5 Kelebihan Memaknai Kitab Kuning Dengan Makna Gandul Pegon

Pesantren salaf atau tradisonal dituntut mempelajari kitab kuning, istilah untuk kitab ulama salaf, dengan menggunakan makna gandulak atau juga disebut makna huruf pegon. Makna gandul adalah terjemah perkata yang ditulis di bawah baris-baris kalimat bahasa Arab yang tertera dalam kitab. Dalam memaknai kitab kuning Santri menggunakan huruf Huruf Arab Pegon Jawa.

Makna gandul itu bukan sekadar terjemah perkata, melainkan dilengkapi semacam rumus yang mengisyaratkan posisi kata yang dimaknai dalam ilmu tata bahasa Arab (nahwu).

Rumus huruf fa, misalnya, terletak di atas baris berfungsi menunjukkan posisi atau tarkib fail (subjek) bagi kata yang dimaknai. Dalam membaca pun, ada tata tertibnya. Makna yang harus disebut dulu, kode ataukah lafalnya.

Contoh kalimat ja`a zaidun, memaknainya ja’a ‘teko’, sopo zaidun ‘si zaid’. Kata sopo (siapa) itu adalah arti kode huruf fa di atas baris kata zaidun yang menunjukkan bahwa kata zaidun adalah fail atau subjek.

Secara umum, kebanyakan pesantren memaknai kitab kuning menggunakan huruf arab pegon bahasa Jawa, Sunda, atau Madura. Ketiga bahasa ini yang mendominasi makna-makna kitab ala pesantren. Menurut K.H. Said Aqil Siradj, makna gandul pego atau pegon ala pesantren ini diciptakan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan. Lalu apa sih kelebihan makna gandul ala pesantren salaf ini? Berikut 5 ulasannya:

1. Menguatkan dan Menjaga Tradisi Ilmu Nahwu
Dalam sebuah ungkapan dikatakankan “Nahwu adalah bapaknya ilmu, dan Sharaf adalah ibunya.” Ungkapan ini banyak tercantum dalam mukadimah kitab-kitab nahwu dan sharaf.

Nahwu sebagai ilmu gramatika Arab merupakan disiplin ilmu untuk mengetahui posisi setiap kata, yang mana dalam bahasa Arab hal ini berpengaruh pada harakat akhir setiap kata. Istilahnya i’rab. Sementara itu, sharaf merupakan ilmu yang meneliti perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk lain.

Dengan makna gandul ala pesantren, santri terlatih mengenal istilah-istilah pokok dalam nahwu dan memahami perubahan masing-masing kata ketika kata tersebut telah beralih dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

2. Menjaga Keindahan Makna
Dalam tradisi makna gandul, santri dibiasakan mengenal dan mengaplikasikan nahwu dan sharaf. Dari ketatnya pemaknaan ini lahirlah ketelitian memahami maksud setiap ungkapan dari kitab. Ketelitian inilah yang tak begitu saja ditemukan dalam kitab yang sudah berbentuk terjemah.

Sebuah kalimat bahasa Arab dalam terjemah bahasa Indonesianya bisa sama, tetapi kalau dalam bentuk orisinilnya bisa saja memiliki maksud berbeda. Karena setiap olah posisi dalam bahasa Arab mengandung tekanan arti tersendiri yang sulit diungkapkan dalam penerjemahan. Disinilah keindahan dan kedalaman makna bisa terjaga dan diresapi.

3. Mendidik Rapih dan Teliti
Kalau kita lihat cetakan kitab-kitab pesantren zaman dahulu, rata-rata gundul tanpa harakat, tanpa koma, dan paragraf. Paling hanya tanda titik saja yang mengakhiri penjelasan panjang. Kerapatan antar baris biasanya setara dengan ketikan spasi ganda atau malah kurang.

Santri diajari menyelipkan tulisan makna sedemikian rupa di antara spasi-spasi itu. Butuh ketekunan, pembiasaan serta waktu lama untuk mahir memaknai ala pesantren ini hingga menghasilkan tulisan yang rapi dan teliti. Bisa terbaca oleh orang lain adalah ukuran sukses dari penulisan makna gandul.

