Masalah hutang bisa dikatakan sesuatu hal yang cukup rumit. Meminjam atau hutang uang kepada seseorang rasanya mudah. Mengembalikannya merupakan sesuatu yang agak berat. Jika ada dompet yang jatuh di pinggir jalan raya, surat-surat yang ada di dalam dompet mungkin masih utuh. Namun untuk masalah uang, mungkin sudah hilang dengan sendirinya. Jangankan nominal yang besar, yang kecil saja mungkin sudah amblas. Uang itu memang panas. Jika tak kuat, maka dapat menjerumuskan manusianya itu sendiri.

Pahala menghutangi orang lain mendapatkan dua. Pahala memberi kepada orang lain mendapatkan satu ganjaran/pahala. Lalu pahala menghutangi kemudian umengikhlaskannya maka mendapatkan pahala/ganjaran tiga. Poin yang ketiga untuk mengikhlaskan hutang memang bukan suatu cara perkara yang mudah. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukannya. Menyegerakan untuk membayar hutang merupakan sesuatu yang mungkin terasa berat. Beberapa fakta maupun bukti kenyataan yang ada jika masalah hutang merupakan sesuatu yang cukup “pelik”. Yang saudara sekandung bisa saja menjadi pisah oleh karena masalah hutang. Sementara yang bertemu di jalan raya terkadang malah menjadi saudara dekat oleh karena jasa kebaikannya yaitu pernah meminjami uang.

Orang yang meminjam hutang tentu senang-senang saja jika mendapatkannya, sedangkan jika membayar hutang tentu cukup berat untuk melaksanakannya/melakukannya. Membayar hutang dengan cara dicicil sedikit demi sedikit tentunya masih lumayan mudah. Membayar hutang jika terlalu banyak tentunya akan semakin berat. Permasalahannya adalah jika ada seseorang yang senang hutang namun enggan untuk mengembalikannya. Senangnya hutang, namun jika mempunyai uang malah digunakan untuk memperkaya dirinya sendiri. Dengan kata lain, hartanya tetangga digunakan untuk memperkaya diri. Niat untuk mengembalikan hutang saja terkadang tidak mempunyai. Yang ada, inginnya selalu hutang dan selalu hutang kepada orang lain namun enggan untuk mengembalikannya.

Pada intinya, niat di dalam hati merupakan hal yang paling penting. Mempunyai harta yang banyak namun selalu saja mengatakan tidak mempunyai uang. Jika bertemu dengan orang lain, keinginannya selalu hutang. Bahkan sekalipun kepada orang yang lebih muda, ia pun tak malu mengungkapkannya untuk hutang. Selalu hutang dan ketika sudah mendapatkan uang terkadang sudah lupa berapa hutangnya.

Menyegerakan untuk membayar hutang merupakan perbuatan yang mulia. Menyegerakan membayar hutang---merupakan sebuah keharusan. Jika mempunyai sedikit uang, maka lunasilah sedikit demi sedikit. Syukur, jika mampu mengembalikannya dalam jumlah banyak. Sebab, orang yang mempunyai hutang banyak bisa saja rezekinya menjadi sempit oleh karena terganjalnya doa dikarenakan hati orang lain yang merasa tersakiti. Bisa saja orang yang kelihatannya sederhana namun kemudian menjadi kaya oleh karena tidak mempunyai hutang dan tidak ada orang yang tersakiti. Sementara orang yang kaya raya, memiliki banyak hutang dan enggan untuk mengembalikannya, bisa saja nantinya akan menjadi miskin. Dan kasus yang seperti ini telah terjadi dan terbukti di mana-mana.

