Orang tua memondokkan anak di Pesantren pasti tak lepas dengan sebuah tujuan dan harapan yang sangat mulia, demi cita-cita masa depan anaknya kelak. Terlebih mengingat masa-masa di dunia ini semakin tua, banyak pengaruh global negatif yang secara cepat bisa menyerang siapa saja. Maka dari itu sebagai orang tua memilih Pondok Pesantren sebagai prioritas utama dalam pendidikan anak. Tujuan Mondok di pesantren juga adalah sebagai investasi akhirat orang tua. 

Maka dari itu orang tua pastinya terus berusaha memiliki cara agar anak mau masuk pesantren, mulai dari kata-kata untuk mengajak, kata-kata pesan ketika nanti anaknya di Pondok, intinya adalah berusaha supaya anak mau mondok.


Berikut tujuan orang tua memondokkan anak dan harapan-harapannya sebagai orang tua ketika anak Nyantri.

Harapan
1. Harapan terpenting pertama kali orang tua adalah betah/kerasan mondok

Pondok Pesantren adalah sebuah lembga pendidikan yang bersifat 24 jam  penuh keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar tanpa dampingan sosok orang tua, sangat lumrah jika wali santri berharap anak bisa kerasan dan betah berada di lingkungan pondok. umumnya dalam satu angkatan, ada saja santri yang tidak kerasan atau pindah ke sekolah umum karena berbagai alasan.

2. Berharap anak rajin belajar dan sehat selalu

seperti umumnya orang tua yang anaknya sekolah, ini merupakan harapan standar orang tua. Supaya anak rajin belajar dan kondisi selalu sehat ketika berada di pondok pesantren. utamanya dalam bidang kesehatan karena lokasi anak berada di pesantren yang tidak langsung berada dalam pantauan orang tua.

3. Anak menjadi soleh solihah ketika berada di pesantren

Salah satu motivasi orang tua atau anak menjatuhkan pilihan pendidikan asrama atau boarding school yaitu pendidikan agama. arah pendidikan agama tentunya menjadi orang yang soleh berakhlak mulia.

pada kasus tertentu, ada wali yang memondokkan sang anak karena sudah angkat tangan karena kenakalannya. Dengan berada di pesantren maka diharapkan sang anak berubah sifat buruk menjadi anak yang baik. (bagi saya kalau pesantrennya bukan khusus untuk rehabilitasi atau konsentrasi anak badung, maka seperti memasukkan tembaga dan pada saat keluar berubah menjadi emas).

4. Harapan anak bisa adaptasi dengan teman dan lingkungan pontren

Ada beberapa orang tua yang khawatir anaknya di bully di pondok pesantren. Bisa jadi karena anak tersebut pendiam, zaman sekolah SD sering jadi bahan bulian atau sang anak selalu mengalah maupun anak memiliki hal untuk di bully (tidak cakep, kulit gelap, bongsor dll).

adaptasi santri di lingkungan pesantren dan teman

kondisi ini menjadikan orang tua mengharapkan si anak bisa segera memiliki teman baik yang baik serta segera beradaptasi dengan irama pendidikan dan kegiatan pada pesantren.

5. Harapan sang anak cocok dengan menu makan pondok pesantren

Seringnya pondok pesantren memiliki fasilitas dapur umum untuk santri. dimana dapur ini sekaligus sebagai lokasi ruang untuk makan, baik sarapan, makan siang ataupun malam.

Dengan jumlah santri yang mencapai ratusan bahkan ribuan, maka masakan yang dibuat tentunya akan memiliki rasa yang berbeda jika dibandingkan dengan buatan ibu dirumah.

bisa jadi awalnya sang anak akan sedikit tidak cocok makan, lambat laun seringnya anak akan bisa beradaptasi dengan menu makan yang ada.

Lain lagi dengan kasus santri yang mengidap alergi makanan tertentu semisal daging ayam, ikan ataupun kacang kacangan. tentunya akan semakin ketar ketir orang tua dalam mengharap sang anak bisa cocok dengan menu makan yang ada.

6. Anak anak terawasi secara baik oleh pihak pondok pesantren

Tidak dipungkiri bahwasanya orang yang berumur antara 35-55 tahun merupakan saat efektif bekerja. Apesnya (atau untungnya?) pada umur kisaran tersebut merupakan hal umum saat anak beranjak remaja dan dewasa. Disaat anak beranjak remaja dan dewasa sering diperlukan pendampingan dan bimbingan dari orang lain. Akan tetapi karena aktivitas ekonomi dan pekerjaan yang menguras waktu menjadikan kerepotan sendiri bagi orang tua untuk mendampingi dan mengawasi perilaku sang anak.

Nah disini keuntungan orang tua jika anak disekolahkan pada pondok pesantren. Mereka bisa lebih tenang terhadap anak karena buah hati berada di pesantren dengan pengawasan yang relatif lebih baik daripada jika berada dirumah.

Tujuan setelah anak lulus dari pondok pesantren

Setelah disampaikan beberapa hal yang sering diharapkan oleh orang tua untuk anaknya yang sedang berada di pesantren, berikut beberapa hal yang umumnya menjadi harapan orang tua bagi anak setelah lulus dari pondok pesantren

1. Menjadi anak yang taat dan patuh kepada orang tua

Walaupun anak kaya raya dan memiliki kedudukan yang tinggi dan pangkat yang mentereng, akan tiada menyenangkan jika tidak patuh dan taat kepada orang tua. Sehingga ini merupakan harapan umum orang tua termasuk bagi wali santri pondok pesantren selepas sang anak lulus dari pendidikan di ponpes.

2. Bisa meneruskan perjuangan dalam bidang keagamaan minimal di kampungnya

Ada beberapa orang tua yang memasukkan sang anak ke dalam pondok karena berharap nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan dalam bidang dakwah agama. Semisal mengurusi yayasan, masjid atau tokoh masyarakat dimana dia berdomisili. Hak ini dilakukan karena pada beberapa kasus, adakalanya suatu daerah memiliki kecenderungan kekurangan figur agamis untuk menjadi inspirasi dan penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.

3. Menjadi suri tauladan dan berakahlak mulia

Salah satu hal menarik saat ini adalah usaha keras dari berbagai pihak untuk menyelamatkan akhlak anak bangsa. Salah satu tujuannya yaitu agar individu bisa menjadi suri tauladan yang baik atau uswatun hasanah.

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga yang mengedepankan pendidikan ahlak bagi para anak didik. Sehingga wajar jika orang tua berharap sang anak menjadi suri tauladan di kemudian hari selepas lulus dari pondok pesantren.

4. Meneruskan ke perguruan tinggi favorit

Melanjutkan studi pendidikan ke universitas atau perguruan tinggi s1 merupakan hal yang lumrah bagi alumni pondok pesantren. Hal ini karena umumnya santri memiliki ijazah formal semisal SMA atau Madrasah Aliyah, maupun ijazah non formal yang diakui oleh negara seperti Ijazah Paket C maupun Muadalah. Dengan berbekal ijazah SLTA atau sederajat otomatis bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang s1 sesuai dengan keinginan dan hasil seleksi dari kampus dimaksud.

Akan menjadi kesenangan tersendiri bagi orang tua dan anak jika bisa masuk ke universitas terkenal, favorit dan irit biaya. Karena dengan banyaknya pelajaran di pesantren akan tetapi tetap bisa menembus persaingan Perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta Favorit.

5. Mempunyai pekerjaaan yang mapan dan terhormat

Di era yang cenderung materialistis, pada saat ini kehormatan seseorang cenderung diukur dengan banyaknya harta dan tingginya pangkat serta pengaruh seseorang. Guna di dengarkan suara oleh masyarakat maka tentunya seorang santri seyogyanya memiliki posisi yang bagus secara pekerjaan maupun pangkat. Dengan begitu mengikuti era dan kebutuhan zaman, tentunya orang tua berharap sang anak bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan dan terpandang di kalangan masyarakat.

6. Makmur secara ekonomi

Kemakmuran ekonomi akan mempermudah seseorang untuk beraktivitas saat ini. Termasuk didalamnya adalah melaksanakan rukun Islam yang ke-5. Dengan biaya pendaftaran Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta) maka seseorang yang tidak makmur secara ekonomi akan sulit untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini (walaupun pada kasus tertentu ada juga kejadian dimana orang yang pas pasan bisa berhaji dengan berbagai cara dan kisah yang menarik).