4. Melatih Konsentrasi dan Fisik
Pengajian kitab kuning di pesantren biasa disebut bandongan. Prosesnya, guru atau kiai membaca kitab dan santri menulis makna. Sesekali diselingi keterangan dan penjelasan dari guru. Panjang pendeknya uraian keterangan tergantung kelimuan guru dan situasi serta tuntutan khatam.

Oh ya, tuntutan khatam biasa jadi patokan kajian kitab di pesantren. Para kiai dan santri berharap berkah dengan mengaji kitab hingga tuntas. Kadang kalau sudah mendekati batas waktu khataman yang telah ditentukan, maka ritme baca kitab bisa semakin cepat. Ngebut.

Hal ini menuntut santri untuk lebih berkonsentrasi. Dibutuhkan keseimbangan maksimal antara telinga yang mendengar suara guru, mata yang mencari posisi tepat menulis makna, dan tangan yang harus lincah menulis.

5. Memahami Makna dengan Detail
Pemaknaan kitab ala pesantren menghasilkan pemahaman makna lebih detail dengan mengerti kedudukan masing-masing kata ditinjau dari ilmu Nahwu dan Sharaf, serta ilmu alat lain. Dalam pemaknaan kalimat-kalimat sastra, memerlukan andil ilmu Balaghah (bagian dari ilmu sastra Arab) dalam mengungkap keindahannya.

Meskipun terkadang para santri terkendala dalam proses penerjemahan makna, tetapi pada dasarnya mereka memahami arti dalam ungkapan yang disampaikan pengarang kitab dengan lebih mendalam.

Ketelitian ini melahirkan kehati-hatian dalam memahami setiap dalil agama. Disisi lain, santri yang telah mengerti betapa rumitnya ilmu tata bahasa Arab tidak akan begitu saja mengekor pada buku-buku terjemahan.

Bagi kaum santri, memahami keterangan dari kitab kuning sama halnya mengaji kepada ulama yang menulis kitab tersebut. Santri juga menyadari betapa sulitnya ijtihad langsung dari nas Alquran dan Hadis tanpa memperhatikan dan mengikuti keterangan para ulama. Sehingga mereka merasa geli ketika ada orang yang antitaklid mazhab ternyata hanya bermodal buku-buku terjemahan.

5 Kelebihan Memaknai Kitab Kuning Dengan Makna Gandul Pegon

Loading...
5 Kelebihan Memaknai Kitab Kuning Dengan Makna Gandul Pegon

Pesantren salaf atau tradisonal dituntut mempelajari kitab kuning, istilah untuk kitab ulama salaf, dengan menggunakan makna gandulak atau juga disebut makna huruf pegon. Makna gandul adalah terjemah perkata yang ditulis di bawah baris-baris kalimat bahasa Arab yang tertera dalam kitab. Dalam memaknai kitab kuning Santri menggunakan huruf Huruf Arab Pegon Jawa.

Makna gandul itu bukan sekadar terjemah perkata, melainkan dilengkapi semacam rumus yang mengisyaratkan posisi kata yang dimaknai dalam ilmu tata bahasa Arab (nahwu).

Rumus huruf fa, misalnya, terletak di atas baris berfungsi menunjukkan posisi atau tarkib fail (subjek) bagi kata yang dimaknai. Dalam membaca pun, ada tata tertibnya. Makna yang harus disebut dulu, kode ataukah lafalnya.

Contoh kalimat ja`a zaidun, memaknainya ja’a ‘teko’, sopo zaidun ‘si zaid’. Kata sopo (siapa) itu adalah arti kode huruf fa di atas baris kata zaidun yang menunjukkan bahwa kata zaidun adalah fail atau subjek.

Secara umum, kebanyakan pesantren memaknai kitab kuning menggunakan huruf arab pegon bahasa Jawa, Sunda, atau Madura. Ketiga bahasa ini yang mendominasi makna-makna kitab ala pesantren. Menurut K.H. Said Aqil Siradj, makna gandul pego atau pegon ala pesantren ini diciptakan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan. Lalu apa sih kelebihan makna gandul ala pesantren salaf ini? Berikut 5 ulasannya:

1. Menguatkan dan Menjaga Tradisi Ilmu Nahwu
Dalam sebuah ungkapan dikatakankan “Nahwu adalah bapaknya ilmu, dan Sharaf adalah ibunya.” Ungkapan ini banyak tercantum dalam mukadimah kitab-kitab nahwu dan sharaf.

Nahwu sebagai ilmu gramatika Arab merupakan disiplin ilmu untuk mengetahui posisi setiap kata, yang mana dalam bahasa Arab hal ini berpengaruh pada harakat akhir setiap kata. Istilahnya i’rab. Sementara itu, sharaf merupakan ilmu yang meneliti perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk lain.

Dengan makna gandul ala pesantren, santri terlatih mengenal istilah-istilah pokok dalam nahwu dan memahami perubahan masing-masing kata ketika kata tersebut telah beralih dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

2. Menjaga Keindahan Makna
Dalam tradisi makna gandul, santri dibiasakan mengenal dan mengaplikasikan nahwu dan sharaf. Dari ketatnya pemaknaan ini lahirlah ketelitian memahami maksud setiap ungkapan dari kitab. Ketelitian inilah yang tak begitu saja ditemukan dalam kitab yang sudah berbentuk terjemah.

Sebuah kalimat bahasa Arab dalam terjemah bahasa Indonesianya bisa sama, tetapi kalau dalam bentuk orisinilnya bisa saja memiliki maksud berbeda. Karena setiap olah posisi dalam bahasa Arab mengandung tekanan arti tersendiri yang sulit diungkapkan dalam penerjemahan. Disinilah keindahan dan kedalaman makna bisa terjaga dan diresapi.

3. Mendidik Rapih dan Teliti
Kalau kita lihat cetakan kitab-kitab pesantren zaman dahulu, rata-rata gundul tanpa harakat, tanpa koma, dan paragraf. Paling hanya tanda titik saja yang mengakhiri penjelasan panjang. Kerapatan antar baris biasanya setara dengan ketikan spasi ganda atau malah kurang.

Santri diajari menyelipkan tulisan makna sedemikian rupa di antara spasi-spasi itu. Butuh ketekunan, pembiasaan serta waktu lama untuk mahir memaknai ala pesantren ini hingga menghasilkan tulisan yang rapi dan teliti. Bisa terbaca oleh orang lain adalah ukuran sukses dari penulisan makna gandul.

4. Melatih Konsentrasi dan Fisik
Pengajian kitab kuning di pesantren biasa disebut bandongan. Prosesnya, guru atau kiai membaca kitab dan santri menulis makna. Sesekali diselingi keterangan dan penjelasan dari guru. Panjang pendeknya uraian keterangan tergantung kelimuan guru dan situasi serta tuntutan khatam.

Oh ya, tuntutan khatam biasa jadi patokan kajian kitab di pesantren. Para kiai dan santri berharap berkah dengan mengaji kitab hingga tuntas. Kadang kalau sudah mendekati batas waktu khataman yang telah ditentukan, maka ritme baca kitab bisa semakin cepat. Ngebut.

Hal ini menuntut santri untuk lebih berkonsentrasi. Dibutuhkan keseimbangan maksimal antara telinga yang mendengar suara guru, mata yang mencari posisi tepat menulis makna, dan tangan yang harus lincah menulis.

5. Memahami Makna dengan Detail
Pemaknaan kitab ala pesantren menghasilkan pemahaman makna lebih detail dengan mengerti kedudukan masing-masing kata ditinjau dari ilmu Nahwu dan Sharaf, serta ilmu alat lain. Dalam pemaknaan kalimat-kalimat sastra, memerlukan andil ilmu Balaghah (bagian dari ilmu sastra Arab) dalam mengungkap keindahannya.

Meskipun terkadang para santri terkendala dalam proses penerjemahan makna, tetapi pada dasarnya mereka memahami arti dalam ungkapan yang disampaikan pengarang kitab dengan lebih mendalam.

Ketelitian ini melahirkan kehati-hatian dalam memahami setiap dalil agama. Disisi lain, santri yang telah mengerti betapa rumitnya ilmu tata bahasa Arab tidak akan begitu saja mengekor pada buku-buku terjemahan.

Bagi kaum santri, memahami keterangan dari kitab kuning sama halnya mengaji kepada ulama yang menulis kitab tersebut. Santri juga menyadari betapa sulitnya ijtihad langsung dari nas Alquran dan Hadis tanpa memperhatikan dan mengikuti keterangan para ulama. Sehingga mereka merasa geli ketika ada orang yang antitaklid mazhab ternyata hanya bermodal buku-buku terjemahan.

Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random