Sebuah berita serta kisah cerita yang mungkin dapat menginspirasi para anak Pondok Pesantren dari salah satu santri Tebuireng, dia adalah sosok seorang santriwati yang mempunyai nama Shofroul Lailiyah dan lahir di Pasuruan pada tanggal 1 Desember 1997. Sosok anak muda mempunyai jadwal kegiatan yang berlapis-lapis ini, biasa di panggil dengan panggilan Lia. Dengan jadwalnya yang padat dikehidupan sehari-harinya Lia mampu menjalankan 3 usaha bisnis yang cukup dibilang sukses dan menjanjikan.

Salah satu mahasiswa Unhasy yang mengambil prodi pendidikan IPA di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng. Ia aktif sebagai bendahara di HMP Pendidikan IPA sekaligus menjadi santriwati di Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir. Seorang santri juga anak kuliahan/mahasiswa bisa dikatakan seorang santri yang dapat bisa menginspirasi anak-anak muda khususnya dalam lingkungan pesantren/untuk para santri.

Nah,lalu apa saja bisnis yang dilakukan seorang santriwati bernama lia ini ? Semangatnya yang selalu berkobar, membuatnya selalu suka untuk mencoba hal baru. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Seperti dalam wawancara dibawah ini yang penuh inspirasi. Berikut adalah wawancara wartawati Tebuireng Online kapada Shofroul Lailiyah.

Pertama yang menjadi prioritas adalah avail. Avail adalah salah satu produk pembalut yang sehat. Waktu itu saya bersama HMP pendidikan IPA menyelenggarakan seminar yang menjelaskan tentang avail khususnya pada produktivitas dan manfaat avail untuk kesehatan sebagai pembalut.

Kedua saya usaha di bidang fashion yaitu kerudung, ini hanya sekedar menjadi distributor terus saya jual ke teman-teman juga ke pondok-pondok lain. Ada juga hansock serta ikat rajut yang kini marak dicari para wanita muslimah.

Yang ketiga, ini tidak terlalu prioritas namanya photosquare adalah salah satu prodak di mana isinya seperti gabungan foto-foto yang ada di balok yang bisa diputar, jadi bentuknya kubus dan juga balok mirip seperti mainan. Bisa juga disebut rubrik foto sebagai tempat dijadikannya moment-moment tertentu yang sangat berkesan bagi si pemilik foto.

Kemudian apa motivasi Lia dalam menjalankan ketiga bisnis itu secara bersamaan ?


Nabung buat menikah (sambi tertawa). Motivasi saya sehubungan dengan banyaknya tuntutan yang terjadi dari perkembangan ilmu teknologi dan zaman, kita kan harus melatih kreatifitas. Berbisnis itu tidak sekedar mencari uang, tetapi dari berbisnis kita juga belajar untuk berani. Berani mengambil resiko, berani untuk berkreatifitas. Kalau kita punya sebuah tuntutan contohnya teman-teman sudah berniat berbisnis kemudian sudah punya tuntutan akhirnya mencoba untuk melakukan sesuatu. Karena apa? Kreatifitas lahir dari adanya tuntutan dan keterpaksaan. Jadi kita dilatih untuk berani.

Kemudian bagaimana cara Lia dalam mengatur waktu dalam berbisnis, kuliah serta mengaji di pondok pesantren. Padahal peraturan pondok sendiri tidak memperbolehkan santrinya membawa alat komunikasi ke dalam pondok ?

Sebenarnya sederhana saja, kalau saya pribadi kuliah sendiri biasanya pagi dimulai sekitar jam delapan, keluar dari pondok itu fokus saya kuliah dan belajar. Dan saat waktu senggang serta sedang tak ada tugas kuliah, saya seringkali menyicil untuk membuat photosquare, salah satu bisnis yang mengandalkan kreatifitas kerajinan tangan dan membutuhkan fokus. Setelah itu dipasarkan melalui sosial media sepertihalnya instagram bisa follow ig saya @lia_shofroul.

