JAJAL IKLAN
Alasan Kenapa Anak Berhenti Mondok Dengan Tiba-Tiba

Bila anak tiba-tiba minta pulang dari pondok, jangan dulu kecewa. Bisa jadi dia punya alasan tertentu. Nah, kenali 5 alasan yang biasa menjadi penyebab anak berhenti mondok dari pesantren. Alasan dibawah ini diambil dari pengalaman santri baru yang biasanya sering menjadi penyebab berhenti mondok atau boyong keluar pondok untuk kembali kerumah. Berikut Alasan Kenapa Anak Berhenti Mondok Dengan Tiba-Tiba atau tidak betah di pondok pesantren.

1. SAKIT
Ini merupakan penyebab yang kemungkinan anak minta boyong dari pesantren. Bila biasanya dia sangat bahagia dipesantren, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dia minta dijemput pulang dari pondok. Bisa jadi karena dia sedang tak enak badan. Biarkan saja untuk sementara dan jenguk dia serta kalu tidak memungkinan izinkanlah untuk beristirahat di rumah. Begitu tubuhnya sudah mulai enakan, perasaan anak pasti juga akan membaik dan ia pun akan kembali bersemangat belajar di pondok pesantren. Atau biasanya mereka sering terkena penyakit kulit atau gudik.

2. PUTUSNYA PERSAHABATAN/ PERKELAHIAN SALING MENGEJEK DENGAN TEMAN
Anak-anak santri biasanya akan merasa lebih baik jika berada dalam satu grup dengan teman-temannya. Mereka akan bermain, duduk dan makan siang bersama-sama, melakukan banyak hal bersama. Jadi, tak heran jika dalam banyak hal, mereka kelihatan tak bisa dipisahkan. Namun, "persahabatan" mereka ini tak selamanya langgeng. Ada kalanya, ada satu anak yang harus keluar dari grup tersebut. Anak santri yang 'tersingkir" ini biasanya akan duduk sendirian di pojok, sementara teman-teman lainnya melakukan permainan lainnya tanpa mengikutsertakan dirinya. Tentu ini akan menyakitkan hati seorang anak. Tak heran bila ia akhirnya tak lagi bersemangat belajar masuk kelas madrasah pesantren.
Sebagai orang tua, ada baiknya meminta bantuan pengurus pesantren untuk membujuk si anak agar mau kembali ke pondok. Gurulah yang bisa menjembatani kembali persahabatan si anak santri dengan teman-teman segothakan/sepondok kembali.

3. MERASA TAK MAMPU
Entah karena gugup melakukan sesuatu atau karena kapasitas mentalnya yang belum cukup berkembang untuk menerima pembelajaran yang disodorkan padanya, anak akhirnya butuh waktu lebih lama dalam menangkap apa-apa yang diberikan ustad/ustadzah pondok pesantren. Akibatnya, bias-bisa ia menolak semua tugas yang diberikan padanya dan ujung-ujungnya menolak pergi ke pondok lagi juga.
Cobalah minta bantuan pengurus pesantren. Seorang pengurus/ustad yang mengetahui dengan persis apa yang terjadi (atau seorang guru yang bertindak sebagai seorang ibu), akan berusaha mengatasi situasi ini sampai anak mampu menerima pembelajaran yang diberikan padanya. Banyak cara yang bsia dilakukan agar si anak santri merasa senang dan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukan tugas-tugas lainnya.

4.BOSAN MONDOK
Rasa bosan pada anak yangndi pesantren bisa terjadi karena banyak sebab, salah satunya karena tak ada yang menarik di pesantren. Pesantren juga turut berperan. Anak tidak cukup diberi pengalaman yang menarik. Misalnya, keterampilan menempel dan menggunting hanya dilakukan dengan kertas dan gunting, tanpa lem hanya karena pihak sekolah takut kotor. Permainan yang dilakukan juga hanya itu-itu saja. Bisa dibayangkan jika anak pun lama-lama akan bosan atau hal lainnya yang dipelajari di pondok pesantren.

5. TAK MAU LEPAS DARI KELUARGA DIRUMAH
Ini persoalan klasik yang sering terjadi dan kerap terjadi pada ibu yang tinggal di rumah ataupun bekerja di rumah. Lain halnya jika si ibu secara teratur pergi bekerja, si kecil akan segera menyadari bahwa permohonannya agar si ibu berada di rumah tidak berhasil. Jika si ibu di rumah, dia seringkali kalah dalam melawan "kemauan" anaknya ini. Si ibu tidak berhasil meyakinkan si kecil bahwa pergi ke sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan. Si kecil tetap saja ingin selalu bersama ibunya.
Hanya konsistensilah yang dapat mengatasi hal ini. Jangan biarkan diri Anda dimanipulasi oleh si kecil, entah cuma sekali maupun untuk selanjutnya. Si kecil akan melakukan "strategi" baru begitu Anda membawanya kembali ke sekolah setelah beberapa hari "bolos." Sebelum Anda merasa menjadi ibu yang kejam gara-gara si kecil selalu menangis begitu Anda tinggal pergi, Anda bisa minta bantuan suami atau kerabat untuk mengantar anak ke sekolah

5 Alasan Kenapa Anak Berhenti Mondok Dengan Tiba-Tiba.Pengalaman Sering Dari Santri Baru

Alasan Kenapa Anak Berhenti Mondok Dengan Tiba-Tiba

Bila anak tiba-tiba minta pulang dari pondok, jangan dulu kecewa. Bisa jadi dia punya alasan tertentu. Nah, kenali 5 alasan yang biasa menjadi penyebab anak berhenti mondok dari pesantren. Alasan dibawah ini diambil dari pengalaman santri baru yang biasanya sering menjadi penyebab berhenti mondok atau boyong keluar pondok untuk kembali kerumah. Berikut Alasan Kenapa Anak Berhenti Mondok Dengan Tiba-Tiba atau tidak betah di pondok pesantren.

