Top 6 Emerging Trends in Medical Devices 1. Internet-of-things: According to MarketResearch.com, the healthcare IoT market is slated to be at $117 billion by 2020. As a disruptive technology, IoT facilitates real time capture of data through smart sensors and wearable devices, exchanges the captured information on Cloud and with BI/Analytical tools, analyzes the information streams much rapidly than conventional means. The massive use of embedded systems is ushering in a "connect everywhere - every time" culture along with parallel trends of home and industrial automation, and smart cities where GPS functionalities are weaved into every movement. The consequences are numerous: from remote monitoring to ATM-like machines which can dispense drugs after a check-up from providers thousands of miles away. 2. Increasing Use of BI and Analytics: Healthcare BI and analytics, a market projected to cross US$18.7 Billion by 2020, is undergoing a silent transformation as there is greater demand for tools and solutions which can plug the missing gap in visualizing real business challenges and solutions through existing healthcare data. According to a PwC survey, it was found that over 95% of CEOs in healthcare companies are looking for ways to harness data in a better way. Medical devices of tomorrow will be rendered incomplete if they cannot use historical data for predictive analysis and other data for solving existing challenges faced by providers. Tableau has risen to the fore as a very intuitive tool to visualize randomized data to see for patterns and anomalies. 3. Mobility: Increasing smartphone usage and dependence is fostering a condition where physicians and patients would require access to information on their mobile devices and tablets - the key focus is engagement. Many medical supply stores are focusing on delivering mobile healthcare solutions and apps which will continue to become more creative in future. In the long run, mobile devices in association with telemedicine, will facilitate complex operation procedures and medicine dispensing, allowing care providers to look after their patients from remote locations. The dispensation of 24-hour emergency care would become easier. 4. Increasing focus on security and surveillance: Considering the huge number of web-connected and Cloud-connected devices, secured access to data points would become a challenge in future. Medical devices should be equipped with affordable chips and sensors with ability to read biometric information, for instance, features which would allow greater security in access. 5. 3D printing: 3D printing technologies are increasingly becoming mainstream and even affordable. They have immense scope in medical devices industry as they can be used for everything from preclinical testing to new lab innovation (reducing verification time), improvised training and for sales demo. 6. Emergence of Multipurpose medical devices: Increasingly, medical devices will be expected to play multiple roles. For example, ambulance care units will have access to gadgets that combine defibrillators with suction kits, blood pressure cuff and pulse oximeters in one inflatable unit which can save time and space for administering emergency care. From a consumer point of view, the increasing availability of latest trends as discussed above would translate into less frequent visits to the doctor, transferring the responsibility of effective healthcare directly to patients (although this, by no means, would mean patients should not access their providers directly). Article Source: https://EzineArticles.com/expert/Loren_V_Vargas/2231850 Article Source: http://EzineArticles.com/9336750

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menyebutkan sejarah dari kata gus dalam bahasa Jawa memiliki makna sebagai nama julukan atau nama panggilan kepadaanak laki-laki. Namun, kata tersebut dalam konteks pesantren Jawa mengalami penyempitan makna.

Arti kata gus digunakan untuk panggilan pada anak-anak kiai. Menurut pengamatan saya, kata gus untuk panggilan terhadap anak kiai pada awalnya digunakan hanya di sekitar Jawa Timur saja. Di Jawa Tengah, anak kiai biasa dipanggil dengan mas. Sementara itu, di Jawa Barat anak kiai biasa dipanggil dengan sebutan kang.

Namun, saat ini, pembedaan seperti itu sudah terdistorsi dengan hadirnya kata gus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Biasanya, istilah gus itu hanya digunakan di pesantren salaf (bukan salafi).

Ketika nyantri, saya mendengarkan banyak cerita terkait gus yang nakal paada waktu kecilnya. Ada gus yang kecilnya suka tawuran, suka malakin orang, enggak mau ngaji, dan lain sebagainya.