Inilah 12 Tujuan Orang Tua Memondokkan Anak Juga Harapannya Ketika Sudah Di Pesantren


Orang tua memondokkan anak di Pesantren pasti tak lepas dengan sebuah tujuan dan harapan yang sangat mulia, demi cita-cita masa depan anaknya kelak. Terlebih mengingat masa-masa di dunia ini semakin tua, banyak pengaruh global negatif yang secara cepat bisa menyerang siapa saja. Maka dari itu sebagai orang tua memilih Pondok Pesantren sebagai prioritas utama dalam pendidikan anak. Tujuan Mondok di pesantren juga adalah sebagai investasi akhirat orang tua. 

Maka dari itu orang tua pastinya terus berusaha memiliki cara agar anak mau masuk pesantren, mulai dari kata-kata untuk mengajak, kata-kata pesan ketika nanti anaknya di Pondok, intinya adalah berusaha supaya anak mau mondok.


Berikut tujuan orang tua memondokkan anak dan harapan-harapannya sebagai orang tua ketika anak Nyantri.

Harapan
1. Harapan terpenting pertama kali orang tua adalah betah/kerasan mondok

Pondok Pesantren adalah sebuah lembga pendidikan yang bersifat 24 jam  penuh keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar tanpa dampingan sosok orang tua, sangat lumrah jika wali santri berharap anak bisa kerasan dan betah berada di lingkungan pondok. umumnya dalam satu angkatan, ada saja santri yang tidak kerasan atau pindah ke sekolah umum karena berbagai alasan.

2. Berharap anak rajin belajar dan sehat selalu

seperti umumnya orang tua yang anaknya sekolah, ini merupakan harapan standar orang tua. Supaya anak rajin belajar dan kondisi selalu sehat ketika berada di pondok pesantren. utamanya dalam bidang kesehatan karena lokasi anak berada di pesantren yang tidak langsung berada dalam pantauan orang tua.

3. Anak menjadi soleh solihah ketika berada di pesantren

Salah satu motivasi orang tua atau anak menjatuhkan pilihan pendidikan asrama atau boarding school yaitu pendidikan agama. arah pendidikan agama tentunya menjadi orang yang soleh berakhlak mulia.

pada kasus tertentu, ada wali yang memondokkan sang anak karena sudah angkat tangan karena kenakalannya. Dengan berada di pesantren maka diharapkan sang anak berubah sifat buruk menjadi anak yang baik. (bagi saya kalau pesantrennya bukan khusus untuk rehabilitasi atau konsentrasi anak badung, maka seperti memasukkan tembaga dan pada saat keluar berubah menjadi emas).

4. Harapan anak bisa adaptasi dengan teman dan lingkungan pontren

Ada beberapa orang tua yang khawatir anaknya di bully di pondok pesantren. Bisa jadi karena anak tersebut pendiam, zaman sekolah SD sering jadi bahan bulian atau sang anak selalu mengalah maupun anak memiliki hal untuk di bully (tidak cakep, kulit gelap, bongsor dll).

adaptasi santri di lingkungan pesantren dan teman

kondisi ini menjadikan orang tua mengharapkan si anak bisa segera memiliki teman baik yang baik serta segera beradaptasi dengan irama pendidikan dan kegiatan pada pesantren.

5. Harapan sang anak cocok dengan menu makan pondok pesantren

Seringnya pondok pesantren memiliki fasilitas dapur umum untuk santri. dimana dapur ini sekaligus sebagai lokasi ruang untuk makan, baik sarapan, makan siang ataupun malam.

Dengan jumlah santri yang mencapai ratusan bahkan ribuan, maka masakan yang dibuat tentunya akan memiliki rasa yang berbeda jika dibandingkan dengan buatan ibu dirumah.

bisa jadi awalnya sang anak akan sedikit tidak cocok makan, lambat laun seringnya anak akan bisa beradaptasi dengan menu makan yang ada.

Lain lagi dengan kasus santri yang mengidap alergi makanan tertentu semisal daging ayam, ikan ataupun kacang kacangan. tentunya akan semakin ketar ketir orang tua dalam mengharap sang anak bisa cocok dengan menu makan yang ada.