1. SAKIT
Ini merupakan penyebab yang kemungkinan anak minta boyong dari pesantren. Bila biasanya dia sangat bahagia dipesantren, tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dia minta dijemput pulang dari pondok. Bisa jadi karena dia sedang tak enak badan. Biarkan saja untuk sementara dan jenguk dia serta kalu tidak memungkinan izinkanlah untuk beristirahat di rumah. Begitu tubuhnya sudah mulai enakan, perasaan anak pasti juga akan membaik dan ia pun akan kembali bersemangat belajar di pondok pesantren. Atau biasanya mereka sering terkena penyakit kulit atau gudik.

2. PUTUSNYA PERSAHABATAN/ PERKELAHIAN SALING MENGEJEK DENGAN TEMAN
Anak-anak santri biasanya akan merasa lebih baik jika berada dalam satu grup dengan teman-temannya. Mereka akan bermain, duduk dan makan siang bersama-sama, melakukan banyak hal bersama. Jadi, tak heran jika dalam banyak hal, mereka kelihatan tak bisa dipisahkan. Namun, "persahabatan" mereka ini tak selamanya langgeng. Ada kalanya, ada satu anak yang harus keluar dari grup tersebut. Anak santri yang 'tersingkir" ini biasanya akan duduk sendirian di pojok, sementara teman-teman lainnya melakukan permainan lainnya tanpa mengikutsertakan dirinya. Tentu ini akan menyakitkan hati seorang anak. Tak heran bila ia akhirnya tak lagi bersemangat belajar masuk kelas madrasah pesantren.
Sebagai orang tua, ada baiknya meminta bantuan pengurus pesantren untuk membujuk si anak agar mau kembali ke pondok. Gurulah yang bisa menjembatani kembali persahabatan si anak santri dengan teman-teman segothakan/sepondok kembali.

3. MERASA TAK MAMPU
Entah karena gugup melakukan sesuatu atau karena kapasitas mentalnya yang belum cukup berkembang untuk menerima pembelajaran yang disodorkan padanya, anak akhirnya butuh waktu lebih lama dalam menangkap apa-apa yang diberikan ustad/ustadzah pondok pesantren. Akibatnya, bias-bisa ia menolak semua tugas yang diberikan padanya dan ujung-ujungnya menolak pergi ke pondok lagi juga.
Cobalah minta bantuan pengurus pesantren. Seorang pengurus/ustad yang mengetahui dengan persis apa yang terjadi (atau seorang guru yang bertindak sebagai seorang ibu), akan berusaha mengatasi situasi ini sampai anak mampu menerima pembelajaran yang diberikan padanya. Banyak cara yang bsia dilakukan agar si anak santri merasa senang dan mempunyai rasa percaya diri untuk melakukan tugas-tugas lainnya.

4.BOSAN MONDOK
Rasa bosan pada anak yangndi pesantren bisa terjadi karena banyak sebab, salah satunya karena tak ada yang menarik di pesantren. Pesantren juga turut berperan. Anak tidak cukup diberi pengalaman yang menarik. Misalnya, keterampilan menempel dan menggunting hanya dilakukan dengan kertas dan gunting, tanpa lem hanya karena pihak sekolah takut kotor. Permainan yang dilakukan juga hanya itu-itu saja. Bisa dibayangkan jika anak pun lama-lama akan bosan atau hal lainnya yang dipelajari di pondok pesantren.

5. TAK MAU LEPAS DARI KELUARGA DIRUMAH
Ini persoalan klasik yang sering terjadi dan kerap terjadi pada ibu yang tinggal di rumah ataupun bekerja di rumah. Lain halnya jika si ibu secara teratur pergi bekerja, si kecil akan segera menyadari bahwa permohonannya agar si ibu berada di rumah tidak berhasil. Jika si ibu di rumah, dia seringkali kalah dalam melawan "kemauan" anaknya ini. Si ibu tidak berhasil meyakinkan si kecil bahwa pergi ke sekolah adalah sesuatu yang menyenangkan. Si kecil tetap saja ingin selalu bersama ibunya.
Hanya konsistensilah yang dapat mengatasi hal ini. Jangan biarkan diri Anda dimanipulasi oleh si kecil, entah cuma sekali maupun untuk selanjutnya. Si kecil akan melakukan "strategi" baru begitu Anda membawanya kembali ke sekolah setelah beberapa hari "bolos." Sebelum Anda merasa menjadi ibu yang kejam gara-gara si kecil selalu menangis begitu Anda tinggal pergi, Anda bisa minta bantuan suami atau kerabat untuk mengantar anak ke sekolah
Luangkan Waktu Anda Untuk Membaca Artikel Dibawah Ini PENTING
Loading...
Post a Comment

Random