Berdasarkan pengalaman mondok secara pribadi maupun para mantan-mantan alumni Pondok Pesantren, kehidupan di lingkungan Pesantren memang dapat di akui sebagai pengalaman yang paling berharga. Mungkin bagi sebagian orang akan menyesal apabaila tidak pernah jadi santri. Karena yang pernah menjadi santri pun juga merasakan penyesalan, banyak beberapa faktor penyebab yang dialami saat menuntut Ilmu di Pesantren setelah pulang/boyong merasakan kekecewaan/penyesalan yang menjadi cerita sedih santri.

1. Tidak Menulis/Memaknai Kitab Dengan Penuh

Tidak rajin dalam menulis atau memaknai kitab kitab kuning Ketika mondok hal ini pasti akan menjadi penyesalan nantinya setelah tidak mondok. seperti halnya, menulis ulang (mencatat) materi dan pelajaran merupakan suatu hal yang dianjurkan didalam Pondok Pesantren. Tetapi, terkadang rasa malas untuk mencatat ulang materi yang diajarkan tiba-tiba menyergap.

Padahal, yang harus kita sadari adalah tiap otak manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap suatu informasi. Apalagi jika informasi yang kita dapatkan tersebut adalah suatu yang sangat asing sebelumnya.

Oleh karena itu, perlu dilakukan hal tambahan yang nantinya bisa membantu informasi dan pelajaran tersebut bisa tetap menempel di dalam ingatan kita.

2. Tidak Membaca

Setiap santri tidak hanya mendapatkan materi pelajaran yang diberikan oleh para guru/ustadz, tetapi juga diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi materi-materi lainnya di buku, e-book, maupun di situs-situs online.

Ya, hal kedua yang saya sesali adalah tidak membaca. Dalam artian masih banyak waktu yang saya sia-siakan padahal bisa digunakan untuk membaca dan mencari materi tambahan.

Padahal, bisa saja dengan mencari dan membaca materi-materi tambahan kita akan mendapatkan insight baru yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan optimasi atau inspirasi untuk bisnis yang akan kita geluti.

Jadi, selama menjadi santri jangan hanya pasif menunggu materi pelajaran yang diberikan oleh para guru, tetapi jadilah aktif dengan cara mencari dan membaca materi pelajaran dari sumber-sumber yang lain.

3. Tidak Bertanya

Di akhir setiap pemberian materi pasti selalu ada sesi tanya jawab. Alhamdulillah, pada beberapa pertemuan saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk bertanya tersebut.

Entah menanyakan materi yang memang benar-benar tidak saya pahami, sampai menanyakan hal-hal ringan sekadar untuk mencairkan suasana. 🙂

Tetapi, bukan itu yang saya sesali. Yang saya sesali adalah tidak memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan, yaitu bisa berinteraksi langsung dengan guru-guru terbaik di bidangnya.

Ada Mas Vatih dengan ilmu internet marketing-nya. Mas Said dengan ilmu bisnis online-nya. Mas Umar dan Mas Hammad dengan ilmu agamanya. Juga Mas Into dan Mas Juki dengan ilmu SEO-nya.

Padahal, selama rentang waktu satu tahun dan privilage sebagai seorang santri Sintesa seharusnya saya bisa memaksimalkan kesempatan untuk bertanya hal-hal baru yang belum saya mengerti. Mumpung bertemu dengan para ahlinya langsung.

Oleh karena itu, untuk para santri angkatan selanjutnya jangan sampai melewatkan kesempatan ini. Karena ketika kita sudah lulus dari Sintesa kemungkinan untuk berinteraksi langsung dengan guru-guru di sini pun pasti akan mengecil. :’)

4. Pulang, sebelum khatam

5. Tak Ada Perubahan

Dikutip dari sintesa.net


5 Faktor Utama Yang Biasanya Jadi Penyesalan Santri Saat Di Pesantren Setelah Pulang

Loading...

Berdasarkan pengalaman mondok secara pribadi maupun para mantan-mantan alumni Pondok Pesantren, kehidupan di lingkungan Pesantren memang dapat di akui sebagai pengalaman yang paling berharga. Mungkin bagi sebagian orang akan menyesal apabaila tidak pernah jadi santri. Karena yang pernah menjadi santri pun juga merasakan penyesalan, banyak beberapa faktor penyebab yang dialami saat menuntut Ilmu di Pesantren setelah pulang/boyong merasakan kekecewaan/penyesalan yang menjadi cerita sedih santri.

1. Tidak Menulis/Memaknai Kitab Dengan Penuh

Tidak rajin dalam menulis atau memaknai kitab kitab kuning Ketika mondok hal ini pasti akan menjadi penyesalan nantinya setelah tidak mondok. seperti halnya, menulis ulang (mencatat) materi dan pelajaran merupakan suatu hal yang dianjurkan didalam Pondok Pesantren. Tetapi, terkadang rasa malas untuk mencatat ulang materi yang diajarkan tiba-tiba menyergap.

Padahal, yang harus kita sadari adalah tiap otak manusia memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyerap suatu informasi. Apalagi jika informasi yang kita dapatkan tersebut adalah suatu yang sangat asing sebelumnya.

Oleh karena itu, perlu dilakukan hal tambahan yang nantinya bisa membantu informasi dan pelajaran tersebut bisa tetap menempel di dalam ingatan kita.

2. Tidak Membaca

Setiap santri tidak hanya mendapatkan materi pelajaran yang diberikan oleh para guru/ustadz, tetapi juga diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi materi-materi lainnya di buku, e-book, maupun di situs-situs online.

Ya, hal kedua yang saya sesali adalah tidak membaca. Dalam artian masih banyak waktu yang saya sia-siakan padahal bisa digunakan untuk membaca dan mencari materi tambahan.

Padahal, bisa saja dengan mencari dan membaca materi-materi tambahan kita akan mendapatkan insight baru yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan optimasi atau inspirasi untuk bisnis yang akan kita geluti.

Jadi, selama menjadi santri jangan hanya pasif menunggu materi pelajaran yang diberikan oleh para guru, tetapi jadilah aktif dengan cara mencari dan membaca materi pelajaran dari sumber-sumber yang lain.

3. Tidak Bertanya

Di akhir setiap pemberian materi pasti selalu ada sesi tanya jawab. Alhamdulillah, pada beberapa pertemuan saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk bertanya tersebut.

Entah menanyakan materi yang memang benar-benar tidak saya pahami, sampai menanyakan hal-hal ringan sekadar untuk mencairkan suasana. 🙂

Tetapi, bukan itu yang saya sesali. Yang saya sesali adalah tidak memanfaatkan kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan, yaitu bisa berinteraksi langsung dengan guru-guru terbaik di bidangnya.

Ada Mas Vatih dengan ilmu internet marketing-nya. Mas Said dengan ilmu bisnis online-nya. Mas Umar dan Mas Hammad dengan ilmu agamanya. Juga Mas Into dan Mas Juki dengan ilmu SEO-nya.

Padahal, selama rentang waktu satu tahun dan privilage sebagai seorang santri Sintesa seharusnya saya bisa memaksimalkan kesempatan untuk bertanya hal-hal baru yang belum saya mengerti. Mumpung bertemu dengan para ahlinya langsung.

Oleh karena itu, untuk para santri angkatan selanjutnya jangan sampai melewatkan kesempatan ini. Karena ketika kita sudah lulus dari Sintesa kemungkinan untuk berinteraksi langsung dengan guru-guru di sini pun pasti akan mengecil. :’)

4. Pulang, sebelum khatam

5. Tak Ada Perubahan

Dikutip dari sintesa.net


Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random