun sebentar adalah hak preogatif setiap masing-masing individu. Menuntut Ilmu di Pesantren itu emang harus didasari kemantapan/keyakinan hati untuk sebuah kemanfaatan diri sendiri serta tak lain untuk kemanfaatan keluarga juga masyarakat.

Namun kadang kita juga pernah mendengar dan juga perlu kita renungkan jika ada orang yang sebentar mondok tapi jago membaca kitab kosongan (GANDUL). Namun juga perlu di ketahui semacam itu hanya orang-orang tertentu saja dan biasanya orang yang sudah bernasab Kiai. Setiap orang bisa menguasai/mendapatkan Ilmu itu dengan berbagai cara yang berbeda dalam setiap langkah yang dijalaninya.

2.Masuk Pesantren bukan hanya sekedar hasil mendapatkan ilmu, namun soal bisa atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting adalah mengaji dan mengaji saat di Pondok, nggak usah mikir ini itu. Karena Kamu tidak akan bisa mengubah apa yang kamu inginkan melainkan atas izin Tuhan.

Jangan pernah berfikir saat di Pesantren bisa buat kamu jadi anak orang yang paham Ilmu Agama seperti apa yang kamu harapkan. Karena itu malah bisa membuat merasa kecewa atas ekspetasimu yang berlebihan. Daripada berusaha mengubah setiap harapanmu mending berusaha untuk istiqomah belajar, tirakat dan menurut apa yang Kiaimu sarankan.

3.Latar belakang keluarga tentu menjadi salah satu yang bisa mempengaruhi seorang santri menjalani hidup di Pesantren jadi kurang full time/konsisten serta pasti terasa sulit karena mungkin keluarga cenderung ingin kamu cepet pulang karena berbagai hal sebab.

Orang tua/keluarga adalah hal yang utama bagi setiap orang merasa sedikit membuat bimbang saat kamu nyantri. Kalau keluarga nggak pernah mendorong atau memberikan hal apa kamu butuhkan ketika mondok tentu hal ini semakin terasa berat dan sulit. Namun, kata wejangan dari Guru santriyai.com yang pernah saya peroleh,

Tidak ada jalan mundur,” ujar Kiai, “Seperti halnya Khalid bin Walid yang membakar kapal-kapal tentara kaum muslimin saat ekspansi ke Eropa. Sehingga mereka tak lagi bisa mundur, takada pilihan lain selain maju bertempur. Maka begitulah semestinya pemuda, kalian-kalian ini, perjalanan masih panjang. Jangan sampai patah semangat!Dalam hidup tidak ada jalan mundur.”

4.Tentu banyak masyarakat kampung halamanmu kala mendengar anak yang mondok itu selalu dikaitkan dengan sosok orang generasi tokoh kampung dan hal ini juga tentu menjadi salah satu bagaimana kamu mempunyai cara agar tetap bisa bertahan di Pesantren sebelum akhirnya sesal menghampiri karena belum bisa menguasai.

Hal ini bisa jadi masalah di masa yang akan datang saat di kampung halamanmu, terlebih kamu membawa nama santri serta Pondok Pesantren yang kamu tinggali itu. Di saat kamu pulang sudah tak kembali lagi ke Pondok seiring berjalannya waktu tentu Ilmu seorang santri dibutuhkan oleh masyarakat.

5.Kebiasaan ketika di pesantren dan apa yang kamu terima kala mondok, itulah yang membawa seumur hidupmu jadi bagian hidup yang akan selalu bersanding dalam langkahmu.

Kalau kita masih masih mempunyai kebiasaan buruk dan masih mentah menelan Ilmu bersiap-siaplah menemui kehidupan bermasyarakat yang berbagai lapis. Dan hal yang terpenting adalah buat diri sendiri.

6.Ambisi soal pekerjaan yang mungkin jadi belenggu seorang santri, Ketakutan soal ladang pekerjaan mungkin cukup ngebuat cenderung mengalami keresahan bagi sebagian santri.

Inilah yang memang Kendala atau hambatan. Itu semua adalah tantangan. Paradigma semacam ini membentuk sikap yang berbeda. Kalau kita menganggap masalah sebagai hambatan, kita cenderung akan berusaha menghilangkannya. Tapi kalau anggapan kita adalah tantangan, maka kita akan berupaya menghadapinya.”

6 Hal Yang Dapat Jadi Inspirasi Ketika Nyantri Sebelum Memutuskan Keluar/Boyong

6 Hal Yang Dapat Jadi Inspirasi Ketika Mondok Sebelum Memutuskan Keluar/Boyong
Foto:IG Ala Santri
Masuk ke Pesantren adalah sebuah komitmen seseorang ataupun dilatar belakangi oleh kemauan orang tua yang sangat menginginkan anaknya mondok. Orang yang memutuskan masuk kepesantren adalah orang-orang yang berani berkomitmen demi kebahagian jangka panjang dalam menuju kehidupan yang hakiki dan juga tentunya semua demi memperjuangkan Agama.

Menjalani kehidupan jadi seorang santri itu memang tak mudah, selain saat di pesantren selalu ada cobaan terberat yang selalu hadir menemani setiap langkah dalam menuntut ilmu serta nantinya setelah keluar dari pesantren (boyong) seorang santri juga di tuntut menjadi PAKU, yang bisa menyatukan berbagi lapis masyarakat meski dia sendiri tak terlihat (Kata Inspirasi KH Abdul Aziz Manshur).