Maka dari itu, mulailah dari sekarang untuk membayar hutang. Sedikit demi sedikit lama-lama hutangnya akan terlunasi dan mungkin tidak begitu terasa. Syukur mampu membayar hutang dengan sesegera mungkin. Pada intinya, yang saya maksud adalah niat. Niat untuk menyegerakan membayar hutang. Jika tidak mempunyai niat untuk membayar hutang, maka tunggulah azab dari-Nya, karena hukum Tuhan bersifat adil. Wallahu a’lam

Jika tidak mempunyai niat untuk membayar hutang, maka tunggulah azab dari-Nya


Masalah hutang bisa dikatakan sesuatu hal yang cukup rumit. Meminjam atau hutang uang kepada seseorang rasanya mudah. Mengembalikannya merupakan sesuatu yang agak berat. Jika ada dompet yang jatuh di pinggir jalan raya, surat-surat yang ada di dalam dompet mungkin masih utuh. Namun untuk masalah uang, mungkin sudah hilang dengan sendirinya. Jangankan nominal yang besar, yang kecil saja mungkin sudah amblas. Uang itu memang panas. Jika tak kuat, maka dapat menjerumuskan manusianya itu sendiri.

Pahala menghutangi orang lain mendapatkan dua. Pahala memberi kepada orang lain mendapatkan satu ganjaran/pahala. Lalu pahala menghutangi kemudian umengikhlaskannya maka mendapatkan pahala/ganjaran tiga. Poin yang ketiga untuk mengikhlaskan hutang memang bukan suatu cara perkara yang mudah. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melakukannya. Menyegerakan untuk membayar hutang merupakan sesuatu yang mungkin terasa berat. Beberapa fakta maupun bukti kenyataan yang ada jika masalah hutang merupakan sesuatu yang cukup “pelik”. Yang saudara sekandung bisa saja menjadi pisah oleh karena masalah hutang. Sementara yang bertemu di jalan raya terkadang malah menjadi saudara dekat oleh karena jasa kebaikannya yaitu pernah meminjami uang.

Orang yang meminjam hutang tentu senang-senang saja jika mendapatkannya, sedangkan jika membayar hutang tentu cukup berat untuk melaksanakannya/melakukannya. Membayar hutang dengan cara dicicil sedikit demi sedikit tentunya masih lumayan mudah. Membayar hutang jika terlalu banyak tentunya akan semakin berat. Permasalahannya adalah jika ada seseorang yang senang hutang namun enggan untuk mengembalikannya. Senangnya hutang, namun jika mempunyai uang malah digunakan untuk memperkaya dirinya sendiri. Dengan kata lain, hartanya tetangga digunakan untuk memperkaya diri. Niat untuk mengembalikan hutang saja terkadang tidak mempunyai. Yang ada, inginnya selalu hutang dan selalu hutang kepada orang lain namun enggan untuk mengembalikannya.

Pada intinya, niat di dalam hati merupakan hal yang paling penting. Mempunyai harta yang banyak namun selalu saja mengatakan tidak mempunyai uang. Jika bertemu dengan orang lain, keinginannya selalu hutang. Bahkan sekalipun kepada orang yang lebih muda, ia pun tak malu mengungkapkannya untuk hutang. Selalu hutang dan ketika sudah mendapatkan uang terkadang sudah lupa berapa hutangnya.

Menyegerakan untuk membayar hutang merupakan perbuatan yang mulia. Menyegerakan membayar hutang---merupakan sebuah keharusan. Jika mempunyai sedikit uang, maka lunasilah sedikit demi sedikit. Syukur, jika mampu mengembalikannya dalam jumlah banyak. Sebab, orang yang mempunyai hutang banyak bisa saja rezekinya menjadi sempit oleh karena terganjalnya doa dikarenakan hati orang lain yang merasa tersakiti. Bisa saja orang yang kelihatannya sederhana namun kemudian menjadi kaya oleh karena tidak mempunyai hutang dan tidak ada orang yang tersakiti. Sementara orang yang kaya raya, memiliki banyak hutang dan enggan untuk mengembalikannya, bisa saja nantinya akan menjadi miskin. Dan kasus yang seperti ini telah terjadi dan terbukti di mana-mana.

Maka dari itu, mulailah dari sekarang untuk membayar hutang. Sedikit demi sedikit lama-lama hutangnya akan terlunasi dan mungkin tidak begitu terasa. Syukur mampu membayar hutang dengan sesegera mungkin. Pada intinya, yang saya maksud adalah niat. Niat untuk menyegerakan membayar hutang. Jika tidak mempunyai niat untuk membayar hutang, maka tunggulah azab dari-Nya, karena hukum Tuhan bersifat adil. Wallahu a’lam

BACA JUGA
loading...
iklan banner
LightBlog
Posting Komentar

Random