Kemudian saya juga menjual produk avail ke pondok saya dulu yang berada di daerah Ngoro. Untuk avail ini saya bekerjasama dengan saudara di Ngoro untuk memasarkannya. Jadi saya tidak hanya bekerja seorang diri. Saya kesana sekitar dua bulan sekali atau sebulan tiga kali atau tergantung nanti produktivitas yang ada di Unhasy. Kalau sekiranya banyak mungkin sebulan bisa sekali dua kali. Kalau tidak terlalu banyak tugas bisa sampai tiga kali. Selain itu saya juga memasarkannya di pondok saya sendiri serta melayani pesanan siap antar.

Kemudian saya punya bisnis kerudung. Saya biasanya sebulan sekali mengambil di produsennya. Kemudian saya menjadi distributor di sini. Caranya hampir sama seperti yang sudah saya katakan tadi. Yang terakhir bisnis photosquare. Itu tergantung pemesanan. Kalau saya sedang benar-benar sibuk, maka pemesanan akan dibatasi, mungkin hanya dua atau tiga. Dan sebaliknya saat sedang senggang saya dapat menerima pesanan 6 sampai 7 buah bisa selesai dalam waktu seminggu.

Awal bisnis photosquare sendiri dari mata kuliah Kewirausahaan 3 yang berujung pada photosquare ini. Semua itu saya lakukan mulai dari pagi sampai datangnya Maghrib. Karena sebelum Maghrib tiba saya akan masuk ke pondok. Ketika masuk ke pondok saya harus fokus dengan mengaji. Namun di pondok juga ada waktu untuk istirahat dari segala aktifitas mengaji. Saya seringkali memanfaatkan waktu tersebut untuk berjualan ke teman-teman di pondok.


Lalu apa saja kendala dalam menjalani ketiga bisnis tersebut secara bersamaan ?


Kendalanya jika terhitung dari menjalankan tiga bisnis yang pasti capai, lelah. Karena hanya bekerja dengan teman-teman terdekat satu dua orang juga dengan saudara saya di Ngoro, itu pun jauh. Tetapi hitung-hitung juga sekalian utuk berolahraga. Yang kedua yaitu kebingungan saat memutar dana itu kembali, karena jika tidak telaten dapat tercampur satu dengan yang lainnya. Terutama saat sedang banyak-banyaknya tugas sehingga terkadang uang itu tercampur jadi saya harus me-review kembali mengatur rotasi dana. Kendala di pondok kadang capai dan lupa. Kemudian saya juga harus pandai-pandai mengatur pemesanan avail yang mana wajib dipakai seorang wanita sebulan sekali, lalu dalam bisnis kerudung saya harus selalu bisa menangkap model terbaru karena kerudung itu fashionable.

Adakah tips untuk sesama mahasiswa ataupun santri terkait bisnis yang dijalani, karena jarang sekali ada mahasiswa yang dapat menjalani ketiga bisnis tersebut?

Saya pribadi tergantung kebutuhan, sebelum menekuni ketiga bisnis tersebut, saya sempat mengajar les di Sumoyono. Sebenernya itu niat saya untuk melatih diri, karena saya pribadi dari prodi pendidikan IPA. Melatih diri bagaimana cara mengajar, namun rasanya kok hidup ini monoton, kuliah pulang, kuliah pulang, organisasi hanya itu-itu saja. Karena saya dibagian bendahara jadi terus ngitung uang. Lalu ketika mengajar di LBB itu ada tantangan mengajar anak-anak kecil dan mulai dari itu ada tugas Kewirausahaan 1, 2, dan 3. Dari itu, saya diajak untuk berkreatifitas. Akhirnya saya punya ide ini, ide itu. Semua tantangan tersebut membuat adrenalin saya tertantang. Kemudian ada satu pesan dari seseorang yang selalu saya ingat, “Jangan lupakan shalatmu, jangan menunda-nunda shalatmu. Karena apa? Kalau kamu menunda-nunda sholatmu, maka jangan salahkan Allah yang akan menunda segala urusanmu.”