Tetapi terkadang juga sangat disayangkan jika ada anak pesantren memutuskan untuk keluar dari pondok pesantren (boyongan) sebelum lulus dan benar-benar menguasai banyak Ilmu. Adapun juga santri yang akhirnya menyerah ditengah jalan, lalu hal ini dapat menyebabkan ia menjadi boyong (Bahasa Pesantren Keluar Pondok). Banyak faktor dan alasan kenapa anak keluar pondok dengan tiba-tiba.

Bukan maksud mengolok-olok anak pesantren yang gak betah sebentar mondok atau tidak sampai lulus dan menguasai ilmu, karena santriyai.com pun juga begitu. Namun untuk melepas kepenatan pribadi sendiri maka dari situlah admin menulis artikel ini, yang barangkali menjadi sebuah inspirasi seorang santri yang mondok.

1.Sebetulnya mesantren lama ataupun sebentar adalah hak preogatif setiap masing-masing individu. Menuntut Ilmu di Pesantren itu emang harus didasari kemantapan/keyakinan hati untuk sebuah kemanfaatan diri sendiri serta tak lain untuk kemanfaatan keluarga juga masyarakat.

Namun kadang kita juga pernah mendengar dan juga perlu kita renungkan jika ada orang yang sebentar mondok tapi jago membaca kitab kosongan (GANDUL). Namun juga perlu di ketahui semacam itu hanya orang-orang tertentu saja dan biasanya orang yang sudah bernasab Kiai. Setiap orang bisa menguasai/mendapatkan Ilmu itu dengan berbagai cara yang berbeda dalam setiap langkah yang dijalaninya.

2.Masuk Pesantren bukan hanya sekedar hasil mendapatkan ilmu, namun soal bisa atau tidak itu urusan belakangan yang terpenting adalah mengaji dan mengaji saat di Pondok, nggak usah mikir ini itu. Karena Kamu tidak akan bisa mengubah apa yang kamu inginkan melainkan atas izin Tuhan.

Jangan pernah berfikir saat di Pesantren bisa buat kamu jadi anak orang yang paham Ilmu Agama seperti apa yang kamu harapkan. Karena itu malah bisa membuat merasa kecewa atas ekspetasimu yang berlebihan. Daripada berusaha mengubah setiap harapanmu mending berusaha untuk istiqomah belajar, tirakat dan menurut apa yang Kiaimu sarankan.

3.Latar belakang keluarga tentu menjadi salah satu yang bisa mempengaruhi seorang santri menjalani hidup di Pesantren jadi kurang full time/konsisten serta pasti terasa sulit karena mungkin keluarga cenderung ingin kamu cepet pulang karena berbagai hal sebab.

Orang tua/keluarga adalah hal yang utama bagi setiap orang merasa sedikit membuat bimbang saat kamu nyantri. Kalau keluarga nggak pernah mendorong atau memberikan hal apa kamu butuhkan ketika mondok tentu hal ini semakin terasa berat dan sulit. Namun, kata wejangan dari Guru santriyai.com yang pernah saya peroleh,

Tidak ada jalan mundur,” ujar Kiai, “Seperti halnya Khalid bin Walid yang membakar kapal-kapal tentara kaum muslimin saat ekspansi ke Eropa. Sehingga mereka tak lagi bisa mundur, takada pilihan lain selain maju bertempur. Maka begitulah semestinya pemuda, kalian-kalian ini, perjalanan masih panjang. Jangan sampai patah semangat!Dalam hidup tidak ada jalan mundur.”

4.Tentu banyak masyarakat kampung halamanmu kala mendengar anak yang mondok itu selalu dikaitkan dengan sosok orang generasi tokoh kampung dan hal ini juga tentu menjadi salah satu bagaimana kamu mempunyai cara agar tetap bisa bertahan di Pesantren sebelum akhirnya sesal menghampiri karena belum bisa menguasai.

Hal ini bisa jadi masalah di masa yang akan datang saat di kampung halamanmu, terlebih kamu membawa nama santri serta Pondok Pesantren yang kamu tinggali itu. Di saat kamu pulang sudah tak kembali lagi ke Pondok seiring berjalannya waktu tentu Ilmu seorang santri dibutuhkan oleh masyarakat.

5.Kebiasaan ketika di pesantren dan apa yang kamu terima kala mondok, itulah yang membawa seumur hidupmu jadi bagian hidup yang akan selalu bersanding dalam langkahmu.

Kalau kita masih masih mempunyai kebiasaan buruk dan masih mentah menelan Ilmu bersiap-siaplah menemui kehidupan bermasyarakat yang berbagai lapis. Dan hal yang terpenting adalah buat diri sendiri.

6.Ambisi soal pekerjaan yang mungkin jadi belenggu seorang santri, Ketakutan soal ladang pekerjaan mungkin cukup ngebuat cenderung mengalami keresahan bagi sebagian santri.

Inilah yang memang Kendala atau hambatan. Itu semua adalah tantangan. Paradigma semacam ini membentuk sikap yang berbeda. Kalau kita menganggap masalah sebagai hambatan, kita cenderung akan berusaha menghilangkannya. Tapi kalau anggapan kita adalah tantangan, maka kita akan berupaya menghadapinya.”
Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random