6. Anak anak terawasi secara baik oleh pihak pondok pesantren

Tidak dipungkiri bahwasanya orang yang berumur antara 35-55 tahun merupakan saat efektif bekerja. Apesnya (atau untungnya?) pada umur kisaran tersebut merupakan hal umum saat anak beranjak remaja dan dewasa. Disaat anak beranjak remaja dan dewasa sering diperlukan pendampingan dan bimbingan dari orang lain. Akan tetapi karena aktivitas ekonomi dan pekerjaan yang menguras waktu menjadikan kerepotan sendiri bagi orang tua untuk mendampingi dan mengawasi perilaku sang anak.

Nah disini keuntungan orang tua jika anak disekolahkan pada pondok pesantren. Mereka bisa lebih tenang terhadap anak karena buah hati berada di pesantren dengan pengawasan yang relatif lebih baik daripada jika berada dirumah.

Tujuan setelah anak lulus dari pondok pesantren

Setelah disampaikan beberapa hal yang sering diharapkan oleh orang tua untuk anaknya yang sedang berada di pesantren, berikut beberapa hal yang umumnya menjadi harapan orang tua bagi anak setelah lulus dari pondok pesantren

1. Menjadi anak yang taat dan patuh kepada orang tua

Walaupun anak kaya raya dan memiliki kedudukan yang tinggi dan pangkat yang mentereng, akan tiada menyenangkan jika tidak patuh dan taat kepada orang tua. Sehingga ini merupakan harapan umum orang tua termasuk bagi wali santri pondok pesantren selepas sang anak lulus dari pendidikan di ponpes.

2. Bisa meneruskan perjuangan dalam bidang keagamaan minimal di kampungnya

Ada beberapa orang tua yang memasukkan sang anak ke dalam pondok karena berharap nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan dalam bidang dakwah agama. Semisal mengurusi yayasan, masjid atau tokoh masyarakat dimana dia berdomisili. Hak ini dilakukan karena pada beberapa kasus, adakalanya suatu daerah memiliki kecenderungan kekurangan figur agamis untuk menjadi inspirasi dan penggerak kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat.

3. Menjadi suri tauladan dan berakahlak mulia

Salah satu hal menarik saat ini adalah usaha keras dari berbagai pihak untuk menyelamatkan akhlak anak bangsa. Salah satu tujuannya yaitu agar individu bisa menjadi suri tauladan yang baik atau uswatun hasanah.

Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga yang mengedepankan pendidikan ahlak bagi para anak didik. Sehingga wajar jika orang tua berharap sang anak menjadi suri tauladan di kemudian hari selepas lulus dari pondok pesantren.

4. Meneruskan ke perguruan tinggi favorit

Melanjutkan studi pendidikan ke universitas atau perguruan tinggi s1 merupakan hal yang lumrah bagi alumni pondok pesantren. Hal ini karena umumnya santri memiliki ijazah formal semisal SMA atau Madrasah Aliyah, maupun ijazah non formal yang diakui oleh negara seperti Ijazah Paket C maupun Muadalah. Dengan berbekal ijazah SLTA atau sederajat otomatis bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang s1 sesuai dengan keinginan dan hasil seleksi dari kampus dimaksud.

Akan menjadi kesenangan tersendiri bagi orang tua dan anak jika bisa masuk ke universitas terkenal, favorit dan irit biaya. Karena dengan banyaknya pelajaran di pesantren akan tetapi tetap bisa menembus persaingan Perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta Favorit.

5. Mempunyai pekerjaaan yang mapan dan terhormat

Di era yang cenderung materialistis, pada saat ini kehormatan seseorang cenderung diukur dengan banyaknya harta dan tingginya pangkat serta pengaruh seseorang. Guna di dengarkan suara oleh masyarakat maka tentunya seorang santri seyogyanya memiliki posisi yang bagus secara pekerjaan maupun pangkat. Dengan begitu mengikuti era dan kebutuhan zaman, tentunya orang tua berharap sang anak bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan dan terpandang di kalangan masyarakat.

6. Makmur secara ekonomi

Kemakmuran ekonomi akan mempermudah seseorang untuk beraktivitas saat ini. Termasuk didalamnya adalah melaksanakan rukun Islam yang ke-5. Dengan biaya pendaftaran Rp. 25.000.000,- (dua puluh lima juta) maka seseorang yang tidak makmur secara ekonomi akan sulit untuk melaksanakan rukun Islam kelima ini (walaupun pada kasus tertentu ada juga kejadian dimana orang yang pas pasan bisa berhaji dengan berbagai cara dan kisah yang menarik).

Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random