Cara  Melamar Mbak Pondok Yang Sesuai ajaran-santriyaicom

Setiap manusia akan melewati banyak fase-fase dalam kehidupannya, mulai dari sejak lahir, lalu menjadi anak-anak yang diasuh oleh kedua orangtuanya, hingga kemudian beranjak dewasa dan menikah lalu memiliki keluarga sendiri. Seperti juga kang santri yang ingin melamar mbak santri, mereka yang sudah lama mengabdi dan tinggal dipesantren serta sudah cukup umur sudah saatnya untuk boyong sekaligus memboyong santriwati kekampung halaman. Santriwan melamar santriwati merupakan hal yang biasa terjadi di pondok. Nah Bagi seseorang yang ingin melamar wanita baik itu wanita pondok atau cewek lainnya yang sesuai menurut islam bisa anda baca dibawah ini.

Berikut tata cara melamar wanita pondok atau cewek selainnya yang bukan latar belakang pondok pesantren yang sesuai dengan islam atau akhlak:

1. Menentukan calon yang akan dilamar

Sebelum terjun panjang melangkah untuk melamar seorang wanita pesantren atau wanita lain, tentukan terlebih dahulu cewek mana yang akan dilamar serta memastikan bahwa kita telah mengenalinya, agar proses melamar si calon lebih efisien dan berjalan dengan lancar. Dikarenakan melamar bukanlah perkara mudah yang bisa dengan apa adanya bukan dimulai dan dibatalkan. Proses melamara juga akan melibatkan keluarga dari kedua belah pihak.

2. Calon Pasangan Harus Single Dan Tidak Terikat

Pastikanlah wanita yang akan dilamar adalah perempuan yang belum menikah dan belum di khitbah oleh orang lain.

3. Meyakinkan Hati Untuk Melamar calon

Sertakan doa kepada Allah dalam langkah pilihan yang akan kita ambil terlebih masalah jodoh, yakinkanlah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan meminta petunjuk serta kemantapan hati, seperti sholat istikhoroh.

4. Memintalah Izin kepada wanita calon istri

Karena prosesi lamaran tidak kalah penting dengan prosesi pernikahan, maka ada baiknya sebelum melamar seorang perempuan kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu kita mintai pendapat sang perempuan, apakah ia bersedia dilamar atau tidak. Hal ini meminimalisir penolakan dari pihak perempuan karena hal tersebut bisa menyebabkan keretakan antara kedua belah keluarga.

Hal ini bisa dilakukan dengan meminta bantuan saudaranya atau dengan bertanya langsung kepada sang perempuan dengan didampingi oleh laki-laki yang merupakan saudaranya.

5. Meminta Izin pada Wali calon pasangan yang akan Dilamar

Jika biografi informai dan pertemua selesai dijalankan langkah berikutnya ialah dengan meminta izin dari wali perempuan untuk melamar secara resmi. Jika sudah diizinkan, barulah proses lamaran akan berlanjut pada proses pernikahan antara kedua calon.

Mengenai hal ini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

“Janganlah engkau menikahkah janda sampai engkau meminta pendapatnya dan janganlah engkau menikahkan perawan sampai engkau meminta izinnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?” Beliau pun bersabda, “Dia diam saja.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

(Baca juga: Hukum Shalat Berjamaah dengan Perempuan yang Bukan Muhrim; Balasan Menyakiti Hati Orang Lain)

6. Mengenali seluk beluk info si wanita

Perkara menikah bukanlah hal yang sederhana. Sepasang manusia yang disahkan dalam pernikahan akan menjadi sepasang suami istri yang hidup bersama selama sisa hidup sampai akhir hayatnya. Artinya sebelum melamar seseorang, harus dipikirkan secara matang karena nanti prosesnya tidak hanya berjalan selama sebulan atau dua bulan tapi selamanya di mana dalam waktu-waktu setelah pernikahan tersebut pasti akan ada banyak perselisihan dan bahkan mungkin pertengkaran. (Baca juga: Mahar Nikah Berupa Hafalan Al Quran; Bulan Baik Untuk Menikah Menurut Islam)

Untuk itu sangat penting dilakukan penggalian informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar mulai dari nama, kepribadian hingga latar belakang keluarganya. Hal ini dilakukan sebagai gambaran awal mengenai bagaimana calon pasangan yang akan dilamar nanti. (Baca juga: Keutamaan Menikahi Janda dalam Islam; Kewajiban Muslim Terhadap Muslim Lainnya)

Namun begitu, dalam menggal informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar ini juga harus tetap memperhatikan aturan-aturan dalam syariat Islam. Maka dalam hal ini dibutuhkan informasi tambahan untuk mengenali lebih jauh pasangan hidup nantinya. (Baca juga: Hukum Silaturahmi Menurut Islam; Hukum Menghina Allah Dalam Hati)

Maksud dari penggalian informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar ini adalah untuk mendapatkan informasi dasar saja, jika mungkin sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Informasi dasar itu cukup dengan cara meminta biodata calon pasangan dan foto (jika belum tahu orangnya), informasi keluarganya dan latar belakang dimana ia aktif.

