Berkah Tinggal Di Pesantren. 5 Benda Ini Menjadi Budaya Rebutan Santri Yang Disebut Bid'ah, Syirik Wahabi

Berkah tinggal di Pondok Pesantren adalah suatu hal yang selalu dicari para santri, bahkan demi mendapatkan berkah tinggal di Pondok para santri menggunakan cara-cara unik/aneh untuk mendapatkan keberkahan saat hidup di penjara suci.

Budaya rebutan di pesantren juga sudah menjadi ciri khas sebagian anak pondok manapun. Mulai dari budaya berebut benda-benda serta sisa-sia makanan guru atau pun saling berebutan mendahului, barang-barang milik orang alim untuk dirapikan dan dibersihkan biasanya.

Bagi orang yang tidak sependapat soal budaya-budaya santri berebutan yang notabene, semuanya diyakini kalangan pesantren agar mendapatkan berkah dari orang-orang alim di Pesantren atau juga dari hal-hal lainnya. Tapi santri mempunyai cerita sendiri, orang di luar pesantren mungkin akan menilai sebagian acara rebutan itu kurang baik, kurang sopan, atau bahkan ada yang memvonis bidah dan syirik.

Berikut keberkahan yang diyakini anak Pesantren, 5 Benda ini jadi alasan mereka ada yang namanya budayanberebutan:

1. Sandal/Alas Kaki Para Kiai


Sandal atau alas kaki kiai diperebutkan santri? Iya. Hingga sekarang masih banyak dan masih menjadi kebiasaan para santri untuk berebutan sandal kiai. Tapi bukan berebut mengambil dan dipakai. Mereka berebutan menata sandal Kiai.

Di berbagai kesempatan, entah pengajian kitab atau acara lainnya, ada saja santri yang adu cepat untuk menata sandal ataupun alas kaki kiai. Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa hormat dan takzim pada guru. Bukan karena mengkultuskan atau menuhakan, namun berharap sang guru senang dan lahirlah doa kebaikannya untuk si santri yang mengharap doanya.

Para santri juga meyakini keberkahan dari menata sandal kiai. Kisah-kisah santri zaman dahulu yang mengabdikan diri pada guru sering menjadi motivator agar santri tetap menjaga tradisi unik itu.

2. Sisa Makanan atau Minuman Para Kiai


Perhatikan jika di pesantren ada acara yang dihadiri para kiai. Tunggu hingga usai acara dan kiai beranjak pergi. Maka tak menunggu lama, pasti ada beberapa santri yang merangsek dan memperebutkan sisa makanan atau minuman yang disuguhan di meja para kiai. Apalagi jika dalam acara itu hadir ulama atau kiai yang tergolong tua atau tokoh ulama.

Bukan karena rakus, bukan pula kelaparan. Buktinya, mereka yang kalah cepat mendapatkan sisa tersebut, masih bisa meminta bagian sedikit kepada rekannya yang lebih dulu mengambil. Sekali lagi, sisa makanan dan minuman orang saleh diyakini mendapat keberkahan.

Jangankan sisa makanan, bahkan dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah, juz VI, hal 18, diceritakan bahwa Imam Syafi’i meminum air rendaman baju Imam Ahmad yang masih terbilang muridnya untuk bertabaruk.

Sebaliknya, Imam Ahmad pun melakukan hal yang sama terhadap baju Imam Syafi’i yang disimpannya. Itu air basuhan baju, apalagi sisa makanan yang jelas masih lebih enak, tentu para santri tak menyia-nyiakannya. Hitung-hitung tabarukan sambil mengisi perut.

3. Puntung Rokok Kiai


Lupakan khilafiyah soal rokok dan hujatan sebagian orang terhadap ulama yang tergolong perokok. Bagaimanapun simpang siurnya bahaya rokok tak lepas dari kepentingan bisnis yang menyeret agama, yang pada akhirnya akan menyengsarakan petani tembakau lokal.

Bagi para santri yang memiliki kiai perokok, ada lagi sasaran benda yang jadi bahan rebutan. Yaitu sisa atau puntung rokok kiai. Sama seperti halnya sisa makanan dan minuman yang diharapkan jadi jalan berkah, dengan alasan yang sama para santri mengicar sisa rokok kiai.