Namun demikian, para gus yang sukses di masa dewasanya juga tidak sedikit, tentu sifat nakal para gus tersebut dipengaruhi banyak hal. Paling tidak, ini 5 penyebab kemungkinan Gus nakal di waktu kecil.Berikut ulasannya:

1. Gus Kecil Selalu Merasa Paling Hebat

Panggilan gus terhadap anak kiai yang masih kecil rupanya membawa dampak psikologis yang cukup signifikan. Ia bagaikan putra mahkota yang berhak mengatur orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga, perasaan paling hebat sendiri itu tidak dapat dipungkiri. Namun demikian, tidak sedikit juga gus kecil yang sopan dengan santri atau masyarakat sekitar.

2. Dihormati Secara Berlebihan

Gus sering kali dianggap sebagai putra mahkota oleh para santri dan masyarakat sekitar pesantren. Tentu, hal ini membuat prestise seorang gus di mata para santri dan masyarakat sekitar terangkat oleh pamor dan karismatik bapaknya.

Sehingga, tidak jarang, para gus dihormati secara berlebihan. Terlebih lagi, doktrin ilmu tidak manfaat dan berkah selalu menghantui para santri yang berani melawan gus. Oleh karena itu, hormatilah para gus secara proporsional.

3. Tidak Ada yang Berani Mengkritik

Mengkritik gus merupakan fenomena yang tabu dan tidak semua santri berani melakukannya. Sekalipun gus tersebut keliru dalam melakukan suatu hal. Hal ini diperparah, misalnya, dengan ancaman-anacaman yang dilontarkan dari mulut gus tersebut. Sehingga, gus cenderung bebas kritik. Wajar saja, ia merasa sebagai firaun kecil yang bebas melakukan apa pun yang diinginkannya.

4. Bergaul Bukan dengan Sepantarannya

Kemungkinan penyebab Gus-gus  menjadi nakal waktu kecil karena bebas bergaul dengan siapa pun yang mereka mau. Bahkan, tidak jarang gus kecil yang merokok karena bergaul dengan santri-santri yang usianya jauh di atas gus tersebut. Namun, hal tersebut dianggap biasa oleh para santri. Parahnya lagi, santri senior tidak berani melarang gus tersebut.

5. Kurang Kontrol

Kiai merupakan tokoh masyarakat yang bertugas mengayomi masyarakat dan santri yang dititipkan kepadanya. Aktivitas sehari-harinya pun, tidak terlepas dari kegiatan mengajar di pesantren tempatnya.

Kesibukan tersebut membuat para kiai atau nyai tidak mempunyai waktu cukup untuk memikirkan anaknya sendiri. Hal tersebut membuat anak-anak kiai cenderung lepas kontrol dari orangtua dan mengakibatkan mereka bengal.

Inilah beberapa faktor mengapa gus-gus kecil itu nakal. Namun, saya saksikan sendiri beberapa gus-gus kecil yang nakal tersebut saat ini telah sukses, baik dalam masalah duniawi maupun ilmu.

Saya berasumsi bahwa kesuksesan gus tersebut di masa depan dikarenakan dua hal. Pertama, doa dan amal saleh orangtuanya. Kedua, usaha gus itu sendiri yang berani merubah sifat kerajaannya di masa kecil, sehingga menjadi budak ilmu yang berupaya keras mendapatkannya secara maksimal, juga terkait tanggung jawab di depan mata yang ada di pundaknya karena orangtuanya meninggalkan pesantren dan santri yang harus diurus secara maksimal.

Mengenal Kata Gus Putra Kiai Dan 5 Penyebab Gus Waktu Kecil Nakal


Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menyebutkan sejarah dari kata gus dalam bahasa Jawa memiliki makna sebagai nama julukan atau nama panggilan kepadaanak laki-laki. Namun, kata tersebut dalam konteks pesantren Jawa mengalami penyempitan makna.

Arti kata gus digunakan untuk panggilan pada anak-anak kiai. Menurut pengamatan saya, kata gus untuk panggilan terhadap anak kiai pada awalnya digunakan hanya di sekitar Jawa Timur saja. Di Jawa Tengah, anak kiai biasa dipanggil dengan mas. Sementara itu, di Jawa Barat anak kiai biasa dipanggil dengan sebutan kang.