Pewawancara : Umdah dari tebuirengonlain

Baca Juga: 7 Cara Menghasilkan Uang Saat Dipondok Tanpa MengganguKegiatan Mengaji

3 Inspirasi Ide Bisnis Dari Seorang Santriwati Tebuireng.Kisah Anak Kuliahan Yang Juga Santri Menjalankan Bisnis


Sebuah berita serta kisah cerita yang mungkin dapat menginspirasi para anak Pondok Pesantren dari salah satu santri Tebuireng, dia adalah sosok seorang santriwati yang mempunyai nama Shofroul Lailiyah dan lahir di Pasuruan pada tanggal 1 Desember 1997. Sosok anak muda mempunyai jadwal kegiatan yang berlapis-lapis ini, biasa di panggil dengan panggilan Lia. Dengan jadwalnya yang padat dikehidupan sehari-harinya Lia mampu menjalankan 3 usaha bisnis yang cukup dibilang sukses dan menjanjikan.

Salah satu mahasiswa Unhasy yang mengambil prodi pendidikan IPA di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng. Ia aktif sebagai bendahara di HMP Pendidikan IPA sekaligus menjadi santriwati di Pondok Pesantren Putri Walisongo Cukir. Seorang santri juga anak kuliahan/mahasiswa bisa dikatakan seorang santri yang dapat bisa menginspirasi anak-anak muda khususnya dalam lingkungan pesantren/untuk para santri.

Nah,lalu apa saja bisnis yang dilakukan seorang santriwati bernama lia ini ? Semangatnya yang selalu berkobar, membuatnya selalu suka untuk mencoba hal baru. Sesuatu yang membuatnya penasaran. Seperti dalam wawancara dibawah ini yang penuh inspirasi. Berikut adalah wawancara wartawati Tebuireng Online kapada Shofroul Lailiyah.

Pertama yang menjadi prioritas adalah avail. Avail adalah salah satu produk pembalut yang sehat. Waktu itu saya bersama HMP pendidikan IPA menyelenggarakan seminar yang menjelaskan tentang avail khususnya pada produktivitas dan manfaat avail untuk kesehatan sebagai pembalut.

Kedua saya usaha di bidang fashion yaitu kerudung, ini hanya sekedar menjadi distributor terus saya jual ke teman-teman juga ke pondok-pondok lain. Ada juga hansock serta ikat rajut yang kini marak dicari para wanita muslimah.

Yang ketiga, ini tidak terlalu prioritas namanya photosquare adalah salah satu prodak di mana isinya seperti gabungan foto-foto yang ada di balok yang bisa diputar, jadi bentuknya kubus dan juga balok mirip seperti mainan. Bisa juga disebut rubrik foto sebagai tempat dijadikannya moment-moment tertentu yang sangat berkesan bagi si pemilik foto.

Kemudian apa motivasi Lia dalam menjalankan ketiga bisnis itu secara bersamaan ?


Nabung buat menikah (sambi tertawa). Motivasi saya sehubungan dengan banyaknya tuntutan yang terjadi dari perkembangan ilmu teknologi dan zaman, kita kan harus melatih kreatifitas. Berbisnis itu tidak sekedar mencari uang, tetapi dari berbisnis kita juga belajar untuk berani. Berani mengambil resiko, berani untuk berkreatifitas. Kalau kita punya sebuah tuntutan contohnya teman-teman sudah berniat berbisnis kemudian sudah punya tuntutan akhirnya mencoba untuk melakukan sesuatu. Karena apa? Kreatifitas lahir dari adanya tuntutan dan keterpaksaan. Jadi kita dilatih untuk berani.

Kemudian bagaimana cara Lia dalam mengatur waktu dalam berbisnis, kuliah serta mengaji di pondok pesantren. Padahal peraturan pondok sendiri tidak memperbolehkan santrinya membawa alat komunikasi ke dalam pondok ?

Sebenarnya sederhana saja, kalau saya pribadi kuliah sendiri biasanya pagi dimulai sekitar jam delapan, keluar dari pondok itu fokus saya kuliah dan belajar. Dan saat waktu senggang serta sedang tak ada tugas kuliah, saya seringkali menyicil untuk membuat photosquare, salah satu bisnis yang mengandalkan kreatifitas kerajinan tangan dan membutuhkan fokus. Setelah itu dipasarkan melalui sosial media sepertihalnya instagram bisa follow ig saya @lia_shofroul.