Di pesantren yang pak kiainya merupakan perokok, ada saja cara para santri untuk mendapatkan sisa rokok kiai. Ada yang sambil membersihkan halaman ndalem sambil mencari kalau-kalau puntung rokok kiai dibuang di sudut halaman. Selain untuk ngalap berkah, lumayan buat mengurangi anggaran belanja.

4. Oleh-oleh dari Tamu/Wali Santri


Kalau yang ini masih berlaku di sebagian pesantren dan sebagian yang lain mulai menertibkan diri. Acara rebutan oleh-oleh dimulai sejak pertama kali tamu/wali santri beranjak pamitan. Begitu tamu pergi, maka… berrrrr… oleh-oleh yang dibawa segera saja jadi rebutan. Kadang makanan yang dibawa malah jadi berantakan.

Acara rebutan makanan/jajan dari tamu ini di sebagian pesantren sudah dikikis karena dianggap kurang sopan. Kalau ada oleh-oleh dari tamu atau wali santri, demi berbagi dan mengikis kebiasaan rebutan, maka makanan itu di bagi rata.

5. Kerak Nasi yang Direndam


Berebut kerak nasi sebenarnya tidak bisa dikatakan berebut karena terbatas pada anggota kelompok masak saja. Itu pun tidak semua anggota. Hanya satu dua orang yang memang hobi atau masih kurang kenyang saat makan. Tapi ini tetap tergolong hal unik yang diperebutkan santri.

Kerak nasi biasanya didapat dengan menanak menggunakan periuk dengan bahan bakar kayu. Ketika makan bersama, kerak yang ada di dasar periuk tidak ikut diambil tapi direndam dengan air minum baik air mentah maupun air matang. Air rendaman kerak nasi ini rasanya beda lho. Ada gurih-gurihnya gitu. Selesai makan, kerak nasi yang lebih lunak itu akan jadi makanan tambahan. Lebih sedap jika setelah air minumnya dibuang lalu kerak nasi direndam dengan kuah. Joos dah rasanya.

Nah, itulah benda-benda yang sering diperebutkan santri di pesantren. Yang manakah pernah Anda atau anak Anda alami?

Berkah Tinggal Di Pesantren. 5 Benda Ini Menjadi Budaya Rebutan Santri Yang Disebut Bid'ah, Syirik Wahabi

Berkah Tinggal Di Pesantren. 5 Benda Ini Menjadi Budaya Rebutan Santri Yang Disebut Bid'ah, Syirik Wahabi

Berkah tinggal di Pondok Pesantren adalah suatu hal yang selalu dicari para santri, bahkan demi mendapatkan berkah tinggal di Pondok para santri menggunakan cara-cara unik/aneh untuk mendapatkan keberkahan saat hidup di penjara suci.

Budaya rebutan di pesantren juga sudah menjadi ciri khas sebagian anak pondok manapun. Mulai dari budaya berebut benda-benda serta sisa-sia makanan guru atau pun saling berebutan mendahului, barang-barang milik orang alim untuk dirapikan dan dibersihkan biasanya.

Bagi orang yang tidak sependapat soal budaya-budaya santri berebutan yang notabene, semuanya diyakini kalangan pesantren agar mendapatkan berkah dari orang-orang alim di Pesantren atau juga dari hal-hal lainnya. Tapi santri mempunyai cerita sendiri, orang di luar pesantren mungkin akan menilai sebagian acara rebutan itu kurang baik, kurang sopan, atau bahkan ada yang memvonis bidah dan syirik.

Berikut keberkahan yang diyakini anak Pesantren, 5 Benda ini jadi alasan mereka ada yang namanya budayanberebutan:

1. Sandal/Alas Kaki Para Kiai


Sandal atau alas kaki kiai diperebutkan santri? Iya. Hingga sekarang masih banyak dan masih menjadi kebiasaan para santri untuk berebutan sandal kiai. Tapi bukan berebut mengambil dan dipakai. Mereka berebutan menata sandal Kiai.

Di berbagai kesempatan, entah pengajian kitab atau acara lainnya, ada saja santri yang adu cepat untuk menata sandal ataupun alas kaki kiai. Hal itu dilakukan sebagai wujud rasa hormat dan takzim pada guru. Bukan karena mengkultuskan atau menuhakan, namun berharap sang guru senang dan lahirlah doa kebaikannya untuk si santri yang mengharap doanya.

