JAJAL IKLAN
Kata Isi Hati Anak Santri Untuk Ibu Saat Jauh Di Perantauan Pesantren

Kata hati akan muncul di saat jauh dari jangkuan orang tua, Kerinduan yang akrab bagi anak Pesantren ataupun anak perantauan ini selalau jadi gejolak kegelisahan dalam hati ketika menahan rindu kangen untuk Ortu.  Bukan hanya layaknya pacaran jarak jauh/LDR dengan kekasih seperti banyak yang dialami sebagian orang saja yang mempunya isi hati rindu. Namun kalangan kehidupan santri pun juga banyak yang mengalaminya, seperti halnya dibawah ini:.

1.Wahai Ibu, Walaupun saat ini kita terpisah antara jarak dan waktu yang jauh dan cukup lama. Namun aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin dan berjanji untuk membahagiakanmu. Doa dalam setiap sembah sujudmu akan selalu menyertaiku dalam langkahku menuju kesuksesan itu.

Sejujurnya beban kami terberat seorang santri yang ada didalam hati adalah jauh dari orang tua. Namun anak pondok percaya bahwa yang akan dia bahagiakan adalah kedua orang tuanya.

2.Disini aku memang banyak teman ibu, tetapi adakalanya juga aku merasa kesepian setiap hari karena rasa kangen yang bergejolak. Namun aku sadar bahwa ini adalah bagian dalam perjuanganku di Pondok Pesantren ini.

3.Aku memang merindukan kampung halamanku tempat dimana aku di lahirkan, tetapi kerinduan ini akan kugantikan dengan tercapainya kesuksesan.

Dalam diam seorang santriwan/santriwati yang sedang mondok mempunyai mimpi yang sangat besar. Tentu ada sebuah pengorbanan yang dilakukannya, salah satunya adalah menahan rindu tanah kelahiran. Dan kerinduan ini akan terbayar lunas setelah waktunya tiba disana untuk mengembangkan tanah kelahiran. Tunggu saat waktunya tiba.

3.Tirakat adalah bagian yang terpenting dalam perjuangan menuntut Ilmu di Pesantren, tetapi aku yakin tidak ada yang namanya tentang proses itu ada penghianatan dari hasil.

Kami tirakat untuk selalu hidup hemat dan prihatin, yang tak lain juga agar mampu bertahan hidup di hari selanjutnya. Disaat tahu kiriman dari orang tua akan telat, namun kami hanya bisa pasrah, namun tak apa. Itu memang sebuah proses kehidupan dan sebuah proses itu tidak akan pernah menghianati hasil terahir nantinya.

4.Semua yang terjadi padaku susah senang, pahitnya kehidupan mondok selalu kuselesaikan sendiri sebisa mungkin, karena aku sadar hidup mandiri di pondok itu sudah menjadi pilihanku.

Di saat sakit menerpa seperti gatal-gatal gudik, masuk anagin dan lain penyakit yang kami hadapi, jarang kami terus terang kepada orang tua. Kami tidak mau merepotkan kedua Ortu dengan keluhan-keluhan yang ada dalam diri. Di saat orang tua menelpon apa kabarmu ? Kami selalu menjawab ya kami baik-baik saja dan kami akan berjuang tetap menjadi yang terbaik dan terhebat. Karena kami tidak mau menambah beban mereka.

5.Ayah dan Ibu aku yakin disini aku akan bertambah mental yang lebih jauh dari yang bapak/ibu tahu.

Sebagai anak rantau mempunyai mental yang yang kuat jauh dibanding anak yang tinggal bersama orang tua lebih memberikan energi yang super. Karena kami menghadapi permasalahan terlebih dahulu untuk sendiri sebelum mengadu kepada orang tua. Didalam kesepian dan kegalauan yang datang kami lawan dengan ketegaran dan kesabaran yang hebat. Bila Rindu bergejolak didalam hati hanya tangis yang kami tahan setiap malam yang sunyi.

6.Teruntuk kedua orang tuaku, terima kasih telah mengizinkanku untuk kepesantren, disini aku banyak belajar menjadi anak santri yang super kuat dalam menghadapi dunia.

Sangat beruntung sekali menjadi orang tua yang merelakan anaknya untuk menuntut Ilmu di Pesantren. Sebetulnya banyak orang tua tahu bahwa melepaskan anak kepesantren itu sangatlah berat, terutama bagi anaknya yang masih lulus SD. Tetapi disitulah titik letak kehebatan Orang Tua, rela melepaskan anaknya demi mendapatkan pengalaman yang jauh berharga dibanding tinggal bersama di Rumah. Kami menyadari bahwa orang tua hebat telah memberi kepercayaan kepada anaknya dan harus keluar dari zona nyaman.