Untuk mendapatkan informasi bisa dengan cara menanyakan secara langsung kepada orangnya, keluarga dan kerabatnya, atau bisa juga dari bantuan orang ketiga semisal dari ustadz atau ustadzahnya yang bisa menjaga amanah dan memang dilandasi dengan motif ingin membantu.

7. Melihat Perempuan yang akan dilamar

Islam memperbolehkan seorang laki-laki untuk melihat seorang perempuan yang akan dilamarnya dengan ketentuan-ketentuan yang sesuai syariat Islam. Hal ini bisa dilakukan dengan mengutus orang lain ataupun dengan melihat secara langsung perempuan yang akan dilamarnya. Untuk melihat perempuan yang akan dilamarnya, seorang lelaki harus didampingi oleh salah satu keluarga atau temannya dan si perempuannya juga harus didampingi oleh salah satu walinya. hal ini dilakukan untuk menghindari fitnah dan hal-hal buruk lainnya. Baca juga: Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya; Keutamaan Menjaga Wudhu yang Istimewa)

Untuk cara yang pertama, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ummu Sulaim kepada seorang perempuan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Lihatlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau mulutnya'” (HR. Ahmad).

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda untuk cara yang kedua, yakni:

“Jika salah seorang diantara kalian meminang seorang perempuan, maka jika ia bisa melihat dari perempuan itu apa yang dapat menyerunya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya. Jabir berkata ‘aku meminang seorang perempuan maka aku bersembunyi terhadapnya hingga aku melihat darinya apa yang mendorongku untuk menikahinya, kemudian aku menikahinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata bahwa Mughirah bin Syu’ban menuturkan, “Aku datang kepada Nabi SAW, lalu aku sebutkan seorang perempuan yang akan aku khitbah. Beliau bersabda, Pergilah dan lihatlah ia, maka sesungguhnya hal itu lebih pantas untuk melanggengkan (cinta) kalian berdua.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

8. Mendatangi kediaman perempuan

Jika seluruh proses di atas telah lancar dilakukan maka selanjutnya adalah mendatangi kediaman keluarga perempuan yang akan dilamar. Pihak keluarga besar sang perempuan akan menyambut kedatangan pihak keluarga besar dari sang laki-laki, dimana dalam proses ini keluarga laki-laki membawa buah tangan berupa seserahan yang diberikan kepada keluarga pihak perempuan atau biasanya seserahan ini bisa dijadikan sebagai bahan pelengkap saat hari pernikahan nanti.

9. Musyawarah Dan Menyampaikan Maksud

Setelah tamu (pihak laki-laki) disambut, mereka akan dipersilahkan duduk dengan posisi saling berhadapan antara keluarga laki-laki dan perempuan. Di sini akan ada prosesi pembukaan lamaran sekaligus musyawarah dimana pihak keluarga laki-laki dan perempuan saling menyahuti maksud dan tujuan serta membahas rencana untuk pernikahan.

Dalam rangkaian acara musyawarah ini juga disampaikan penerimaan dari pihak keluarga perempuan, apakan lamaran di terima atau tidak.

10. Penyerahan Hantaran Secara Simbolis

Hantaran yang dibawa oleh pihak keluarga laki-laki diberikan kepada keluarga perempuan dengan disaksikan seluruh keluarga secara simbolis.

11. Penutupan Acara Lamaran

Jika acara dan pembahasan dirasa cukup maka selanjutnya adalah penutupan.

12. Nikmatilah  Hidangan Dan Saling Bercengkrama

Setelah penutupan, seluruh keluarga menikmati hidangan yang disiapkan oleh pihak keluarga perempuan dan juga saling bercengkrama supaya saling kenal antara keluarga satu dengan lainnya. Jikapun ada pembahasan rencana pernikahan yang belum selesai dibicarakan, hal tersebut bisa dibicarakan dilain kesempatan dengan suasanya yang lebih santai.

Demikianlah penjelasan mengenai tata Cara Melamar Wanita Menurut Islam semoga artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan dan keimanan bagi kita semua. Amin.

12 Cara Melamar Mbak Pondok Yang Sesuai Dengan Akhlak

Cara  Melamar Mbak Pondok Yang Sesuai ajaran-santriyaicom

Setiap manusia akan melewati banyak fase-fase dalam kehidupannya, mulai dari sejak lahir, lalu menjadi anak-anak yang diasuh oleh kedua orangtuanya, hingga kemudian beranjak dewasa dan menikah lalu memiliki keluarga sendiri. Seperti juga kang santri yang ingin melamar mbak santri, mereka yang sudah lama mengabdi dan tinggal dipesantren serta sudah cukup umur sudah saatnya untuk boyong sekaligus memboyong santriwati kekampung halaman. Santriwan melamar santriwati merupakan hal yang biasa terjadi di pondok. Nah Bagi seseorang yang ingin melamar wanita baik itu wanita pondok atau cewek lainnya yang sesuai menurut islam bisa anda baca dibawah ini.

Berikut tata cara melamar wanita pondok atau cewek selainnya yang bukan latar belakang pondok pesantren yang sesuai dengan islam atau akhlak:

1. Menentukan calon yang akan dilamar

Sebelum terjun panjang melangkah untuk melamar seorang wanita pesantren atau wanita lain, tentukan terlebih dahulu cewek mana yang akan dilamar serta memastikan bahwa kita telah mengenalinya, agar proses melamar si calon lebih efisien dan berjalan dengan lancar. Dikarenakan melamar bukanlah perkara mudah yang bisa dengan apa adanya bukan dimulai dan dibatalkan. Proses melamara juga akan melibatkan keluarga dari kedua belah pihak.

2. Calon Pasangan Harus Single Dan Tidak Terikat

Pastikanlah wanita yang akan dilamar adalah perempuan yang belum menikah dan belum di khitbah oleh orang lain.

3. Meyakinkan Hati Untuk Melamar calon

Sertakan doa kepada Allah dalam langkah pilihan yang akan kita ambil terlebih masalah jodoh, yakinkanlah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan meminta petunjuk serta kemantapan hati, seperti sholat istikhoroh.

4. Memintalah Izin kepada wanita calon istri

Karena prosesi lamaran tidak kalah penting dengan prosesi pernikahan, maka ada baiknya sebelum melamar seorang perempuan kepada kedua orangtuanya terlebih dahulu kita mintai pendapat sang perempuan, apakah ia bersedia dilamar atau tidak. Hal ini meminimalisir penolakan dari pihak perempuan karena hal tersebut bisa menyebabkan keretakan antara kedua belah keluarga.

Hal ini bisa dilakukan dengan meminta bantuan saudaranya atau dengan bertanya langsung kepada sang perempuan dengan didampingi oleh laki-laki yang merupakan saudaranya.

5. Meminta Izin pada Wali calon pasangan yang akan Dilamar

Jika biografi informai dan pertemua selesai dijalankan langkah berikutnya ialah dengan meminta izin dari wali perempuan untuk melamar secara resmi. Jika sudah diizinkan, barulah proses lamaran akan berlanjut pada proses pernikahan antara kedua calon.

Mengenai hal ini Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda:

“Janganlah engkau menikahkah janda sampai engkau meminta pendapatnya dan janganlah engkau menikahkan perawan sampai engkau meminta izinnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana kita tahu dia mengizinkan?” Beliau pun bersabda, “Dia diam saja.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

(Baca juga: Hukum Shalat Berjamaah dengan Perempuan yang Bukan Muhrim; Balasan Menyakiti Hati Orang Lain)

6. Mengenali seluk beluk info si wanita

Perkara menikah bukanlah hal yang sederhana. Sepasang manusia yang disahkan dalam pernikahan akan menjadi sepasang suami istri yang hidup bersama selama sisa hidup sampai akhir hayatnya. Artinya sebelum melamar seseorang, harus dipikirkan secara matang karena nanti prosesnya tidak hanya berjalan selama sebulan atau dua bulan tapi selamanya di mana dalam waktu-waktu setelah pernikahan tersebut pasti akan ada banyak perselisihan dan bahkan mungkin pertengkaran. (Baca juga: Mahar Nikah Berupa Hafalan Al Quran; Bulan Baik Untuk Menikah Menurut Islam)

Untuk itu sangat penting dilakukan penggalian informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar mulai dari nama, kepribadian hingga latar belakang keluarganya. Hal ini dilakukan sebagai gambaran awal mengenai bagaimana calon pasangan yang akan dilamar nanti. (Baca juga: Keutamaan Menikahi Janda dalam Islam; Kewajiban Muslim Terhadap Muslim Lainnya)

Namun begitu, dalam menggal informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar ini juga harus tetap memperhatikan aturan-aturan dalam syariat Islam. Maka dalam hal ini dibutuhkan informasi tambahan untuk mengenali lebih jauh pasangan hidup nantinya. (Baca juga: Hukum Silaturahmi Menurut Islam; Hukum Menghina Allah Dalam Hati)

Maksud dari penggalian informasi mengenai calon pasangan yang akan dilamar ini adalah untuk mendapatkan informasi dasar saja, jika mungkin sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Informasi dasar itu cukup dengan cara meminta biodata calon pasangan dan foto (jika belum tahu orangnya), informasi keluarganya dan latar belakang dimana ia aktif.

Untuk mendapatkan informasi bisa dengan cara menanyakan secara langsung kepada orangnya, keluarga dan kerabatnya, atau bisa juga dari bantuan orang ketiga semisal dari ustadz atau ustadzahnya yang bisa menjaga amanah dan memang dilandasi dengan motif ingin membantu.

7. Melihat Perempuan yang akan dilamar

Islam memperbolehkan seorang laki-laki untuk melihat seorang perempuan yang akan dilamarnya dengan ketentuan-ketentuan yang sesuai syariat Islam. Hal ini bisa dilakukan dengan mengutus orang lain ataupun dengan melihat secara langsung perempuan yang akan dilamarnya. Untuk melihat perempuan yang akan dilamarnya, seorang lelaki harus didampingi oleh salah satu keluarga atau temannya dan si perempuannya juga harus didampingi oleh salah satu walinya. hal ini dilakukan untuk menghindari fitnah dan hal-hal buruk lainnya. Baca juga: Hak Muslim Terhadap Muslim Lainnya; Keutamaan Menjaga Wudhu yang Istimewa)

Untuk cara yang pertama, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ummu Sulaim kepada seorang perempuan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ummu Sulaim, ‘Lihatlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau mulutnya'” (HR. Ahmad).

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda untuk cara yang kedua, yakni:

“Jika salah seorang diantara kalian meminang seorang perempuan, maka jika ia bisa melihat dari perempuan itu apa yang dapat menyerunya untuk menikahinya, maka hendaklah ia melakukannya. Jabir berkata ‘aku meminang seorang perempuan maka aku bersembunyi terhadapnya hingga aku melihat darinya apa yang mendorongku untuk menikahinya, kemudian aku menikahinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Bakr bin Abdullah al-Muzani berkata bahwa Mughirah bin Syu’ban menuturkan, “Aku datang kepada Nabi SAW, lalu aku sebutkan seorang perempuan yang akan aku khitbah. Beliau bersabda, Pergilah dan lihatlah ia, maka sesungguhnya hal itu lebih pantas untuk melanggengkan (cinta) kalian berdua.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

8. Mendatangi kediaman perempuan

Jika seluruh proses di atas telah lancar dilakukan maka selanjutnya adalah mendatangi kediaman keluarga perempuan yang akan dilamar. Pihak keluarga besar sang perempuan akan menyambut kedatangan pihak keluarga besar dari sang laki-laki, dimana dalam proses ini keluarga laki-laki membawa buah tangan berupa seserahan yang diberikan kepada keluarga pihak perempuan atau biasanya seserahan ini bisa dijadikan sebagai bahan pelengkap saat hari pernikahan nanti.

9. Musyawarah Dan Menyampaikan Maksud

Setelah tamu (pihak laki-laki) disambut, mereka akan dipersilahkan duduk dengan posisi saling berhadapan antara keluarga laki-laki dan perempuan. Di sini akan ada prosesi pembukaan lamaran sekaligus musyawarah dimana pihak keluarga laki-laki dan perempuan saling menyahuti maksud dan tujuan serta membahas rencana untuk pernikahan.

Dalam rangkaian acara musyawarah ini juga disampaikan penerimaan dari pihak keluarga perempuan, apakan lamaran di terima atau tidak.

10. Penyerahan Hantaran Secara Simbolis

Hantaran yang dibawa oleh pihak keluarga laki-laki diberikan kepada keluarga perempuan dengan disaksikan seluruh keluarga secara simbolis.

11. Penutupan Acara Lamaran

Jika acara dan pembahasan dirasa cukup maka selanjutnya adalah penutupan.

12. Nikmatilah  Hidangan Dan Saling Bercengkrama

Setelah penutupan, seluruh keluarga menikmati hidangan yang disiapkan oleh pihak keluarga perempuan dan juga saling bercengkrama supaya saling kenal antara keluarga satu dengan lainnya. Jikapun ada pembahasan rencana pernikahan yang belum selesai dibicarakan, hal tersebut bisa dibicarakan dilain kesempatan dengan suasanya yang lebih santai.

Demikianlah penjelasan mengenai tata Cara Melamar Wanita Menurut Islam semoga artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan dan keimanan bagi kita semua. Amin.
BACA JUGA
loading...
iklan banner
LightBlog
Posting Komentar

Random