Foto:AlaNu

Pagi itu, ba'da Subuh, mobil yang ditumpangi seorang kiai berangkat dari ndalem, meluncur menuju kesuatu daerah. Di dalam mobil hanya ada tiga orang; kiai, seorang sopir, dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun nderekke kiainya.


Saat meluncur di jalan, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, "Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang tak sempat makan malam." Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit tiba-tiba dhawuh, "Gini ini yang enak cari sarapan dulu, ya?"

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon, Inggih Kiai. Saya Nderek."

"Nderek? Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju nggak?" tanya beliau.

"Nggih kiai, saya sangat setuju, "jawab si penderek.

"Ya begitu. Orang hidup itu harus jujur diri. Yang konsekuen. Jangan omong 'ya nderek Kiai' seolah benar-benar pasrah, padahal dalam hatinya sangat berharap. Duh gayanya saja pasrah. Jangan begitu. Ya sudah. Kita nanti sarapan di rumah makan langganan biasanya itu."lanjut beliau.

Mendengar dhawuh itu, si penderek semakin merasa lapar dan ingin rasanya segera sampai di warung makan. Dalam hati si penderek ingin sekali menikmati rasanya sarapan rawon. Saking pinginnya, seolah rasa rawon itu sudah di ujung lidahnya.

Beliau kemudian berkata, seolah hanya mengajak bercanda, "Tapi, kalau saya perhatikan, seringkali, menu yang kamu pilih itu sama dengan yang saya pilih. Sekarang begini. Kita bikin perjanjian. Kali ini, kamu tidak boleh milih menu yang sama dengan pilihan saya. Bagaimana, setuju?"

"Wah, Kiai ini serius?" pikir si penderek. Tapi gak masalah. Sebab sering kali di warung langganan itu, beliau memilih gulai. Memang gulainya itu yang disukai Kiai. Sedangkan sekarang, yang ia idamkan rawon.

"Nggih, Kiai. Saya tidak akan memilih menu yang sama dengan pilihan Kiai, "sahutnya.

Sampailah mobil di depan rumah makan. Seseuai janjinya, Kiai minta sopir agar berhenti untuk sarapan di warung langganan. Warung yang sederhana itu rupanya baru saja dibuka. Ibu si penjual kelihatan masih merapikan tatanan lauk dan kerupuk. Melihat Kiai datang, ibu itu tersenyum, langsung menyambut sambil mempersilahkan,

"Silahkan Kiai, pesan makan apa?"

Tanpa babibu, Kiai menjawab, Rawon!"

Duar! Kaget betul si penderek. Pesanan idamannya sudahdi pesan Kiai. Tak seperti yang dia bayangkan. Dia hanya bisa melongo, campur antara kaget dan bingung..

"Kalau masnya mau sarapan apa?"tanya si ibu.

Mungkin karena bingung, si penderek tidak segera jawab. Kiai menegurnya,

"Kita ini sedang ditunggu. Ayo kamu makan apa?"

Si penderek dengan agak ngawur dan terkesan asal jawab akhirnya menyebut, "Pe.. Pecel."

Tak, lama seporsi nasi rawon dihaturkan ke hadapan Kiai. Panasnya nasi Rawon itu masih mengepul asap. Herannya, Kiai Kiai tidak langsung mendaharnya. Beliau biarkan saja rawon itu di hadapannya. Tapi aroma kepulan asap rawon itu benar-benar menggiurkan selera si penderek.

"Monggo Kiai, dhahar duluan. Mumpung masih panas, "Kata si penderek mempersilahkan. Tapi dibalik itu, barangkali dia pingin segera menepis aroma rawon yang memasuki penciumannya itu. Tapi Kiai dhawuh,

'Nggaklah kita toleran. Nanti mulainya bareng,"

Beberapa saat kemudian, keluarlah seporsi nasi pecel. Maka mulailah makan bersama. Dalam menu pecel itu, sayurnya kelihatan masih segar. Bumbu pecelnya juga enak. Lauk yang menyertai bervariasi. Ada abon daging. Juga telur mata sapi serta tempe goreng yang tebal tampak baru saja diangkat dari penggorengan.

Setelah dua-tiga kali sendokan, dalam hati si penderek yang semula tidak begitu berhasrat terhadap pecel, akhirnya muncul pikiran, "Enak juga yaa pecel ini, "ia pun mulai lahap menikmatinya.

Tapi tiba-tiba Kiai menarik piring pecel, bersamaan dengan menyodorkan rawonnya ke hadapan penderek, sambil dhawuh, "Tukar. Supaya sama-sama merasakan."

Si penderek heran tak habis pikir, "Kiai ini bagaimana. Saya sudah memupus pingin saya pada rawon, dan sudah melupakannya, dan kini baru saja merasa nikmat dengan pecel itu, kok malah ditarik, ditukar dengan rawon yang saya sudah gak ingin lagi, "benaknya.

Setelah naik mobil, dalam perjalanan Kiai dhawuh,

" Orang menjalani hidup itu, jangan terpaku pada harapan, keinginan, target. Jangan. Silahkan kau bercita-cita, tapi jangan terpaku. Jangan kemudian menutup diri, jangan emoh terhadap selain cita citamu itu. Kenapa? Karena kalau kau hanya terpaku pada harapanmu, maka selamanya kau tak akan pernah meraskan kebahagian. Sebab yang namanya orang bahagia itu adalah orang yang lahir batinnya selalu siap menerima dan menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya. Bahagia bukanlah terwujudnya harapan. Bukan. Itu tipuan nafsu. Itu semu dan sementara. Coba kau buktikan, ikuti kemauanmu, tak lama kok kamu akan bosan dan merasa sudah tidak bahagia lagi, padahal yang kamu mau itu masih ada di genggaman tanganmu."


Santri Nderek Kiai, Rangkuman Pengajian KH. Maimun Zubair ( Buku Oase Jiwa 2)

Loading...
Foto:AlaNu

Pagi itu, ba'da Subuh, mobil yang ditumpangi seorang kiai berangkat dari ndalem, meluncur menuju kesuatu daerah. Di dalam mobil hanya ada tiga orang; kiai, seorang sopir, dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun nderekke kiainya.


Saat meluncur di jalan, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, "Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang tak sempat makan malam." Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit tiba-tiba dhawuh, "Gini ini yang enak cari sarapan dulu, ya?"

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon, Inggih Kiai. Saya Nderek."

"Nderek? Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju nggak?" tanya beliau.

"Nggih kiai, saya sangat setuju, "jawab si penderek.

"Ya begitu. Orang hidup itu harus jujur diri. Yang konsekuen. Jangan omong 'ya nderek Kiai' seolah benar-benar pasrah, padahal dalam hatinya sangat berharap. Duh gayanya saja pasrah. Jangan begitu. Ya sudah. Kita nanti sarapan di rumah makan langganan biasanya itu."lanjut beliau.

Mendengar dhawuh itu, si penderek semakin merasa lapar dan ingin rasanya segera sampai di warung makan. Dalam hati si penderek ingin sekali menikmati rasanya sarapan rawon. Saking pinginnya, seolah rasa rawon itu sudah di ujung lidahnya.

Beliau kemudian berkata, seolah hanya mengajak bercanda, "Tapi, kalau saya perhatikan, seringkali, menu yang kamu pilih itu sama dengan yang saya pilih. Sekarang begini. Kita bikin perjanjian. Kali ini, kamu tidak boleh milih menu yang sama dengan pilihan saya. Bagaimana, setuju?"

"Wah, Kiai ini serius?" pikir si penderek. Tapi gak masalah. Sebab sering kali di warung langganan itu, beliau memilih gulai. Memang gulainya itu yang disukai Kiai. Sedangkan sekarang, yang ia idamkan rawon.

"Nggih, Kiai. Saya tidak akan memilih menu yang sama dengan pilihan Kiai, "sahutnya.

Sampailah mobil di depan rumah makan. Seseuai janjinya, Kiai minta sopir agar berhenti untuk sarapan di warung langganan. Warung yang sederhana itu rupanya baru saja dibuka. Ibu si penjual kelihatan masih merapikan tatanan lauk dan kerupuk. Melihat Kiai datang, ibu itu tersenyum, langsung menyambut sambil mempersilahkan,

"Silahkan Kiai, pesan makan apa?"

Tanpa babibu, Kiai menjawab, Rawon!"

Duar! Kaget betul si penderek. Pesanan idamannya sudahdi pesan Kiai. Tak seperti yang dia bayangkan. Dia hanya bisa melongo, campur antara kaget dan bingung..

"Kalau masnya mau sarapan apa?"tanya si ibu.

Mungkin karena bingung, si penderek tidak segera jawab. Kiai menegurnya,

"Kita ini sedang ditunggu. Ayo kamu makan apa?"

Si penderek dengan agak ngawur dan terkesan asal jawab akhirnya menyebut, "Pe.. Pecel."

Tak, lama seporsi nasi rawon dihaturkan ke hadapan Kiai. Panasnya nasi Rawon itu masih mengepul asap. Herannya, Kiai Kiai tidak langsung mendaharnya. Beliau biarkan saja rawon itu di hadapannya. Tapi aroma kepulan asap rawon itu benar-benar menggiurkan selera si penderek.

"Monggo Kiai, dhahar duluan. Mumpung masih panas, "Kata si penderek mempersilahkan. Tapi dibalik itu, barangkali dia pingin segera menepis aroma rawon yang memasuki penciumannya itu. Tapi Kiai dhawuh,

'Nggaklah kita toleran. Nanti mulainya bareng,"

Beberapa saat kemudian, keluarlah seporsi nasi pecel. Maka mulailah makan bersama. Dalam menu pecel itu, sayurnya kelihatan masih segar. Bumbu pecelnya juga enak. Lauk yang menyertai bervariasi. Ada abon daging. Juga telur mata sapi serta tempe goreng yang tebal tampak baru saja diangkat dari penggorengan.

Setelah dua-tiga kali sendokan, dalam hati si penderek yang semula tidak begitu berhasrat terhadap pecel, akhirnya muncul pikiran, "Enak juga yaa pecel ini, "ia pun mulai lahap menikmatinya.

Tapi tiba-tiba Kiai menarik piring pecel, bersamaan dengan menyodorkan rawonnya ke hadapan penderek, sambil dhawuh, "Tukar. Supaya sama-sama merasakan."

Si penderek heran tak habis pikir, "Kiai ini bagaimana. Saya sudah memupus pingin saya pada rawon, dan sudah melupakannya, dan kini baru saja merasa nikmat dengan pecel itu, kok malah ditarik, ditukar dengan rawon yang saya sudah gak ingin lagi, "benaknya.

Setelah naik mobil, dalam perjalanan Kiai dhawuh,

" Orang menjalani hidup itu, jangan terpaku pada harapan, keinginan, target. Jangan. Silahkan kau bercita-cita, tapi jangan terpaku. Jangan kemudian menutup diri, jangan emoh terhadap selain cita citamu itu. Kenapa? Karena kalau kau hanya terpaku pada harapanmu, maka selamanya kau tak akan pernah meraskan kebahagian. Sebab yang namanya orang bahagia itu adalah orang yang lahir batinnya selalu siap menerima dan menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya. Bahagia bukanlah terwujudnya harapan. Bukan. Itu tipuan nafsu. Itu semu dan sementara. Coba kau buktikan, ikuti kemauanmu, tak lama kok kamu akan bosan dan merasa sudah tidak bahagia lagi, padahal yang kamu mau itu masih ada di genggaman tanganmu."


Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random