6 Kata Isi Hati Anak Santri Untuk Ibu Saat Jauh Di Perantauan Pesantren

Kata Isi Hati Anak Santri Untuk Ibu Saat Jauh Di Perantauan Pesantren

Kata hati akan muncul di saat jauh dari jangkuan orang tua, Kerinduan yang akrab bagi anak Pesantren ataupun anak perantauan ini selalau jadi gejolak kegelisahan dalam hati ketika menahan rindu kangen untuk Ortu.  Bukan hanya layaknya pacaran jarak jauh/LDR dengan kekasih seperti banyak yang dialami sebagian orang saja yang mempunya isi hati rindu. Namun kalangan kehidupan santri pun juga banyak yang mengalaminya, seperti halnya dibawah ini:.

1.Wahai Ibu, Walaupun saat ini kita terpisah antara jarak dan waktu yang jauh dan cukup lama. Namun aku akan tetap berusaha semaksimal mungkin dan berjanji untuk membahagiakanmu. Doa dalam setiap sembah sujudmu akan selalu menyertaiku dalam langkahku menuju kesuksesan itu.

Sejujurnya beban kami terberat seorang santri yang ada didalam hati adalah jauh dari orang tua. Namun anak pondok percaya bahwa yang akan dia bahagiakan adalah kedua orang tuanya.

2.Disini aku memang banyak teman ibu, tetapi adakalanya juga aku merasa kesepian setiap hari karena rasa kangen yang bergejolak. Namun aku sadar bahwa ini adalah bagian dalam perjuanganku di Pondok Pesantren ini.

3.Aku memang merindukan kampung halamanku tempat dimana aku di lahirkan, tetapi kerinduan ini akan kugantikan dengan tercapainya kesuksesan.

Dalam diam seorang santriwan/santriwati yang sedang mondok mempunyai mimpi yang sangat besar. Tentu ada sebuah pengorbanan yang dilakukannya, salah satunya adalah menahan rindu tanah kelahiran. Dan kerinduan ini akan terbayar lunas setelah waktunya tiba disana untuk mengembangkan tanah kelahiran. Tunggu saat waktunya tiba.

3.Tirakat adalah bagian yang terpenting dalam perjuangan menuntut Ilmu di Pesantren, tetapi aku yakin tidak ada yang namanya tentang proses itu ada penghianatan dari hasil.

Kami tirakat untuk selalu hidup hemat dan prihatin, yang tak lain juga agar mampu bertahan hidup di hari selanjutnya. Disaat tahu kiriman dari orang tua akan telat, namun kami hanya bisa pasrah, namun tak apa. Itu memang sebuah proses kehidupan dan sebuah proses itu tidak akan pernah menghianati hasil terahir nantinya.

4.Semua yang terjadi padaku susah senang, pahitnya kehidupan mondok selalu kuselesaikan sendiri sebisa mungkin, karena aku sadar hidup mandiri di pondok itu sudah menjadi pilihanku.

Di saat sakit menerpa seperti gatal-gatal gudik, masuk anagin dan lain penyakit yang kami hadapi, jarang kami terus terang kepada orang tua. Kami tidak mau merepotkan kedua Ortu dengan keluhan-keluhan yang ada dalam diri. Di saat orang tua menelpon apa kabarmu ? Kami selalu menjawab ya kami baik-baik saja dan kami akan berjuang tetap menjadi yang terbaik dan terhebat. Karena kami tidak mau menambah beban mereka.

5.Ayah dan Ibu aku yakin disini aku akan bertambah mental yang lebih jauh dari yang bapak/ibu tahu.

Sebagai anak rantau mempunyai mental yang yang kuat jauh dibanding anak yang tinggal bersama orang tua lebih memberikan energi yang super. Karena kami menghadapi permasalahan terlebih dahulu untuk sendiri sebelum mengadu kepada orang tua. Didalam kesepian dan kegalauan yang datang kami lawan dengan ketegaran dan kesabaran yang hebat. Bila Rindu bergejolak didalam hati hanya tangis yang kami tahan setiap malam yang sunyi.

6.Teruntuk kedua orang tuaku, terima kasih telah mengizinkanku untuk kepesantren, disini aku banyak belajar menjadi anak santri yang super kuat dalam menghadapi dunia.

Sangat beruntung sekali menjadi orang tua yang merelakan anaknya untuk menuntut Ilmu di Pesantren. Sebetulnya banyak orang tua tahu bahwa melepaskan anak kepesantren itu sangatlah berat, terutama bagi anaknya yang masih lulus SD. Tetapi disitulah titik letak kehebatan Orang Tua, rela melepaskan anaknya demi mendapatkan pengalaman yang jauh berharga dibanding tinggal bersama di Rumah. Kami menyadari bahwa orang tua hebat telah memberi kepercayaan kepada anaknya dan harus keluar dari zona nyaman.

Luangkan Waktu Anda Untuk Membaca Artikel Dibawah Ini PENTING
Loading...
Post a Comment

Random