Kemudian saya juga menjual produk avail ke pondok saya dulu yang berada di daerah Ngoro. Untuk avail ini saya bekerjasama dengan saudara di Ngoro untuk memasarkannya. Jadi saya tidak hanya bekerja seorang diri. Saya kesana sekitar dua bulan sekali atau sebulan tiga kali atau tergantung nanti produktivitas yang ada di Unhasy. Kalau sekiranya banyak mungkin sebulan bisa sekali dua kali. Kalau tidak terlalu banyak tugas bisa sampai tiga kali. Selain itu saya juga memasarkannya di pondok saya sendiri serta melayani pesanan siap antar.

Kemudian saya punya bisnis kerudung. Saya biasanya sebulan sekali mengambil di produsennya. Kemudian saya menjadi distributor di sini. Caranya hampir sama seperti yang sudah saya katakan tadi. Yang terakhir bisnis photosquare. Itu tergantung pemesanan. Kalau saya sedang benar-benar sibuk, maka pemesanan akan dibatasi, mungkin hanya dua atau tiga. Dan sebaliknya saat sedang senggang saya dapat menerima pesanan 6 sampai 7 buah bisa selesai dalam waktu seminggu.

Awal bisnis photosquare sendiri dari mata kuliah Kewirausahaan 3 yang berujung pada photosquare ini. Semua itu saya lakukan mulai dari pagi sampai datangnya Maghrib. Karena sebelum Maghrib tiba saya akan masuk ke pondok. Ketika masuk ke pondok saya harus fokus dengan mengaji. Namun di pondok juga ada waktu untuk istirahat dari segala aktifitas mengaji. Saya seringkali memanfaatkan waktu tersebut untuk berjualan ke teman-teman di pondok.


Lalu apa saja kendala dalam menjalani ketiga bisnis tersebut secara bersamaan ?


Kendalanya jika terhitung dari menjalankan tiga bisnis yang pasti capai, lelah. Karena hanya bekerja dengan teman-teman terdekat satu dua orang juga dengan saudara saya di Ngoro, itu pun jauh. Tetapi hitung-hitung juga sekalian utuk berolahraga. Yang kedua yaitu kebingungan saat memutar dana itu kembali, karena jika tidak telaten dapat tercampur satu dengan yang lainnya. Terutama saat sedang banyak-banyaknya tugas sehingga terkadang uang itu tercampur jadi saya harus me-review kembali mengatur rotasi dana. Kendala di pondok kadang capai dan lupa. Kemudian saya juga harus pandai-pandai mengatur pemesanan avail yang mana wajib dipakai seorang wanita sebulan sekali, lalu dalam bisnis kerudung saya harus selalu bisa menangkap model terbaru karena kerudung itu fashionable.

Adakah tips untuk sesama mahasiswa ataupun santri terkait bisnis yang dijalani, karena jarang sekali ada mahasiswa yang dapat menjalani ketiga bisnis tersebut?

Saya pribadi tergantung kebutuhan, sebelum menekuni ketiga bisnis tersebut, saya sempat mengajar les di Sumoyono. Sebenernya itu niat saya untuk melatih diri, karena saya pribadi dari prodi pendidikan IPA. Melatih diri bagaimana cara mengajar, namun rasanya kok hidup ini monoton, kuliah pulang, kuliah pulang, organisasi hanya itu-itu saja. Karena saya dibagian bendahara jadi terus ngitung uang. Lalu ketika mengajar di LBB itu ada tantangan mengajar anak-anak kecil dan mulai dari itu ada tugas Kewirausahaan 1, 2, dan 3. Dari itu, saya diajak untuk berkreatifitas. Akhirnya saya punya ide ini, ide itu. Semua tantangan tersebut membuat adrenalin saya tertantang. Kemudian ada satu pesan dari seseorang yang selalu saya ingat, “Jangan lupakan shalatmu, jangan menunda-nunda shalatmu. Karena apa? Kalau kamu menunda-nunda sholatmu, maka jangan salahkan Allah yang akan menunda segala urusanmu.”

Pewawancara : Umdah dari tebuirengonlain

Baca Juga: 7 Cara Menghasilkan Uang Saat Dipondok Tanpa MengganguKegiatan Mengaji

Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random