Sebuah Kisah nyata dari seorang santri putra yang terkena penyakit kulit Gudik tetap semangat dalam menuntut Ilmu. Kisah ini terjadi dari salah satu teman admin santriyai yang tinggal bersama di sebuah Pesantren. Sebut saja di Fulan yang kurang lebih 5 tahun yang lalu terkena penyakit yang kerap terjadi dan membudaya di sebuah Pesantren. Santri Fulan ini mengidap penyakit gudik berhari-hari dan sangat parah, Teman santri senior yang lebih lama menyatakan penyakit gudik yang dialami si Fulan ini, Merupakan Santri terparah yang terkena scabies ( kudis,Gudik ) yang pernah ada. Bahkan salah satu masyarakat sekitar yang asli penduduk lingkungan pesantren si Fulan adalah seorang santri yang belum pernah ia temui dengan apa yang di deritanya.

Si Fulan ini terkena penyakit gudik di beberapa banyak bagian tubuh sehingga untuk aktivitas sehari-hari dia kesulitan bergerak dan menempatkan posisi PW ( Posisi Wenak ). Seperti halnya dia kesulitan berjalan, duduk, masuk madrasah, mandi, MAKAN DLL. Meskipun begitu Fulan dengan semangat dan tekadnya mondok yang mengharapkan ridho dan berkah ilmu manfaat dengan tanpa rasa malu dia masih tetap masih masuk madrasah. Padahal kelas Madrasah santri putra maupun putri menjadi satu ruagan. Dengan keadaan yang sulit untuk duduk Fulan tetap absen di kelas dengan berbaring. Tak ada rasa canggung sedikitpun meski teman yang lain duduk bersebelahan sedangkan dia berbaring dan menyimak kitab yang di pelajari dikelas. Bayangkan satu kelas bersebelahan dengan santri putri. Kenyataan terjadi bahwa biasanya santri sering malu-malu apabila bertemu santriwati.

Berkah, Santri, dan Kudis

Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.

Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini. Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?

Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi.

Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.

Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai.

Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu?

Sebagai seorang santri admin santriyai merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.

Kisah Nyata Santri Terkena Gudik Disekujur Tubuh Berkah, Santri, dan Kudis


Sebuah Kisah nyata dari seorang santri putra yang terkena penyakit kulit Gudik tetap semangat dalam menuntut Ilmu. Kisah ini terjadi dari salah satu teman admin santriyai yang tinggal bersama di sebuah Pesantren. Sebut saja di Fulan yang kurang lebih 5 tahun yang lalu terkena penyakit yang kerap terjadi dan membudaya di sebuah Pesantren. Santri Fulan ini mengidap penyakit gudik berhari-hari dan sangat parah, Teman santri senior yang lebih lama menyatakan penyakit gudik yang dialami si Fulan ini, Merupakan Santri terparah yang terkena scabies ( kudis,Gudik ) yang pernah ada. Bahkan salah satu masyarakat sekitar yang asli penduduk lingkungan pesantren si Fulan adalah seorang santri yang belum pernah ia temui dengan apa yang di deritanya.

Si Fulan ini terkena penyakit gudik di beberapa banyak bagian tubuh sehingga untuk aktivitas sehari-hari dia kesulitan bergerak dan menempatkan posisi PW ( Posisi Wenak ). Seperti halnya dia kesulitan berjalan, duduk, masuk madrasah, mandi, MAKAN DLL. Meskipun begitu Fulan dengan semangat dan tekadnya mondok yang mengharapkan ridho dan berkah ilmu manfaat dengan tanpa rasa malu dia masih tetap masih masuk madrasah. Padahal kelas Madrasah santri putra maupun putri menjadi satu ruagan. Dengan keadaan yang sulit untuk duduk Fulan tetap absen di kelas dengan berbaring. Tak ada rasa canggung sedikitpun meski teman yang lain duduk bersebelahan sedangkan dia berbaring dan menyimak kitab yang di pelajari dikelas. Bayangkan satu kelas bersebelahan dengan santri putri. Kenyataan terjadi bahwa biasanya santri sering malu-malu apabila bertemu santriwati.

Berkah, Santri, dan Kudis

Secara bahasa kata berkah berasal dari lafal bahasa Arab barakah, yang memiliki akar kata dari baraka yang makna umumnya adalah melimpah. Dalam kitab-kitab tasawuf, berkah diartikan sebagai ziyādat al khair, yakni bertambahnya kebaikan dalam segala hal.

Nabi Muhammad bersabda, “Yang disebut kaya bukanlah kaya harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan hati”. Sikap ini amat diutamakan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi, berkah adalah nomor satu. Kisah-kisah mengenai keberkahan seorang santri dalam ketaatannya terhadap kyai sudah populer di kalangan pesantren. Berkah dalam ilmu adalah harga mati. Berkah bisa dipersepsikan sebagai banyaknya manfaat suatu hal yang kian bertambah setiap hari disertai perasaan merasa cukup dengan keadaan yang ada. Kehidupan santri yang sederhana menjadikan mereka untuk selalu yakin bahwa apapun yang mereka dapatkan di pesantren adalah sebuah proses yang baik dalam pembelajaran, termasuk perihal penyakit kudis ini. Apakah memang kudis berkolerasi lurus dengan berkah tersebut?

Seorang santri lazimnya akan sering tidur dan makan bersama, menggunakan kamar mandi yang memiliki volume besar seperti kolam, maupun menggunakan pakaian maupun handuk milik teman secara sukarela. Di satu sisi, ini adalah sikap tenggang rasa yang amat mulia dan pembelajaran semacam ini amat sulit dicari di sekolah-sekolah umum. Namun di sisi lain, beberapa hal dia atas menyebabkan penularan penyakit kulit, yang salah satunya adalah kudis, dengan mudah menjangkiti santri. Pergaulan antar sesama yang rapat dan dekat, menjadikan berbagai kontak yang memungkinkan penularan penyakit ini cepat terjadi.

Ternyata dhawuh pengasuh pesantren mengenai keberadaan kudis santri memiliki jawaban secara sosiologis maupun psikologis. Jika seorang santri telah merasakan penyakit kulit ini, berarti dia telah menyusun suatu hubungan sosial yang lebih dekat dengan santri-santri lain, yang mungkin juga seorang penderita. Keakraban antar pribadi atau kelompok ini, menandakan adanya kenyamanan dalam pergaulan, dan ini akan sangat mendukung proses pembelajaran kedepannya. Secara psikologis, seorang santri baru yang menderita penyakit kulit akan dilatih untuk bersabar menghadapi penyakitnya, bersikap lebih dewasa untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan proses instropeksi mengenai kebersihan pribadi. Santri yang lebih senior, biasanya sudah tidak terganjal masalah penyakit kulit yang lebih kompleks sebagaimana santri baru.

Pertanyaannya, apakah memang seorang santri mesti terkena penyakit kudis ini? Mengingat di zaman ini infrastruktur pesantren sudah jauh lebih baik dibandingkan dahulu baik dalam hal sanitasi maupun fasilitas kesehatan, sehingga semestinya sudah mendapat perhatian yang lebih memadai.

Apakah santri tetap akan identik dengan penyakit kudis dalam prosesnya menuju keberkahan ilmu?

Sebagai seorang santri admin santriyai merasa bersyukur pernah merasakan kudis dalam masa belajar di pesantren. Semoga para kiai dan masyayikh senantiasa dilimpahi keikhlasan dalam membimbing santri dan masyarakat. Wallahu a’lam.
Baca Juga
Loading...
Post a Comment

Random