Bercerita tentang santri yang sedang menuntut Ilmu di Pondok Pesantren merupakan momen kenangan yang dirasakan oleh sebagian santri maupun para Alumni lulusan Pesantren. Apalagi bicara soal bulan Ramadan anak rantau yang sedang nyantri ini nggak bisa dipisahkan dari yang namanya mudik lebaran atau liburan panjang. Liburan panjang memang biasanya adalah hal yang paling ditunggu oleh para santri. Selain momen pelepas rindu bertemu dengan keluarga dan kampung halaman. Mudik/liburan panjang juga kerap dimaknai sebagai momen me-refresh diri dari rutinitas yang padat di Pondok yang setiap hari menjadi perjuangannya untuk meniti Ilmu dijalan Allah Swt.

Siapa sih yang nggak senang bertemu keluarga? Kita semua tentunya juga pasti sudah menunggu momen mudik bukan? Tapi nyatanya, nggak semuanya bahagia menyambut libur lebaran. Khusus untuk kalangan anak pesantren ada banyak faktor alasan kenapa santri tidak pulang kampung saat lebaran. Walapun mempunyai alasan yang kuat untuk tidak mudik saat lebaran tetap saja semua santri ataupun orang di luar sana banyak yang merasakan kesedihan yang amat dalam. Namun juga di suatu hari nanti akan menjadi sebuah kenangan momen cerita paling sedih karena perjuangan dan pengorbanan saat menuntut Ilmu Di Pondok Pesantren yang mau nggak mau tetap harus di jalani.

Berikut 6 hal yang mungkin rasakan saat nggak bisa mudik lebaran.

1.Merasakan keresahan mungkin akan timbul setiap kali teman-teman santri bercerita membawa topik lebaran dan mudik di kampunh halaman.

Mendengar percakapan teman semacam itu rasanya resah sekaligus miris, tapi apa daya kenyataannya santri nggak bisa mudik lagi tahun ini. Keresahan karena dia nggak bisa mudik sejatinya sudah membayanginya jauh sebelum libur lebaran tiba. Penyebab yang lumrah biasanya kendala biaya, jarak yang jauh dan ada sesuatau yang mesti diselesaikan di rantauan.

2. Bukannya nggak mau berjuang untuk pulang, tapi memang ada sesuatu di luar kuasamu sebagai seorang santri yang mengharuskanmu tinggal di pesantren karena itu juga kewaiban dan tuntutan yang harus dia penuhi.

Pertanyaan-pertanyaan silih berganti menyapa dia dari tutur kerabat dekatmu. Awalnya terdengar wajar, tapi semakin lama pertanyaan serupa makin mengusik kenyamanan dia. Bukannya tersinggung, namun siapa sih yang nggak mau pulang? Pastinya mau cuma memang pada saat itu nggak bisa pulang.

Mulai dari jarak yang jauh dan biaya perjalanan yang nggak sebanding dengan lamanya waktu liburan, sampai ada tugas yang nggak bisa ditinggalkan. Semua kemungkinan untuk pulang sudah kamu perjuangkan, tapi apa daya kenyataan nggak sesuai ekspektasinya.

3. Hari demi hari menjelang lebaran kamar/asrama pesantren mulai sepi, sebab teman satu per satu pergi. Di sinilah rasa sepi mulai menjangkiti

Selain tak bisa bertemu keluarga, satu hal yang membuatmu merasa miris adalah ketika tak ada teman untuk menghadapi kesendirianmu di tanah rantau. Rasa sepi itu mulai menjangkiti pada pertengahan puasa saat temanmu satu per satu pulang kembali ke peraduan. Suasana indekosmu mendadak sunyi, terpaksa ke mana-mana kamu mesti sendiri, dan hari-hari kamu jalani sebagai penyendiri.

4. Pada Hari Raya Idul Fitri semua kegalauan pun pecah, rasanya ingin tidur seharian daripada terus menerus sendu saat ingat rumah

Puncaknya adalah saat lebaran tiba. Hari raya suci yang biasanya kamu mulai dengan shalat ied bersama di masjid, terpaksa kamu jalani sendiri. Momen hangat bertemu sepupu-sepupu dari jauh hanya bisa kamu bayangkan dalam angan. Tak ada pula nostalgia saat bertemu teman-teman kecil dulu. Kerinduan jadi satu dan rasanya ingin tidur saja daripada galau dan sendu menahan rindu-rindu berkecamuk dalam kalbu.