Namun, saat ini, pembedaan seperti itu sudah terdistorsi dengan hadirnya kata gus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Biasanya, istilah gus itu hanya digunakan di pesantren salaf (bukan salafi).

Ketika nyantri, saya mendengarkan banyak cerita terkait gus yang nakal paada waktu kecilnya. Ada gus yang kecilnya suka tawuran, suka malakin orang, enggak mau ngaji, dan lain sebagainya.

Namun demikian, para gus yang sukses di masa dewasanya juga tidak sedikit, tentu sifat nakal para gus tersebut dipengaruhi banyak hal. Paling tidak, ini 5 penyebab kemungkinan Gus nakal di waktu kecil.Berikut ulasannya:

1. Gus Kecil Selalu Merasa Paling Hebat

Panggilan gus terhadap anak kiai yang masih kecil rupanya membawa dampak psikologis yang cukup signifikan. Ia bagaikan putra mahkota yang berhak mengatur orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga, perasaan paling hebat sendiri itu tidak dapat dipungkiri. Namun demikian, tidak sedikit juga gus kecil yang sopan dengan santri atau masyarakat sekitar.

2. Dihormati Secara Berlebihan

Gus sering kali dianggap sebagai putra mahkota oleh para santri dan masyarakat sekitar pesantren. Tentu, hal ini membuat prestise seorang gus di mata para santri dan masyarakat sekitar terangkat oleh pamor dan karismatik bapaknya.

Sehingga, tidak jarang, para gus dihormati secara berlebihan. Terlebih lagi, doktrin ilmu tidak manfaat dan berkah selalu menghantui para santri yang berani melawan gus. Oleh karena itu, hormatilah para gus secara proporsional.

3. Tidak Ada yang Berani Mengkritik

Mengkritik gus merupakan fenomena yang tabu dan tidak semua santri berani melakukannya. Sekalipun gus tersebut keliru dalam melakukan suatu hal. Hal ini diperparah, misalnya, dengan ancaman-anacaman yang dilontarkan dari mulut gus tersebut. Sehingga, gus cenderung bebas kritik. Wajar saja, ia merasa sebagai firaun kecil yang bebas melakukan apa pun yang diinginkannya.

4. Bergaul Bukan dengan Sepantarannya

Kemungkinan penyebab Gus-gus  menjadi nakal waktu kecil karena bebas bergaul dengan siapa pun yang mereka mau. Bahkan, tidak jarang gus kecil yang merokok karena bergaul dengan santri-santri yang usianya jauh di atas gus tersebut. Namun, hal tersebut dianggap biasa oleh para santri. Parahnya lagi, santri senior tidak berani melarang gus tersebut.

5. Kurang Kontrol

Kiai merupakan tokoh masyarakat yang bertugas mengayomi masyarakat dan santri yang dititipkan kepadanya. Aktivitas sehari-harinya pun, tidak terlepas dari kegiatan mengajar di pesantren tempatnya.

Kesibukan tersebut membuat para kiai atau nyai tidak mempunyai waktu cukup untuk memikirkan anaknya sendiri. Hal tersebut membuat anak-anak kiai cenderung lepas kontrol dari orangtua dan mengakibatkan mereka bengal.

Inilah beberapa faktor mengapa gus-gus kecil itu nakal. Namun, saya saksikan sendiri beberapa gus-gus kecil yang nakal tersebut saat ini telah sukses, baik dalam masalah duniawi maupun ilmu.

Saya berasumsi bahwa kesuksesan gus tersebut di masa depan dikarenakan dua hal. Pertama, doa dan amal saleh orangtuanya. Kedua, usaha gus itu sendiri yang berani merubah sifat kerajaannya di masa kecil, sehingga menjadi budak ilmu yang berupaya keras mendapatkannya secara maksimal, juga terkait tanggung jawab di depan mata yang ada di pundaknya karena orangtuanya meninggalkan pesantren dan santri yang harus diurus secara maksimal.
Baca Juga

No comments: