Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menyebutkan sejarah dari kata gus dalam bahasa Jawa memiliki makna sebagai nama julukan atau nama panggilan kepadaanak laki-laki. Namun, kata tersebut dalam konteks pesantren Jawa mengalami penyempitan makna.

Arti kata gus digunakan untuk panggilan pada anak-anak kiai. Menurut pengamatan saya, kata gus untuk panggilan terhadap anak kiai pada awalnya digunakan hanya di sekitar Jawa Timur saja. Di Jawa Tengah, anak kiai biasa dipanggil dengan mas. Sementara itu, di Jawa Barat anak kiai biasa dipanggil dengan sebutan kang.

Namun, saat ini, pembedaan seperti itu sudah terdistorsi dengan hadirnya kata gus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Biasanya, istilah gus itu hanya digunakan di pesantren salaf (bukan salafi).

Ketika nyantri, saya mendengarkan banyak cerita terkait gus yang nakal paada waktu kecilnya. Ada gus yang kecilnya suka tawuran, suka malakin orang, enggak mau ngaji, dan lain sebagainya.

Namun demikian, para gus yang sukses di masa dewasanya juga tidak sedikit, tentu sifat nakal para gus tersebut dipengaruhi banyak hal. Paling tidak, ini 5 penyebab kemungkinan Gus nakal di waktu kecil.Berikut ulasannya:

1. Gus Kecil Selalu Merasa Paling Hebat

Panggilan gus terhadap anak kiai yang masih kecil rupanya membawa dampak psikologis yang cukup signifikan. Ia bagaikan putra mahkota yang berhak mengatur orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga, perasaan paling hebat sendiri itu tidak dapat dipungkiri. Namun demikian, tidak sedikit juga gus kecil yang sopan dengan santri atau masyarakat sekitar.

2. Dihormati Secara Berlebihan

Gus sering kali dianggap sebagai putra mahkota oleh para santri dan masyarakat sekitar pesantren. Tentu, hal ini membuat prestise seorang gus di mata para santri dan masyarakat sekitar terangkat oleh pamor dan karismatik bapaknya.

Sehingga, tidak jarang, para gus dihormati secara berlebihan. Terlebih lagi, doktrin ilmu tidak manfaat dan berkah selalu menghantui para santri yang berani melawan gus. Oleh karena itu, hormatilah para gus secara proporsional.

3. Tidak Ada yang Berani Mengkritik

Mengkritik gus merupakan fenomena yang tabu dan tidak semua santri berani melakukannya. Sekalipun gus tersebut keliru dalam melakukan suatu hal. Hal ini diperparah, misalnya, dengan ancaman-anacaman yang dilontarkan dari mulut gus tersebut. Sehingga, gus cenderung bebas kritik. Wajar saja, ia merasa sebagai firaun kecil yang bebas melakukan apa pun yang diinginkannya.

4. Bergaul Bukan dengan Sepantarannya

Kemungkinan penyebab Gus-gus  menjadi nakal waktu kecil karena bebas bergaul dengan siapa pun yang mereka mau. Bahkan, tidak jarang gus kecil yang merokok karena bergaul dengan santri-santri yang usianya jauh di atas gus tersebut. Namun, hal tersebut dianggap biasa oleh para santri. Parahnya lagi, santri senior tidak berani melarang gus tersebut.

5. Kurang Kontrol

Kiai merupakan tokoh masyarakat yang bertugas mengayomi masyarakat dan santri yang dititipkan kepadanya. Aktivitas sehari-harinya pun, tidak terlepas dari kegiatan mengajar di pesantren tempatnya.

Kesibukan tersebut membuat para kiai atau nyai tidak mempunyai waktu cukup untuk memikirkan anaknya sendiri. Hal tersebut membuat anak-anak kiai cenderung lepas kontrol dari orangtua dan mengakibatkan mereka bengal.

Inilah beberapa faktor mengapa gus-gus kecil itu nakal. Namun, saya saksikan sendiri beberapa gus-gus kecil yang nakal tersebut saat ini telah sukses, baik dalam masalah duniawi maupun ilmu.

Saya berasumsi bahwa kesuksesan gus tersebut di masa depan dikarenakan dua hal. Pertama, doa dan amal saleh orangtuanya. Kedua, usaha gus itu sendiri yang berani merubah sifat kerajaannya di masa kecil, sehingga menjadi budak ilmu yang berupaya keras mendapatkannya secara maksimal, juga terkait tanggung jawab di depan mata yang ada di pundaknya karena orangtuanya meninggalkan pesantren dan santri yang harus diurus secara maksimal.

Mengenal Kata Gus Putra Kiai Dan 5 Penyebab Gus Waktu Kecil Nakal

Loading...

Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring menyebutkan sejarah dari kata gus dalam bahasa Jawa memiliki makna sebagai nama julukan atau nama panggilan kepadaanak laki-laki. Namun, kata tersebut dalam konteks pesantren Jawa mengalami penyempitan makna.

Arti kata gus digunakan untuk panggilan pada anak-anak kiai. Menurut pengamatan saya, kata gus untuk panggilan terhadap anak kiai pada awalnya digunakan hanya di sekitar Jawa Timur saja. Di Jawa Tengah, anak kiai biasa dipanggil dengan mas. Sementara itu, di Jawa Barat anak kiai biasa dipanggil dengan sebutan kang.

Namun, saat ini, pembedaan seperti itu sudah terdistorsi dengan hadirnya kata gus di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Biasanya, istilah gus itu hanya digunakan di pesantren salaf (bukan salafi).

Ketika nyantri, saya mendengarkan banyak cerita terkait gus yang nakal paada waktu kecilnya. Ada gus yang kecilnya suka tawuran, suka malakin orang, enggak mau ngaji, dan lain sebagainya.

Namun demikian, para gus yang sukses di masa dewasanya juga tidak sedikit, tentu sifat nakal para gus tersebut dipengaruhi banyak hal. Paling tidak, ini 5 penyebab kemungkinan Gus nakal di waktu kecil.Berikut ulasannya:

1. Gus Kecil Selalu Merasa Paling Hebat

Panggilan gus terhadap anak kiai yang masih kecil rupanya membawa dampak psikologis yang cukup signifikan. Ia bagaikan putra mahkota yang berhak mengatur orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sehingga, perasaan paling hebat sendiri itu tidak dapat dipungkiri. Namun demikian, tidak sedikit juga gus kecil yang sopan dengan santri atau masyarakat sekitar.

2. Dihormati Secara Berlebihan

Gus sering kali dianggap sebagai putra mahkota oleh para santri dan masyarakat sekitar pesantren. Tentu, hal ini membuat prestise seorang gus di mata para santri dan masyarakat sekitar terangkat oleh pamor dan karismatik bapaknya.

Sehingga, tidak jarang, para gus dihormati secara berlebihan. Terlebih lagi, doktrin ilmu tidak manfaat dan berkah selalu menghantui para santri yang berani melawan gus. Oleh karena itu, hormatilah para gus secara proporsional.

3. Tidak Ada yang Berani Mengkritik

Mengkritik gus merupakan fenomena yang tabu dan tidak semua santri berani melakukannya. Sekalipun gus tersebut keliru dalam melakukan suatu hal. Hal ini diperparah, misalnya, dengan ancaman-anacaman yang dilontarkan dari mulut gus tersebut. Sehingga, gus cenderung bebas kritik. Wajar saja, ia merasa sebagai firaun kecil yang bebas melakukan apa pun yang diinginkannya.

4. Bergaul Bukan dengan Sepantarannya

Kemungkinan penyebab Gus-gus  menjadi nakal waktu kecil karena bebas bergaul dengan siapa pun yang mereka mau. Bahkan, tidak jarang gus kecil yang merokok karena bergaul dengan santri-santri yang usianya jauh di atas gus tersebut. Namun, hal tersebut dianggap biasa oleh para santri. Parahnya lagi, santri senior tidak berani melarang gus tersebut.

5. Kurang Kontrol

Kiai merupakan tokoh masyarakat yang bertugas mengayomi masyarakat dan santri yang dititipkan kepadanya. Aktivitas sehari-harinya pun, tidak terlepas dari kegiatan mengajar di pesantren tempatnya.

Kesibukan tersebut membuat para kiai atau nyai tidak mempunyai waktu cukup untuk memikirkan anaknya sendiri. Hal tersebut membuat anak-anak kiai cenderung lepas kontrol dari orangtua dan mengakibatkan mereka bengal.

Inilah beberapa faktor mengapa gus-gus kecil itu nakal. Namun, saya saksikan sendiri beberapa gus-gus kecil yang nakal tersebut saat ini telah sukses, baik dalam masalah duniawi maupun ilmu.

Saya berasumsi bahwa kesuksesan gus tersebut di masa depan dikarenakan dua hal. Pertama, doa dan amal saleh orangtuanya. Kedua, usaha gus itu sendiri yang berani merubah sifat kerajaannya di masa kecil, sehingga menjadi budak ilmu yang berupaya keras mendapatkannya secara maksimal, juga terkait tanggung jawab di depan mata yang ada di pundaknya karena orangtuanya meninggalkan pesantren dan santri yang harus diurus secara maksimal.
Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random