5. Lebaran di rantauan makan apa saja serasa tak enak, karena cuma cita rasa opor buatan ibu yang terngiang di kepala

Lebaran identik dengan opor ayam sebagai hidangan santap pagi. Buah tangan ibu sebagai koki semakin bertambah lezat saat disantap bareng keluarga. Kerinduan akan kampung halaman dan suasana lebaran mungkin sudah kamu siasati dengan mencari santapan opor ayam, tapi nyatanya tak ada yang mampu mengalahkan opor ayam buatan ibu yang sudah terlanjur terkecap lezat di lidah serta ingatanmu akan masa kecil dulu di kampung halaman.

6. Menelpon rumah jelas satu-satunya cara membunuh rindu, mendengar suara ayah dan ibu

Obat rindu akan rumah paling mujarab dan setidaknya bisa mengobati kerinduan rumah adalah dengan mendengar suara ibu. Ya, itulah hal yang sedikit bisa mendistraksi kegalauan dan kesepianmu menjalani lebaran di rantauan. Lebih jauh lagi kamu bisa memanfaatkan video call untuk melihat rupa ibu, ayah, kakak, adik dan saudara-saudaramu lainnya saat mereka sedang berkumpul di rumah.

Memang menyedihkan tak bisa berlebaran di kampung halaman. Tapi setidakberuntungnya kamu, hidup selelu menawarkan dua sisi. Berlebaran sendiri sejatinya bisa kamu jadikan pelajaran untuk dirimu sendiri. Di saat seperti inilah sejatinya kamu bisa merenung dan meresapi arti pentingnya sebuah pertemuan dengan keluarga. Sehingga ke depannya kamu menjadi lebih bijak menyikapi waktu libur adengan memanfatkannya sebagai momen untuk pulang dan bertemu keluarga.

Semoga artikel ini bisa sedikit menghibur anak-anak pesantren yang jarang pulang kampung, ya… Nah, khusus buat kamu yang lebaran besok terpaksa bengong di pondok, semoga bisa tetap bahagia menyambut hari raya. Semangat ya, guys!

Inspirasi Kutipan Hipwee

6 Hal Cerita Yang Dirasakan Santri Saat Tidak Mudik Lebaran Yang Menjadi Kenangan Momen Paling Sedih


Bercerita tentang santri yang sedang menuntut Ilmu di Pondok Pesantren merupakan momen kenangan yang dirasakan oleh sebagian santri maupun para Alumni lulusan Pesantren. Apalagi bicara soal bulan Ramadan anak rantau yang sedang nyantri ini nggak bisa dipisahkan dari yang namanya mudik lebaran atau liburan panjang. Liburan panjang memang biasanya adalah hal yang paling ditunggu oleh para santri. Selain momen pelepas rindu bertemu dengan keluarga dan kampung halaman. Mudik/liburan panjang juga kerap dimaknai sebagai momen me-refresh diri dari rutinitas yang padat di Pondok yang setiap hari menjadi perjuangannya untuk meniti Ilmu dijalan Allah Swt.

Siapa sih yang nggak senang bertemu keluarga? Kita semua tentunya juga pasti sudah menunggu momen mudik bukan? Tapi nyatanya, nggak semuanya bahagia menyambut libur lebaran. Khusus untuk kalangan anak pesantren ada banyak faktor alasan kenapa santri tidak pulang kampung saat lebaran. Walapun mempunyai alasan yang kuat untuk tidak mudik saat lebaran tetap saja semua santri ataupun orang di luar sana banyak yang merasakan kesedihan yang amat dalam. Namun juga di suatu hari nanti akan menjadi sebuah kenangan momen cerita paling sedih karena perjuangan dan pengorbanan saat menuntut Ilmu Di Pondok Pesantren yang mau nggak mau tetap harus di jalani.

Berikut 6 hal yang mungkin rasakan saat nggak bisa mudik lebaran.

1.Merasakan keresahan mungkin akan timbul setiap kali teman-teman santri bercerita membawa topik lebaran dan mudik di kampunh halaman.

Mendengar percakapan teman semacam itu rasanya resah sekaligus miris, tapi apa daya kenyataannya santri nggak bisa mudik lagi tahun ini. Keresahan karena dia nggak bisa mudik sejatinya sudah membayanginya jauh sebelum libur lebaran tiba. Penyebab yang lumrah biasanya kendala biaya, jarak yang jauh dan ada sesuatau yang mesti diselesaikan di rantauan.