Para santri juga meyakini keberkahan dari menata sandal kiai. Kisah-kisah santri zaman dahulu yang mengabdikan diri pada guru sering menjadi motivator agar santri tetap menjaga tradisi unik itu.

2. Sisa Makanan atau Minuman Para Kiai


Perhatikan jika di pesantren ada acara yang dihadiri para kiai. Tunggu hingga usai acara dan kiai beranjak pergi. Maka tak menunggu lama, pasti ada beberapa santri yang merangsek dan memperebutkan sisa makanan atau minuman yang disuguhan di meja para kiai. Apalagi jika dalam acara itu hadir ulama atau kiai yang tergolong tua atau tokoh ulama.

Bukan karena rakus, bukan pula kelaparan. Buktinya, mereka yang kalah cepat mendapatkan sisa tersebut, masih bisa meminta bagian sedikit kepada rekannya yang lebih dulu mengambil. Sekali lagi, sisa makanan dan minuman orang saleh diyakini mendapat keberkahan.

Jangankan sisa makanan, bahkan dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah, juz VI, hal 18, diceritakan bahwa Imam Syafi’i meminum air rendaman baju Imam Ahmad yang masih terbilang muridnya untuk bertabaruk.

Sebaliknya, Imam Ahmad pun melakukan hal yang sama terhadap baju Imam Syafi’i yang disimpannya. Itu air basuhan baju, apalagi sisa makanan yang jelas masih lebih enak, tentu para santri tak menyia-nyiakannya. Hitung-hitung tabarukan sambil mengisi perut.

3. Puntung Rokok Kiai


Lupakan khilafiyah soal rokok dan hujatan sebagian orang terhadap ulama yang tergolong perokok. Bagaimanapun simpang siurnya bahaya rokok tak lepas dari kepentingan bisnis yang menyeret agama, yang pada akhirnya akan menyengsarakan petani tembakau lokal.

Bagi para santri yang memiliki kiai perokok, ada lagi sasaran benda yang jadi bahan rebutan. Yaitu sisa atau puntung rokok kiai. Sama seperti halnya sisa makanan dan minuman yang diharapkan jadi jalan berkah, dengan alasan yang sama para santri mengicar sisa rokok kiai.

Di pesantren yang pak kiainya merupakan perokok, ada saja cara para santri untuk mendapatkan sisa rokok kiai. Ada yang sambil membersihkan halaman ndalem sambil mencari kalau-kalau puntung rokok kiai dibuang di sudut halaman. Selain untuk ngalap berkah, lumayan buat mengurangi anggaran belanja.

4. Oleh-oleh dari Tamu/Wali Santri


Kalau yang ini masih berlaku di sebagian pesantren dan sebagian yang lain mulai menertibkan diri. Acara rebutan oleh-oleh dimulai sejak pertama kali tamu/wali santri beranjak pamitan. Begitu tamu pergi, maka… berrrrr… oleh-oleh yang dibawa segera saja jadi rebutan. Kadang makanan yang dibawa malah jadi berantakan.

Acara rebutan makanan/jajan dari tamu ini di sebagian pesantren sudah dikikis karena dianggap kurang sopan. Kalau ada oleh-oleh dari tamu atau wali santri, demi berbagi dan mengikis kebiasaan rebutan, maka makanan itu di bagi rata.

5. Kerak Nasi yang Direndam


Berebut kerak nasi sebenarnya tidak bisa dikatakan berebut karena terbatas pada anggota kelompok masak saja. Itu pun tidak semua anggota. Hanya satu dua orang yang memang hobi atau masih kurang kenyang saat makan. Tapi ini tetap tergolong hal unik yang diperebutkan santri.

Kerak nasi biasanya didapat dengan menanak menggunakan periuk dengan bahan bakar kayu. Ketika makan bersama, kerak yang ada di dasar periuk tidak ikut diambil tapi direndam dengan air minum baik air mentah maupun air matang. Air rendaman kerak nasi ini rasanya beda lho. Ada gurih-gurihnya gitu. Selesai makan, kerak nasi yang lebih lunak itu akan jadi makanan tambahan. Lebih sedap jika setelah air minumnya dibuang lalu kerak nasi direndam dengan kuah. Joos dah rasanya.

Nah, itulah benda-benda yang sering diperebutkan santri di pesantren. Yang manakah pernah Anda atau anak Anda alami?
BACA JUGA
loading...
iklan banner
LightBlog
Posting Komentar

Random