2. Bukannya nggak mau berjuang untuk pulang, tapi memang ada sesuatu di luar kuasamu sebagai seorang santri yang mengharuskanmu tinggal di pesantren karena itu juga kewaiban dan tuntutan yang harus dia penuhi.

Pertanyaan-pertanyaan silih berganti menyapa dia dari tutur kerabat dekatmu. Awalnya terdengar wajar, tapi semakin lama pertanyaan serupa makin mengusik kenyamanan dia. Bukannya tersinggung, namun siapa sih yang nggak mau pulang? Pastinya mau cuma memang pada saat itu nggak bisa pulang.

Mulai dari jarak yang jauh dan biaya perjalanan yang nggak sebanding dengan lamanya waktu liburan, sampai ada tugas yang nggak bisa ditinggalkan. Semua kemungkinan untuk pulang sudah kamu perjuangkan, tapi apa daya kenyataan nggak sesuai ekspektasinya.

3. Hari demi hari menjelang lebaran kamar/asrama pesantren mulai sepi, sebab teman satu per satu pergi. Di sinilah rasa sepi mulai menjangkiti

Selain tak bisa bertemu keluarga, satu hal yang membuatmu merasa miris adalah ketika tak ada teman untuk menghadapi kesendirianmu di tanah rantau. Rasa sepi itu mulai menjangkiti pada pertengahan puasa saat temanmu satu per satu pulang kembali ke peraduan. Suasana indekosmu mendadak sunyi, terpaksa ke mana-mana kamu mesti sendiri, dan hari-hari kamu jalani sebagai penyendiri.

4. Pada Hari Raya Idul Fitri semua kegalauan pun pecah, rasanya ingin tidur seharian daripada terus menerus sendu saat ingat rumah

Puncaknya adalah saat lebaran tiba. Hari raya suci yang biasanya kamu mulai dengan shalat ied bersama di masjid, terpaksa kamu jalani sendiri. Momen hangat bertemu sepupu-sepupu dari jauh hanya bisa kamu bayangkan dalam angan. Tak ada pula nostalgia saat bertemu teman-teman kecil dulu. Kerinduan jadi satu dan rasanya ingin tidur saja daripada galau dan sendu menahan rindu-rindu berkecamuk dalam kalbu.

5. Lebaran di rantauan makan apa saja serasa tak enak, karena cuma cita rasa opor buatan ibu yang terngiang di kepala

Lebaran identik dengan opor ayam sebagai hidangan santap pagi. Buah tangan ibu sebagai koki semakin bertambah lezat saat disantap bareng keluarga. Kerinduan akan kampung halaman dan suasana lebaran mungkin sudah kamu siasati dengan mencari santapan opor ayam, tapi nyatanya tak ada yang mampu mengalahkan opor ayam buatan ibu yang sudah terlanjur terkecap lezat di lidah serta ingatanmu akan masa kecil dulu di kampung halaman.

6. Menelpon rumah jelas satu-satunya cara membunuh rindu, mendengar suara ayah dan ibu

Obat rindu akan rumah paling mujarab dan setidaknya bisa mengobati kerinduan rumah adalah dengan mendengar suara ibu. Ya, itulah hal yang sedikit bisa mendistraksi kegalauan dan kesepianmu menjalani lebaran di rantauan. Lebih jauh lagi kamu bisa memanfaatkan video call untuk melihat rupa ibu, ayah, kakak, adik dan saudara-saudaramu lainnya saat mereka sedang berkumpul di rumah.

Memang menyedihkan tak bisa berlebaran di kampung halaman. Tapi setidakberuntungnya kamu, hidup selelu menawarkan dua sisi. Berlebaran sendiri sejatinya bisa kamu jadikan pelajaran untuk dirimu sendiri. Di saat seperti inilah sejatinya kamu bisa merenung dan meresapi arti pentingnya sebuah pertemuan dengan keluarga. Sehingga ke depannya kamu menjadi lebih bijak menyikapi waktu libur adengan memanfatkannya sebagai momen untuk pulang dan bertemu keluarga.

Semoga artikel ini bisa sedikit menghibur anak-anak pesantren yang jarang pulang kampung, ya… Nah, khusus buat kamu yang lebaran besok terpaksa bengong di pondok, semoga bisa tetap bahagia menyambut hari raya. Semangat ya, guys!

Inspirasi Kutipan Hipwee
BACA JUGA
loading...
iklan banner
LightBlog
Posting Komentar

Random